KETIK, JAKARTA – Iran meningkatkan status siaga penuh menyusul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi negara tersebut pada akhir pekan ini.
Langkah siaga itu diiringi dengan persiapan skenario serangan balasan terhadap sejumlah target di kawasan Timur Tengah apabila operasi militer benar-benar dilaksanakan.
Laporan CBS News pada Jumat, 31 Juli 2026 menyebutkan rencana operasi militer itu berpotensi menjadi salah satu kampanye pengeboman paling intens yang pernah menyasar fasilitas energi Iran.
Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengungkapkan Washington juga mempertimbangkan dampak ekonomi global dari operasi tersebut.
Menurut laporan itu, terdapat pembahasan agar seluruh operasi militer diakhiri sebelum pasar keuangan internasional kembali dibuka pada Senin.
Baca Juga:
Hamas dan Faksi Palestina Sepakati Rencana Pelucutan Senjata GazaNamun hingga kini belum ada tenggat waktu pasti mengenai pelaksanaan maupun berakhirnya operasi tersebut.
Sumber yang sama menyebutkan Israel telah menerima pengarahan dan terus berkoordinasi dengan pemerintah Amerika Serikat.
Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut belum memberikan otorisasi akhir terkait pelaksanaan serangan tersebut.
Dalam rapat kabinet di Camp David pekan lalu, Trump menegaskan sikap keras pemerintahannya terhadap Iran.
Baca Juga:
BoP Rilis 9 Poin Kesepakatan Perdamaian Gaza, Hamas Sepakat Dilucuti Bertahap"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras. Pada suatu saat, mereka akan berkata, 'Kami tidak tahan lagi,'" ujar Trump.
Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan Amerika Serikat akan tetap berupaya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
"Amerika Serikat akan menang, dan Iran tidak akan diperbolehkan membuat senjata nuklir di bawah kepemimpinan Presiden Trump," kata Leavitt.
Di sisi lain, pemerintah Iran dikabarkan meningkatkan kesiagaan militer sebagai respons atas ancaman tersebut.
Teheran juga disebut telah menyiapkan skenario serangan balasan terhadap berbagai target di kawasan Timur Tengah apabila serangan Amerika Serikat dan Israel benar-benar dilaksanakan.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran maupun otoritas Israel yang mengonfirmasi jadwal pelaksanaan operasi militer tersebut.
Namun meningkatnya tensi di kawasan kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan regional serta dampaknya terhadap pasar energi dunia.(*)