KETIK, MALANG – Warga Kota Malang mengeluhkan paparan asap akibat kebakaran di TPA Supit Urang yang terjadi pada Rabu, 21 Oktober 2026 siang. Kepulan asap dari lokasi kebakaran tersebut menyebar hingga ke sejumlah wilayah.

Sejumlah warganet meluapkan keluhannya di platform media sosial Instagram. Selain kepulan asap hitam yang membumbung, bau menyengat juga tercium hingga ke kawasan yang cukup jauh dari lokasi TPA Supit Urang.

Pemilik akun @latifah di kolom komentar @info_malang melaporkan bahwa asap pekat bahkan menjangkau kawasan Dinoyo hingga Merjosari.

“Dinoyo ke Merjosari pekat sampek pedih sampek masuk rumah bau, masker gak mempan,” ungkapnya.

"Siang tadi ada kebakaran di TPA Supit Urang, asapnya item tebel banget sampek daerah kantorku di Pandanlandung langit jadi orange karena tebalnya asap," tulis @fride_frxxxx.

Baca Juga:
Viral Gambar Banner Protes Tergantung di Tower Kampus, Humas UIN Malang Pastikan Buatan AI

Wilayah Tunggulwulung dan Galunggung pun ikut terdampak.

"Di Galunggung, aku njemur baskom, baskomku kenek debu sing kelet (terkena debu yang lengket)," tulis akun @windacxxxxxxxx.

Bau terbakar bahkan dirasakan oleh Ais, salah satu warga yang tinggal di Jalan Wijaya Kusuma, Lowokwaru. Ia mengaku sempat mencium bau mirip ban terbakar meski tidak terlalu pekat.

"Sempat nyium bau ban terbakar tapi bukan yang sangit banget. Cuma samar-samar kalau ada di luar ruangan," ujarnya. 

Baca Juga:
Kebakaran Gunung Sampah di Malang Capai 1 Hektare, 8 Unit Damkar Dikerahkan

Kepala Satpol PP Kota Malang, Prayitno menjelaskan luas area TPA Supit Urang yang terbakar mencapai sekitar 1 hektare. Diduga terdapat orang membakar sampah di wilayah selatan sehingga percikan api tertiup hingga ke TPA Supit Urang. 

"Penyebabnya di wilayah selatan ada orang membakar sampah sehingga percikannya karena tiupan angin lari ke utara," ujar Prayitno. 

Upaya pemadaman api terus dilakukan oleh petugas dari Damkar dan BPBD Kota Malang. Kondisi angin kencang sempat menghambat proses pembakaran. 

"Dari sisi selatan titik api pertama teridentifikasi. Anginnya ke utara. Kendalanya angin kencang kemudian karena kemarau, rumput di sini sangat mudah menjadi bara api," ungkapnya. (*)