KETIK, BANDUNG – Perekonomian yang tetap tumbuh belum berarti investor bisa mengabaikan risiko. Di tengah ekonomi yang dinilai masih resilien, perubahan suku bunga global, kondisi pasar serta persepsi investor terhadap kebijakan dan tata kelola tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menyusun strategi investasi jangka panjang.
Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dr. Katarina Setiawan menyampaikan perspektif tersebut dalam kelas “Reading the Market, Building the Future” pada Wealth Wisdom 2026 di Bandung. Dalam sesi tersebut, Katarina mengajak peserta membaca kondisi ekonomi melalui tiga perspektif, yakni good, bad, dan ugly.
Menurut Katarina, sisi good tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap resilien, inflasi yang terkendali serta kondisi rupiah yang menunjukkan perbaikan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari fondasi yang dapat diperhatikan investor dalam membaca perkembangan ekonomi dan pasar.
Namun, di sisi lain terdapat sejumlah faktor yang perlu dicermati. Perubahan dan arah suku bunga global menjadi salah satu tantangan yang dapat memengaruhi dinamika pasar serta keputusan investasi.
Katarina juga menyoroti sisi ugly, yakni bagaimana persepsi dan tingkat kepercayaan investor terhadap kebijakan maupun tata kelola dapat memengaruhi kondisi pasar. Karena itu, perkembangan ekonomi tidak cukup dibaca hanya dari indikator pertumbuhan, tetapi juga dari berbagai faktor yang dapat mengubah sentimen dan risiko investasi.
Baca Juga:
Wealth Wisdom 2026 Bandung Dorong Nasabah Siapkan Kekayaan untuk Generasi Berikutnya“Ekonomi tetap resilien, tetapi ketidakpastian masih ada. Membangun wealth membutuhkan strategi yang resilient,” ujar Katarina.
Perspektif tersebut menjadi relevan dalam konteks Wealth Wisdom 2026 yang mengusung tema “Finding Balance, Building Resilience” dengan semangat “Growing Together Through Changes”. Memasuki penyelenggaraan ke-12, kegiatan Permata Bank itu memperluas pembahasan mengenai pengelolaan kekayaan, dari pertumbuhan aset hingga kemampuan menghadapi perubahan.
Dalam kelas yang sama, investor saham Lo Kheng Hong menekankan pentingnya kemampuan membaca dan berpikir sebelum mengambil keputusan investasi. Ia mengajak investor memahami laporan keuangan dan bisnis yang berada di balik sebuah perusahaan, sekaligus melihat nilai dalam perspektif jangka panjang.
Pembahasan mengenai pasar tersebut menjadi salah satu dari tiga perspektif yang dihadirkan dalam Wealth Wisdom 2026 di Bandung. Dua kelas lainnya membahas kesehatan serta keberlanjutan bisnis dan legacy.
Baca Juga:
Dukung Investasi, Tokoh Masyarakat Beutong Ateuh Sampaikan Aspirasi ke Komisi III DPR RIKetua Umum APINDO sekaligus CEO Sintesa Group Shinta Kamdani, melalui kelas “Beyond Wealth: A Legacy That Lasts”, menyoroti bahwa kekayaan tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga nilai yang dibangun dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Sementara pada kelas kesehatan, dr. Gia Pratama dan Dr. dr. Faris Basalamah, SpJP(K), membahas kesehatan sebagai bagian penting dari kemampuan seseorang untuk tetap produktif dan menikmati hasil kekayaan yang telah dibangun.
Tiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan kekayaan tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar aset yang berhasil dikumpulkan. Kemampuan membaca perubahan ekonomi, menjaga kesehatan serta menyiapkan keberlanjutan nilai dan bisnis menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan dalam jangka panjang.(*)