KETIK, MALANG – Langkah adaptif dilakukan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) C Autis, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang dalam momen Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Tidak hanya sekadar mengenalkan ruang kelas, sekolah yang terletak di Jalan H. Ali Nasrudin ini membekali para siswa baru dengan kemampuan tanggap bencana melalui simulasi gempa bumi. 

Kepala SLB C Autis Kedungkandang Kota Malang, Ade Dian Firdiana mengatakan, kegiatan tersebut diikuti oleh 30 siswa baru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) jenjang SMP dan SMA. Sekaligus, ini juga menjadi bagian upaya nyata mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

"Untuk kali ini, tema bencana yang diajarkan tentang gempa bumi. Kita berikan contoh cara menghadapi, karena kalau tidak ada contoh dan pengulangan maka mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi," ujarnya kepada Ketik.com, Rabu, 15 Juli 2026. 

Para siswa baru SLB C Autis Kecamatan Kedungkandang Kota Malang saat menyelamatkan diri dari kelas dalam dalam kegiatan tanggap bencana simulasi gempa bumi, Rabu, 15 Juli 2026 (Foto : Kukuh / Ketik)

Mengingat karakteristik peserta didik yang memiliki hambatan intelektual dan autisme, metode simulasi dirancang secara adaptif. Yaitu, dengan memanfaatkan penguatan visual seperti gambar dan petunjuk arahan langsung yang mudah dipahami. 

Baca Juga:
Tinggal Tunggu Perwal, Angkutan Pelajar Gratis Kota Malang Siap Mengaspal

"Karena mereka ini berkebutuhan khusus, maka dalam simulasi harus dilakukan secara berulang dan dimodifikasi dengan bantuan visual seperti gambar. Sehingga, mereka paham memahami bagaimana yang dilakukan saat gempa terjadi," jelasnya. 

Selain visual, kunci keberhasilan simulasi ini terletak pada pengulangan instruksi secara intensif. Berbeda dengan sekolah umumnya, instruksi bagi ABK tidak cukup disampaikan sekali atau dua kali, melainkan harus diulang hingga beberapa kali secara konsisten agar benar-benar dipahami dan menjadi refleks visual serta motorik mereka. 

"Jadi, yang pertama dikuatkan adalah arahan secara visual. Kemudian, pengulangan instruksi tidak bisa sekali atau dua kali melainkan bisa beberapa kali," tambahnya. 

Sementara itu, Yusfan selaku instruktur tanggap bencana dari SAR Trenggana mengungkapkan, materi yang diberikan dalam edukasi ini berfokus pada pengenalan paling mendasar mengenai bahaya gempa bumi. Di dalam kegiatan, para siswa diajarkan berlindung di bawah meja saat gempa terjadi termasuk cara evakuasi menuju ke titik kumpul yang aman. 

Baca Juga:
Baris-Berbaris hingga Yel-Yel, Siswa MTsN 1 Kota Malang Bentuk Mental Lewat MPLS di Lanal

"Alhamdulillah, mereka merespon dengan baik dan cepat memahami dengan instruksi yang kami berikan. Kami berharap edukasi tanggap bencana ini dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga mereka bisa hapal dan dapat melakukan tindakan evakuasi mandiri," ungkapnya.

Dirinya juga menambahkan, edukasi materi tanggap bencana dinilai sangat krusial. Tidak hanya menyasar kalangan orang dewasa, tetapi juga harus menyentuh seluruh jenjang pendidikan mulai dari pelajar hingga mahasiswa. 

"Keselamatan adalah yang paling utama dan untuk mewujudkannya, edukasi harus diberikan sedini mungkin mulai dari usia TK, SD, SMA, hingga perguruan tinggi. Dengan adanya edukasi ini, mereka bisa tahu langkah awal apa yang harus dilakukan secara mandiri saat terjadi bencana," tandasnya. (*)