KETIK, MALANG – Pengelola Pesarean Gunung Kawi mengimbau seluruh peziarah untuk mematuhi tata cara dan aturan yang berlaku selama berada di kawasan pesarean. Imbauan tersebut bertujuan menjaga ketertiban, kesakralan, serta kenyamanan seluruh pengunjung yang datang untuk berziarah.

Bagi masyarakat yang hendak berziarah, terdapat sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan. Pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan selama berada di kawasan pesarean.

Peziarah yang ingin menggelar selamatan maupun pertunjukan wayang kulit dapat melakukan pemesanan melalui Loket Pemesanan Selamatan. Sementara itu, bunga tabur juga dapat dibeli di area yang telah disediakan oleh pengelola.

Sebelum memasuki Pendopo Pesarean Gunung Kawi, seluruh pengunjung diwajibkan melepaskan alas kaki, baik sepatu maupun sandal.

Pengelola juga menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi pengunjung untuk memberikan sumbangan dalam bentuk apa pun. Namun, apabila peziarah ingin berdonasi secara sukarela, sumbangan dapat diserahkan langsung kepada juru kunci di dalam Pendopo Pesarean maupun melalui Loket Pemesanan Selamatan.

Baca Juga:
[FOTO] Keraton Gunung Kawi, Mitos Petilasan Raja-Raja Besar Pulau Jawa

Selain itu, terdapat sejumlah aturan yang wajib dipatuhi saat berada di dalam Pendopo Pesarean. Pengunjung dilarang mengambil foto maupun merekam video tanpa izin. Apabila memerlukan dokumentasi, pengunjung diminta terlebih dahulu mengajukan izin kepada petugas yang berjaga di lokasi.

Dari sisi etika berpakaian, pengunjung tidak diperkenankan mengenakan celana maupun rok pendek. Bagi pengunjung yang membutuhkan, kain penutup telah disediakan di Pos Keamanan.

Sementara itu, khusus perempuan yang sedang mengalami haid, pengelola menetapkan agar tidak memasuki area Pendopo Pesarean Gunung Kawi sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan tempat ziarah.

Di samping tata cara ziarah tersebut, pengelola juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap berbagai bentuk penipuan yang mengatasnamakan Pesarean Gunung Kawi.

Baca Juga:
[FOTO] Menengok Perpaduan Tiga Budaya di Kompleks Pesarean Gunung Kawi Malang

Staf Humas dan Media Sosial Pesarean Gunung Kawi, Ananda Fatma, menegaskan bahwa Pesarean Gunung Kawi tidak memiliki praktik penggandaan uang, pesugihan maupun kegiatan sejenis. Pengelola juga memastikan Pesarean Gunung Kawi tidak memiliki hubungan ataupun afiliasi dengan pihak yang mengatasnamakan Keraton Gunung Kawi.

Ananda juga mengingatkan peziarah untuk mewaspadai oknum yang mengaku sebagai juru kunci resmi dan menawarkan jasa pendampingan ziarah.

"Kalau sekarang juru kuncinya ada dua, yakni HR Tjandra Jana Soepodojono dan R Nanang Yuwono Hadiprojo. Selain beliau berdua, kalau ada yang mengaku-ngaku di luar itu, masyarakat harus waspada," ujarnya.

Menurut Ananda, juru kunci resmi memiliki tugas menjaga makam sehingga tidak pernah berkeliling menawarkan jasa kepada pengunjung.

"Sering ada yang mengaku, 'Saya juru kunci, mari saya temani ziarah.' Itu tidak ada. Juru kunci di sini hanya berada di ruangan sebelah makam. Tugas beliau menjaga makam, tidak mungkin keluar menawarkan jasa," katanya.

Ia menegaskan, juru kunci resmi tidak pernah menghampiri ataupun menawarkan layanan kepada peziarah.

"Juru kunci bukan marketing. Jadi tidak ada yang menawarkan jasa atau menghampiri pengunjung," tegasnya.

Menurut Ananda, praktik tersebut kerap menyasar pengunjung yang baru pertama kali datang ke Pesarean Gunung Kawi dan belum mengetahui prosedur resmi.

"Kalau pengunjung baru biasanya harus lebih berhati-hati. Kalau belum tahu, bisa saja ikut orang yang mengaku-ngaku itu. Padahal kalau sudah mencari informasi terlebih dahulu, mereka biasanya langsung datang ke kantor pengelola. Banyak sekali oknum yang kurang bertanggung jawab," pungkas Nanda. (*)