KETIK, LEBAK – Setelah hampir tujuh tahun hidup di hunian sementara (huntara), warga Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten, akhirnya mulai bisa bernapas lega.

Warga yang merupakan korban terdampak bencana longsor dan banjir bandang pada 2020 itu kini mulai dibangunkan hunian tetap (huntap). Pada tahap pertama, sebanyak 104 unit rumah akan dibangun.

Warga Huntara Lebakgedong, M. Zaenudin, mengatakan pembangunan huntap sudah mulai dikerjakan sejak Sabtu kemarin. Berbagai material bangunan kini telah didatangkan ke lokasi.

"Mulai dikerjakan pembangunan rumah huntap sejak kemarin. Sekarang yang ada di lokasi banyak bahan material seperti U-ditch, pasir, semen, split, dan lainnya," kata Zaenudin saat dihubungi wartawan, Minggu 18 Oktober 2026.

Menurut Zaenudin, dimulainya pembangunan ini menjadi angin segar bagi warga yang selama bertahun-tahun bertahan hidup di gubuk huntara dengan kondisi serba terbatas, sejak rumah mereka rusak diterjang longsor dan banjir bandang 2020.

Baca Juga:
Pemkab Lebak Pamerkan Tenun Baduy hingga Gula Aren di Colour of Cultures Festival 2026

"Ya tentunya angin segar buat kami yang sudah menderita hampir selama ini. Sekarang fix dibangun walaupun hanya 104 unit, setidaknya itu menjadi awal mula untuk keseluruhan dibangun," ujarnya.

Meski mengapresiasi langkah tersebut, Zaenudin menegaskan bahwa pembangunan 104 unit ini belum menyelesaikan seluruh persoalan. Sebab, masih ada sisa 117 kepala keluarga korban bencana lainnya yang belum mendapatkan huntap.

Karena itu, warga berkomitmen akan terus mengawal pembangunan tahap pertama ini hingga tuntas. Setelah selesai, mereka akan kembali menagih janji pembangunan untuk sisa warga.

"Untuk harapan ke depannya, kami akan terus mengawal ketika 104 unit ini selesai. Kami terus mengawal, terus meminta, terus menagih," tuturnya.

Baca Juga:
Pemkab Lebak Lelang 2.633 Unit Barang Milik Daerah, Nilai Limit Capai Rp481 Juta

Lanjut Zaenudin, nantinya kami akan ada gerakan-gerakan lagi ketika memang ini sudah selesai, menagih kembali. Entah itu melalui jalur audiensi, melalui jalur silaturahmi dengan para petinggi.

Ia menambahkan, tidak ada seremoni peletakan batu pertama untuk menandai dimulainya pembangunan huntap ini. Menurut warga, hal itu dinilai tidak pantas dilakukan.

"Jadi tidak ada seremonial peletakan batu pertama karena memang penderitaan masyarakat itu tidak pantas untuk dirayakan," ucapnya.

Warga berharap, pembangunan 104 unit huntap tahap pertama ini dapat berjalan lancar dan tepat waktu, sehingga menjadi langkah awal untuk mengakhiri penderitaan seluruh warga Kampung Cigobang yang terdampak bencana longsor dan banjir bandang 2020. (*)