KETIK, SLEMAN – Hepatitis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Penyakit yang dikenal masyarakat melalui gejala kulit dan mata menguning itu sebenarnya merupakan peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH, menjelaskan bahwa infeksi virus menjadi penyebab hepatitis yang paling banyak ditemukan. Selain virus, peradangan hati juga dapat dipicu konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, serta makanan atau minuman yang tidak terjaga kebersihannya.

Virus hepatitis terdiri atas tipe A, B, C, D, dan E. Masing-masing memiliki jalur penularan berbeda sehingga upaya pencegahannya juga harus disesuaikan dengan karakteristik setiap jenis virus.

Hepatitis A dan E umumnya menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, sedangkan hepatitis B dan C dapat menyebar melalui cairan tubuh, terutama darah. Adapun hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat kondisi penyakit tersebut.

“Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C,” ungkap dr. Fahmi, dalam pernyataan tertulisnya, Selasa, 11 Agustus 2026. 

Baca Juga:
Dokter Gigi Langka di Daerah, Kesehatan Mulut Bisa Berdampak pada Kesehatan Tubuh dan Produktivitas

Hepatitis B dan C menjadi perhatian karena keduanya dapat berkembang menjadi infeksi kronis dan meningkatkan risiko kanker hati. Kondisi tersebut membuat pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan dampak penyakit.

Diperkirakan sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B. Sementara itu, sekitar 2,5 juta penduduk lainnya diperkirakan mengalami hepatitis C.

Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa hepatitis tidak dapat dipandang sebagai persoalan kesehatan individual semata. Penyakit ini membutuhkan kesadaran masyarakat sekaligus sistem pencegahan dan pengobatan yang berjalan secara berkelanjutan.

“Keduanya bisa menyebabkan angka kematian yang tinggi,” lanjut Fahmi.

Baca Juga:
RSUD Brebes Gelar Bhakti Sosial untuk 500 Ibu Hamil, Wujudkan "Generasi Sehat, Indonesia Hebat"

Hepatitis C memiliki peluang kesembuhan yang cukup tinggi apabila pasien mendapatkan pengobatan secara tepat. Lebih dari 95 persen kasus hepatitis C dapat disembuhkan melalui terapi, terutama apabila pengobatan dimulai sejak dini.

Sementara itu, hepatitis B dan D kronis membutuhkan penanganan dalam waktu lebih panjang. Pasien perlu mendapatkan terapi sesuai panduan medis serta berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.

“Sedangkan hepatitis B dan D kronis pengobatannya cukup lama dan pengobatannya harus dilakukan sesuai dengan panduan dan pengawasan yang ketat,” ungkapnya.

Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hepatitis sekaligus memahami cara penularannya. Pencegahan hepatitis B, misalnya, dapat dilakukan melalui vaksinasi, terutama pada bayi baru lahir dan kelompok dewasa yang memiliki risiko tinggi.

Upaya pencegahan juga perlu dilakukan dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama serta tidak berbagi barang pribadi seperti sikat gigi, alat cukur, dan gunting kuku. Tindakan medis, tindik, maupun tato juga harus menggunakan peralatan yang steril.

Pembahasan mengenai hepatitis tidak hanya berkaitan dengan besarnya jumlah kasus dan risiko penyakit kronis. Pemahaman mengenai jalur penularan juga penting agar masyarakat tidak keliru memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan hepatitis.

Di sisi lain, pencegahan hepatitis juga perlu dilakukan sejak tingkat keluarga melalui perilaku hidup bersih dan sehat, vaksinasi, serta pemeriksaan bagi kelompok yang memiliki faktor risiko. (*)