Hidup dalam Dunia Simulasi: Bagaimana Hiperrealitas Menggeser Batas Realita dan Representasi

Jurnalis: Athaya Khaisyah Azira
Editor: Muhammad Faizin

6 Nov 2025 05:00

Thumbnail Hidup dalam Dunia Simulasi: Bagaimana Hiperrealitas Menggeser Batas Realita dan Representasi
Ilustrasi hiperrealitas (Foto: Pexels)

KETIK, SURABAYA – Tahu nggak sih? Bahwa apa yang kalian lihat di media sosial itu hampir seluruhnya adalah hasil rekayasa, postingan yang kalian lihat, selebgram yang kalian ikuti, dan berbagai tempat nongkrong cozy yang kalian lihat di media sosial adalah hasil kurasi dari realitas agar terlihat lebih estetis saat ditampilkan.

Nah, fenomena itu ternyata ada sebutannya, lho! Yakni hyperreality atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan hiperrealitas. Kondisi dimana realitas buatan terlihat lebih ‘nyata’ dibanding kebenaran yang ada di dunia nyata.

Hiperrealitas pertama kali dikenalkan oleh sosiolog Jean Baudrillard pada sekitar tahun 1981, pada bukunya yang berjudul ‘Simulacra & Simulation’, sebelum memahami lebih jauh tentang hiperrealitas, terdapat dua konsep dasar yakni simulakra dan simulasi.

Jika diibaratkan, simulakra adalah objeknya, sementara simulasi adalah prosesnya. Dalam bukunya, Baudrillard menggunakan Disneyland sebagai perumpamaan. Di sini tokoh dan latar tempat ‘buatan’ berperan sebagai simulakrum atau objeknya, sementara itu seluruh pengoperasian taman hiburan, pemasaran ‘dongeng’ dan segala proses di dalamnya adalah simulasinya.

Baca Juga:
Waspada Hoaks! Arumi Bachsin Ingatkan Peran Ibu Jadi Garda Terdepan Awasi Gadget Anak

Setelah simulakra dan simulasi ‘terpenuhi’ maka terciptalah fenomena ‘hiperrealitas’. Hiperrealitas menciptakan kondisi dimana pengunjung akan merasakan hidup di dalam simulasi dan dikelilingi oleh simulakra, hingga mereka ada pada titik tidak dapat membedakannya dengan realitas yang ada.

Nah, contoh gampangnya di kehidupan sehari-hari kita adalah apa yang kalian lihat di media sosial, salah satu contoh yang paling sering ditemui adalah makanan atau minuman yang disajikan di tempat nongkrong yang cozy, lalu dipotret dan diposting ke media sosial.

Dari kacamata pengguna media sosial, makanan itu hanya bernilai secara estetika, mereka menjadi tertarik mengunjungi kafe tersebut dan seringkali mengabaikan realitas dimana terkadang makanan itu dibanderol dengan harga yang tidak masuk akal, atau rasanya yang ternyata tidak sesuai dengan tampilannya.

Dan jika rasa atau harga tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan, banyak orang akan merasa kecewa. Padahal, mereka sendiri yang memilih untuk percaya bahwa cafe tersebut worth it untuk didatangi berdasarkan ‘kurasi’ yang ada di media sosial.

Baca Juga:
Bupati Pemalang Serahkan Penghargaan PPID Teraktif 2025, Satpol PP hingga Kecamatan Belik Terdepan

Di sini dapat ditarik kesimpulan, makanan yang diposting berperan sebagai simulakra, media sosial sebagai simulasi, dan persepsi sosial yang kerap abai dengan realitas di baliknya adalah hiperrealitas.

Jadi, jangan gampang percaya dengan apa yang ditampakkan oleh media sosial ya, sobat Ketikers! Bijak-bijaklah dalam memilih apa yang harus dipercayai atau tidak, karena hiperrealitas bukan sekadar teori, tapi juga realita yang dihadapi oleh banyak orang tanpa mereka sadari

Baca Sebelumnya

Nova Arianto Blak-Blakan, Ungkap Faktor Timnas Indonesia Kalah 1-3 Atas Zambia

Baca Selanjutnya

Zodiak yang Memiliki Magnet Rezeki pada Bulan November 2025

Tags:

Hiperrealias Hyperreality Sosiologi Realita media sosial

Berita lainnya oleh Athaya Khaisyah Azira

Oshogatsu-asobi: Saat Karuta dan Gasing Menjadi Jembatan Tradisi di Tengah Modernitas Jepang

4 Januari 2026 15:01

Oshogatsu-asobi: Saat Karuta dan Gasing Menjadi Jembatan Tradisi di Tengah Modernitas Jepang

Osechi Ryōri: Menumpuk Doa dan Harapan dalam Kotak Tradisi Tahun Baru Jepang

1 Januari 2026 23:01

Osechi Ryōri: Menumpuk Doa dan Harapan dalam Kotak Tradisi Tahun Baru Jepang

Filosofi di Balik Kenyalnya Mochi, Benang Merah Tradisi Tahun Baru di Negeri Sakura

1 Januari 2026 11:01

Filosofi di Balik Kenyalnya Mochi, Benang Merah Tradisi Tahun Baru di Negeri Sakura

Mengintip Tradisi Hatsumode, Kunjungan Pertama ke Kuil Saat Tahun Baru di Jepang

1 Januari 2026 10:02

Mengintip Tradisi Hatsumode, Kunjungan Pertama ke Kuil Saat Tahun Baru di Jepang

Mengenal Bōnenkai dan Shinnenkai, Tradisi Pesta Menutup dan Membuka Tahun dengan Kebersamaan di Jepang

31 Desember 2025 23:01

Mengenal Bōnenkai dan Shinnenkai, Tradisi Pesta Menutup dan Membuka Tahun dengan Kebersamaan di Jepang

Kota Surabaya dan Lamongan Diprediksi Hujan Ringan Hari Ini! Cek Daerahmu Sekarang

31 Desember 2025 11:32

Kota Surabaya dan Lamongan Diprediksi Hujan Ringan Hari Ini! Cek Daerahmu Sekarang

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend

Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend