KETIK, BOGOR – Banyak orang mengonsumsi buah hanya untuk memperoleh vitamin atau antioksidan. Padahal, manfaat terbesar buah justru berasal dari kandungan serat alaminya yang berperan penting menjaga kesehatan usus dan mendukung berbagai fungsi tubuh.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa buah sebaiknya dikonsumsi dalam bentuk utuh agar kandungan seratnya tetap terjaga. Serat tersebut menjadi sumber makanan bagi bakteri baik yang hidup di usus besar atau mikrobiota usus.
Menurutnya, mikrobiota usus memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar membantu proses pencernaan. Mikroorganisme tersebut ikut menghasilkan berbagai senyawa penting yang mendukung kesehatan tubuh.
“Kalau konsumsi buah, sebaiknya buah yang utuh karena buah utuh mengandung serat. Dua-duanya, baik buah mengkal maupun matang, tetap jauh lebih baik daripada ngemil junk food,” ujarnya dalam program Perspektif yang tayang di kanal YouTube IPB TV.
Prof Antonius menjelaskan bahwa bakteri baik di usus memanfaatkan serat sebagai sumber nutrisi. Aktivitas mikrobiota tersebut membantu menjaga keseimbangan ekosistem usus sekaligus menghasilkan berbagai senyawa yang berkontribusi terhadap kesehatan.
Baca Juga:
Buah Mengkal atau Buah Matang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?Selain berperan dalam menjaga sistem pencernaan, mikrobiota usus juga mendukung sistem imun. Bahkan, aktivitas bakteri baik tersebut ikut memengaruhi pembentukan vitamin dan hormon yang berhubungan dengan berbagai fungsi tubuh, termasuk kesehatan mental.
Karena itu, mengonsumsi buah utuh secara rutin menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Manfaat ini sulit diperoleh apabila pola makan sehari-hari lebih banyak diisi makanan olahan atau camilan tinggi gula, garam, dan lemak.
Prof Antonius menegaskan bahwa baik buah mengkal maupun buah matang tetap merupakan pilihan yang lebih sehat dibandingkan junk food. Selama dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, keduanya sama-sama mampu memberikan asupan vitamin, mineral, antioksidan, dan serat yang dibutuhkan tubuh.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada rasa manis buah. Perbedaan tingkat kematangan memang memengaruhi kandungan gula karena selama proses pematangan pati kompleks berubah menjadi glukosa, fruktosa, dan sukrosa sehingga buah matang terasa lebih manis.
Baca Juga:
Buah Matang Lebih Manis karena Kandungan Gulanya Naik, Ini Penjelasan IlmiahnyaDalam praktiknya, pilihan antara buah mengkal atau buah matang sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing. Bagi orang yang membatasi asupan gula, buah mengkal dapat menjadi alternatif, tetapi porsi konsumsi tetap menjadi faktor yang lebih penting untuk diperhatikan. (*)