KETIK, MALANG – Para pedagang daging sapi di Kota Malang mendesak pemerintah segera menggelontorkan pasokan sapi hidup ke wilayahnya. Langkah ini dituntut usai harga daging sapi melambung tinggi hingga mencapai Rp160.000 per kilogram per awal Agustus 2026. 

Hal itu diungkapkan oleh Umi Kulsum, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Klojen. Ia menjelaskan, Rp160.000 per kilogram merupakan harga untuk daging sapi kualitas super, sedangkan daging sapi khusus rawon dibanderol sekitar Rp150.000 per kilogram.

"Jangan impor daging sapinya kalau menurut saya, karena sekarang sudah banyak daging sapi impor, frozen. Harganya juga terlalu murah dibanding lokal sehingga warung malah beli yang dari luar dan daging sapi lokal kalah. Kalau bisa mending sapi hidupnya yang didatangkan," ujarnya, Senin 3 Agustus 2026.

Kenaikan harga daging sapi ini sudah dirasakan pedagang sejak tiga pekan terakhir. Tingginya harga sapi serta minimnya pasokan sapi hidup menjadi pemicu utama lonjakan harga tersebut.

"Gak ada sapi hidup, sapinya mahal sehingga yang nyari itu rebutan. Ini saya memasok dari adik saya sendiri, kebetulan jagal sapi," katanya.

Baca Juga:
Kawal Kebijakan Strategis, Wahyu Hidayat Usulkan Dandung Djulharjanto Pj Sekda Kota Malang

Ia menjelaskan harga daging sapi telah tiga kali mengalami kenaikan harga pascalebaran lalu. Menurutnya, kondisi ini jarang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

"Baru tahun ini naik tiga kali setelah lebaran. Mau lebaran naik, lebaran kurang beberapa hari naik, setelah itu merangkak naik terus. Biasanya kan setelah lebaran berangsur turun," sebutnya.

Kondisi tersebut juga dirasakan penjual daging sapi di Pasar Klojen. Menurutnya, harga daging dipengaruhi oleh kondisi dan ketersediaan sapi hidup di pasaran. Apabila sapi hidup sulit ditemukan, maka harga daging sapi akan ikut mahal.

"Kalau sekarang daging frozen yang dibawa, itu justru menghancurkan harga pasar (daging lokal) karena lebih murah. Kalau menurut saya impor sapi hidup yang harus dilakukan," katanya.(*)

Baca Juga:
Bakal Disulap Jadi Taman, TPS Sulfat Malang Segera Dipindah ke Purwantoro