Innalillahi, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Gugur dalam Serangan AS-Israel

1 Maret 2026 11:45 1 Mar 2026 11:45

Thumbnail Innalillahi, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Gugur dalam Serangan AS-Israel

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: X @fr_Khamenei)

KETIK, JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dipastikan tewas dalam serangan udara terkoordinasi yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kabar yang mengguncang dunia ini dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran dan pejabat senior Israel lewat laporan Reuters, Sabtu, 28 Februari 2026.

Kematian ulama berusia 86 tahun tersebut mengakhiri 36 tahun kekuasaan absolutnya di tanah Persia. Teheran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Klaim Trump

Presiden AS Donald Trump lewat platform Truth Social menyebut bahwa operasi itu merupakan hasil kerja intelijen tingkat tinggi bersama Israel.

"Tidak ada yang bisa dilakukan Khamenei untuk meloloskan diri," tulisnya ketus dilansir Reuters.

Serangan ini disinyalir sebagai puncak kekesalan Washington setelah negosiasi nuklir di Jenewa—yang dimediasi Oman—berakhir buntu dua hari lalu. Trump menuntut penghentian total pengayaan uranium, namun Iran bergeming.

Dunia Waspada

Ketegangan ini menjalar cepat ke jalur diplomasi global. Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, langsung mengontak petinggi Iran dan Israel untuk meredam situasi. New Delhi menaruh perhatian khusus pada Pelabuhan Chabahar yang ikut dilaporkan terkena hantaman rudal, mengingat India punya investasi besar di sana.

Sementara itu, reaksi beragam muncul dari berbagai belahan dunia:

Inggris: PM Keir Starmer mengonfirmasi pasukan Inggris aktif dalam "operasi pertahanan regional".

Rusia dan Tiongkok: Mengecam keras serangan tersebut sebagai tindakan ilegal.

PBB: Sekjen Antonio Guterres mengutuk eskalasi militer yang dianggap mengancam perdamaian dunia.

Kekacauan di Lapangan

Tragedi kemanusiaan mulai membayangi. Rudal dilaporkan menghantam sebuah sekolah perempuan di Minab, menewaskan sedikitnya 57 siswi. Secara total, Guterres menyebut angka kematian mencapai 85 jiwa, termasuk warga sipil di Teheran.

Di sisi lain, Trump justru memanaskan suasana dengan merilis pesan video yang mendesak rakyat Iran untuk "mengambil alih" pemerintahan. Meski sempat beredar video perayaan kematian Khamenei di media sosial, tanda-tanda pemberontakan massal di dalam negeri Iran belum terlihat secara nyata.

Putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, menyatakan kesiapannya untuk "membangun kembali Iran". Namun, tanpa dukungan militer atau akar rumput yang jelas, tawaran tersebut dinilai pengamat masih jauh dari api. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei Khamenei tewas Iran Donald Trump Truth Social Serangan AS-Israel