KETIK, BATU – Distribusi sayuran asal Kota Batu konsistensi dilakukan di berbagai wilayah Indonesia. Menyikapi hal itu, Pemkot Batu mulai mendorong petani hortikultura agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Petani diminta mulai mengembangkan pengolahan pascapanen, memperkuat sinergi kelompok tani, hingga menerapkan pertanian ramah lingkungan berbasis teknologi modern.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Batu, Heli Suyanto, mengatakan petani Kota Batu perlu bangga karena hasil pertanian daerahnya dikenal memiliki kualitas unggulan yang didukung kondisi iklim dan tingkat kesuburan tanah.
“Produk hortikultura dari tanah Batu memiliki kualitas yang baik karena didukung iklim dan kondisi tanah yang subur. Namun kita tidak boleh cepat puas hanya menjadi produsen komoditas mentah,” ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.
Ia mendorong para petani kentang, wortel, maupun sayuran lainnya mulai meningkatkan nilai tambah produk melalui pengelolaan pascapanen yang lebih baik.
Baca Juga:
Hasil Panen Sayur Terbaik, Petani Kota Batu Sering Distribusi ke Luar PulauMenurutnya, proses pemilahan hasil panen, pengemasan yang higienis hingga pengolahan semi jadi menjadi langkah penting agar produk hortikultura Kota Batu mampu masuk pasar modern dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Saya mendorong petani mulai memperhatikan proses pascapanen, mulai dari pemilahan yang ketat, pengemasan yang bersih, hingga pengolahan semi jadi. Produk hortikultura Kota Batu harus mampu menembus pasar modern, hotel, restoran, kafe, bahkan pasar ekspor dengan posisi tawar yang lebih kuat,” papar Mas Heli, sapaan akrabnya.
Selain peningkatan kualitas produk, Mas Heli juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani melalui kelompok tani maupun gabungan kelompok tani.
Sinergi antarpetani, tambahnya, dibutuhkan agar memiliki daya tawar lebih baik dalam menentukan harga pasar maupun mempermudah akses bantuan dan sarana produksi.
Baca Juga:
Polres Batu Pastikan Isu ‘Pocong Begal’ Hoaks, Warga Diimbau Tetap Tenang“Di era sekarang, berjuang sendiri-sendiri akan terasa berat. Kekuatan petani kita ada pada kebersamaan. Kelompok tani dan gapoktan harus semakin solid agar akses modal, distribusi pupuk, benih, hingga penentuan harga bisa lebih kuat,” ujarnya.
Mas Heli juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan lahan pertanian di kawasan dataran tinggi Kota Batu.
Ia berharap petani mulai mengombinasikan penggunaan pupuk organik dan pestisida alami agar kualitas tanah tetap terjaga untuk jangka panjang.
“Hortikultura di dataran tinggi Batu sangat intensif. Karena itu, kesuburan tanah harus dijaga agar tetap bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Pertanian berkelanjutan bukan hanya menjaga lingkungan tetap sejuk, tetapi juga menghasilkan produk sehat yang semakin diminati pasar premium,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga berharap muncul regenerasi petani muda yang mampu memadukan sektor pertanian dengan teknologi modern.
Digitalisasi sistem pengairan, prediksi cuaca hingga pemasaran digital dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian di masa depan.
“Kami ingin melihat anak-anak muda Kota Batu bangga menjadi petani modern yang melek teknologi dan mampu sejahtera dari hasil bumi sendiri,” tutur politisi Gerindra ini.
Menurutnya, sektor hortikultura selama ini menjadi salah satu pilar utama ekonomi masyarakat Kota Batu.
Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen terus mendampingi petani mulai dari proses produksi hingga pemasaran hasil panen.
“Petani hortikultura adalah pahlawan pangan dan salah satu kebanggaan Kota Batu. Kami ingin membuktikan bahwa kentang, wortel, dan sayur-mayur dari tanah Batu bukan sekadar komoditas, tetapi simbol kualitas dan kesejahteraan yang disegani di tingkat nasional,” pungkasnya. (*)