KETIK, PALEMBANG – Kekurangan tenaga dokter di wilayah pedesaan Sumatera Selatan masih menjadi persoalan serius yang belum terpecahkan hingga kini.
Menjawab tantangan itu, Fakultas Kedokteran Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang hadir sebagai salah satu ikhtiar untuk mendekatkan akses pendidikan kedokteran bagi anak-anak daerah, sekaligus menyiapkan generasi dokter yang kelak mau kembali mengabdi ke kampung halamannya.
Usia fakultas ini terbilang masih sangat muda, belum genap tiga tahun sejak resmi berdiri. Tahun 2026 ini bahkan baru akan menerima mahasiswa angkatan ketiga.
Namun di tengah usianya yang belia, keberadaan fakultas kedokteran di UIGM dinilai memiliki arti penting, mengingat jumlah lembaga pendidikan tinggi yang membuka program kedokteran di Sumatera Selatan masih sangat terbatas.
Rektor Universitas Indo Global Mandiri, Marzuki Alie mengungkapkan, fakultas ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya pelayanan kesehatan di daerah-daerah pedesaan akibat kurangnya tenaga medis.
Baca Juga:
Korem 084/Bhaskara Jaya Gelar Lomba Jurnalistik dan Media Sosial, Angkat Kisah Kemanusiaan TNI AD di MaduraMenurutnya, persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa langkah nyata dari dunia pendidikan tinggi. “Indonesia saat ini sedang kekurangan dokter, kebutuhan tenaga dokter dan kesehatan di Indonesia belum maksimal,” ujarnya.
Fakultas Kedokteran UIGM juga dirancang sebagai jalan bagi anak-anak berprestasi yang terkendala biaya untuk tetap bisa menempuh pendidikan kedokteran. Marzuki menegaskan kecerdasan seharusnya tidak kalah oleh keterbatasan ekonomi.
“Tujuan lainnya untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak Indonesia yang pintar dan cerdas, tetapi tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk kuliah di bidang kedokteran,” jelasnya.
Untuk mendukung proses belajar-mengajar, UIGM telah menyiapkan puluhan tenaga pengajar yang akan mendampingi mahasiswa kedokteran hingga lulus.
Baca Juga:
Sambut HPN 2026 PWI Jatim Gelar Lomba Jurnalistik, Ini Syarat dan Ketentuannya!Para lulusan nantinya diharapkan tidak sekadar menguasai ilmu medis, tetapi juga tumbuh dengan kepekaan terhadap kondisi masyarakat di wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau layanan kesehatan.
“Kami berkomitmen untuk membentuk generasi dokter yang tidak hanya unggul dalam kompetensi medis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” kata Marzuki.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, UIGM menyediakan beasiswa penuh bagi 10 persen dari total kuota mahasiswa Fakultas Kedokteran.
Skema ini menyasar calon mahasiswa yang diharapkan kelak mengabdikan ilmunya untuk masyarakat, terutama di wilayah Sumsel yang secara geografis banyak berupa kawasan rawa dan perairan sehingga akses layanan kesehatan kerap tersendat.
“Kedokteran UIGM memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kesehatan masyarakat Sumsel yang secara topografi wilayahnya sebagian besar merupakan wilayah rawa dan perairan,” ungkapnya.
Meski baru memiliki dua angkatan mahasiswa, kegiatan pengabdian kepada masyarakat di bidang kesehatan sudah lebih dulu dijalankan.
Pemeriksaan kesehatan tidak hanya menyasar kalangan internal kampus seperti dosen dan karyawan, tetapi juga menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Sumatera Selatan sebagai bagian dari persiapan matang sebelum fakultas ini benar-benar beroperasi penuh.
Langkah UIGM ini mendapat apresiasi dari Kepala LLDIKTI Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar. Ia menilai program tersebut membuka jalan bagi anak-anak desa yang selama ini sulit menggapai cita-cita menjadi dokter akibat keterbatasan akses pendidikan.
“Ini adalah inisiatif dari IGM yang patut diapresiasi, karena universitas ini tidak hanya memberikan ruang bagi mereka yang mampu secara finansial, tetapi juga bagi mereka yang tidak mampu,” ujar Prof. Iskhaq.
Menurut Iskhaq, banyak anak muda di pelosok desa yang sebenarnya memiliki potensi besar, namun terhambat oleh minimnya akses pendidikan tinggi. Program beasiswa kedokteran seperti ini dinilai mampu membuka pintu yang selama ini tertutup bagi mereka.
“Mereka mungkin tidak memiliki akses yang sama dengan anak-anak di kota, namun dengan adanya program ini, mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan impian mereka,” katanya.
Di luar isu pendidikan, Iskhaq turut menyoroti persoalan kekurangan tenaga medis yang masih membelenggu daerah-daerah terpencil di Sumsel. Ia menyebut kondisi ini berdampak langsung terhadap kualitas layanan kesehatan yang diterima masyarakat desa.
“Di desa, masalah kekurangan tenaga dokter masih sangat besar. Hal ini tentu mempengaruhi kualitas layanan kesehatan di daerah tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, program kedokteran yang digagas UIGM dinilai relevan sebagai solusi jangka panjang untuk menghasilkan tenaga medis yang siap ditempatkan di wilayah-wilayah minim akses.
Saat ini, program studi kedokteran di Sumsel tercatat ada di tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Sriwijaya, Universitas Muhammadiyah Palembang, dan saat ini UIGM.
“Dengan adanya berbagai fakultas kedokteran ini, diharapkan jumlah dokter yang terdistribusi merata di seluruh Sumsel dapat meningkat, termasuk di daerah-daerah yang selama ini kekurangan tenaga medis,” kata dia.
Dukungan juga datang dari Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, yang menyoroti pentingnya pemerataan distribusi tenaga medis di provinsi tersebut.
Ia mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merekomendasikan rasio ideal satu dokter untuk setiap seribu penduduk. Dengan jumlah penduduk Sumsel yang mencapai sekitar 10 juta jiwa, provinsi ini diperkirakan masih kekurangan sekitar 2.000 hingga 3.000 dokter.
Herman Deru menegaskan persoalan yang dihadapi bukan sekadar jumlah dokter yang minim, melainkan juga ketimpangan sebaran tenaga medis antarwilayah. Ia menilai program beasiswa kedokteran dari UIGM menjadi salah satu jawaban strategis atas persoalan tersebut.
“Kami kekurangan dokter, namun yang lebih penting adalah bagaimana mendistribusikan tenaga medis ini secara merata. Program dari Universitas IGM ini sangat brilian karena memberikan akses untuk mengatasi masalah tersebut,” pungkasnya.(*)