KETIK, SURABAYA – Langkah konkret menuju swasembada gula nasional terus digenjot dari Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, memimpin langsung aksi tanam tebu perdana dalam program Bongkar Ratoon Serentak yang digelar di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu, 23 Mei 2026.

Aksi ini tidak hanya dilakukan di Kediri, melainkan digerakkan serentak di 11 kabupaten yang tersebar di 15 titik tanam di Jatim. Didampingi Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara Mahmudi, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa beserta Kepala Perangkat Daerah Pemprov Jatim serta Bupati / Wakil Bupati lainnya secara online. Kegiatan kali ini menjadi wujud nyata upaya mewujudkan swasembada gula nasional. 

Sebab tak hanya melaksanakan bongkar ratoon dan tanam tebu perdana, namun luas tanam tebu Jatim juga diperluas. Tahun 2026, Jawa Timur mendapatkan target terbesar dengan total 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 Kabupaten di 15 titik tanam. Dari sebelas daerah itu, yang areanya paling luas itu di Kabupaten Kediri, maka hari ini dipusatkan di Desa Ngletih bersama Kelompok Tani Tebu Semoga Jaya. Kita nandur tadi dengan doa, Insya Allah tidak hanya produktif tapi juga berkah,” kata Gubernur Khofifah.

“Ada niat mulia untuk bisa mencapai swasembada gula. Tahun ini targetnya adalah swasembada gula konsumsi, tahun depan diharapkan swasembada gula konsumsi maupun industri. Salah satu yang diharapkan produktivitas dan luas lahan di Jawa Timur ini,” imbuhnya.

Baca Juga:
Khofifah Tinjau Cek Kesehatan Gratis untuk Ribuan Driver Gojek di Surabaya

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah menekankan pasca panen tebu, proses penggilingan ini harus menjadi bagian dari ekosistem. Bukan tanpa alasan, pasca penggilingan petani tidak memiliki kepastian hasil panen, ketika pelelangan terhambat tidak adanya penawaran.

“Bagaimana pasca penggilingan, petani tebu itu berkepastian bahwa hasil panen gulanya itu terserap oleh pasar dengan harga komersial,” terangnya. 

“Waktu itu saya keliling, apa penyebabnya. Rupanya kebanjiran gula rafinasi, sehingga gula dari Jatim tidak bisa keluar Jatim. Artinya bahwa target swasembada gula konsumsi ini harus satu paket,” ungkapnya.

“Kebijakan Pemerintah saat ini bahwa untuk impor gula rafinasi sudah dikurangi, dan ini diserahkan kepada BUMN sehingga monitoringnya, controllingnya, bisa lebih mudah. Ini untuk memastikan bahwa yang di impor gula rafinasi ini untuk gula industri jangan sampai  merembes ke pasar. Kalau gula rafinasi merembes ke pasar sangat mengganggu gula petani tebu,” jelasnya. 

Baca Juga:
Kejar Swasembada Gula 2026, Kementan Targetkan Bongkar Ratoon Tebu 97 Hektar

Untuk itu, dirinya mengajak para petani tebu dan pemangku kepentingan untuk terus bersinergi, berkolaborasi dan tetap diberseiringi ikhtiar dhahiran wa batinan.

“Oleh karena itu tetap diberseiringi ikhtiar dhahiran wa batinan. Panjenengan menanam, masuknya ke pabrik gula, setelah proses penggilingan gula akan dilelang, kita berharap akan disiapkan ekosistem yang betul-betul terserap oleh market,” katanya.

Gubernur Khofifah juga menekankan pentingnya percepatan program yang sebelumnya telah dicanangkan pemerintah. Ia juga menegaskan keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengawal program tersebut secara menyeluruh.

“Saya ingin menyampaikan keseriusan Jawa Timur bahwa di setiap pertemuan ini Gubernur,  Wagub , Sekda itu satu paket hadir. Artinya kami punya komitmen yang kuat,” lanjutnya.

Pada tahun 2026, Kementan RI menargetkan pengembangan lahan tebu nasional seluas 97.970 hektare. Dari jumlah tersebut, Jatim memikul tanggung jawab terbesar dengan target 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

Kepercayaan ini dinilai wajar mengingat Jatim adalah lumbung gula nasional yang menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Pada tahun 2025 lalu, produksi gula kristal putih Jatim bahkan mencetak rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir, yakni menembus 1.343.995 ton.

“Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur dipercaya sebagai garda terdepan dalam penguatan industri gula nasional. InsyaAllah, amanah ini akan kita jawab dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja kolaboratif,” imbuhnya

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor hulu dan hilir dalam mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing industri gula.

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah menyebut Kabupaten Kediri merupakan salah satu daerah dengan potensi besar yang memiliki luas lahan tebu sekitar 25 ribu hektare dan didukung tiga pabrik gula.

“Ini merupakan kekuatan strategis yang harus terus kita dorong agar Kediri semakin menjadi pusat pertumbuhan industri gula nasional,” katanya.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus memberikan dukungan melalui berbagai program, mulai dari bantuan alat dan mesin pertanian, penguatan irigasi, hingga mitigasi perubahan iklim.

“Kita menghadapi tantangan yang tidak ringan, mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga persaingan global. Karena itu, kunci keberhasilan kita adalah inovasi dan kolaborasi,” tegasnya.

Ia berharap, tanam tebu perdana ini mampu menjadi pemicu semangat bagi seluruh daerah sentra tebu di Jawa Timur.

“Saya berharap momentum ini menjadi pengungkit semangat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Mari kita jadikan sektor pergulaan sebagai penggerak ekonomi rakyat dan penguat kesejahteraan petani Jawa Timur,” pungkasnya.

Di sisi lain, Plt Dirjen Perkebunan Kementan Ali Jamil mengatakan tanam perdana program bongkar ratoon tebu dilaksanakan serentak di Kabupaten Kota Jawa Timur secara luring maupun daring. 

“Bersama para petani kita lakukan tanam perdana untuk bongkar ratoon. Kediri ini punya prestasi besar mari kita dorong supaya bisa mewujudkan swasembada gula,” Ali Jamil. 

“Kinerja Jawa Timur ini sangat keren, produktivitas pasti tinggi untuk komoditas beras gula bahkan jagung. Atas dukungan Ibu Gubernur dan Dirut SGN, harapan kita supaya program ini bisa sukses,” imbuhnya.

Sementara itu, Dirut SGN Mahmudi mengatakan program bongkar ratoon adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas gula konsumsi baik secara regional maupun nasional.

“Ini adalah ikhtiar kita semua supaya apa yang ditargetkan khususnya swasembada gula pada tahun 2026 ini bisa tercapai,” kata Mahmudi.

“Dalam pelaksanaan tanam perdana ini, ada 11 Kabupaten Kota yang mengikuti, lokasinya ada di 15 titik tanam,” tutupnya.

Sebagai informasi, Gubernur Khofifah berkesempatan menyerahkan bantuan alat dan mesin (Alsintan) kepada kelompok tani. Bantuan tersebut meliputi 2 pompa air untuk komoditas tebu, 1 paket alat dan bahan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, 1 rice transplanter, 1 handtractor rotary dan 1 cultivator.(*)