Haji: Jalan Suci

Editor: Mustopa

8 Jun 2025 16:58

Thumbnail Haji: Jalan Suci
Oleh: Supriyadi Karima Saiful*

Ibadah haji adalah jalan suci, yang diimani sebagai sebuah undangan (panggilan) Ilahi. Ketika kita memenuhi panggilan Tuhan, sudah luruskah niatan kedatangan kita untuk benar-benar ingin bertemu dengan Sang Pengundang? Dan, sudahkah kedatangan kita bertemu dengan Sang Pengundang?.

Sebagaimana kita ketahui haji diwajibkan bagi yang mampu (menguasai ilmunya, jadi bukan hanya punya biaya untuk pergi ke Baitullah). Berkata Junaidi al-Baghdadi, seorang ulama dari persia: ”barang siapa naik haji dan ia tidak tahu rahasia/hakikat haji maka tidaklah diterima/sempurna hajinya,walaupun ia naik haji berkali-kali”

“Kalaulah sebuah pertunjukan, Ibadah haji adalah pertunjukan kolosal. Drama kolosal.” Dr. Ali syariati, seorang pemikir dari Iran, di dalam bukunya “Hajj” menggambarkan peristiwa haji dengan sangat apik:

“Allah (Tuhan) sutradaranya; para pemain utamanya meliputi Adam, Siti Hawa, Ibrahim, Hajar, Ismail dan setan; panggung pertunjukannya adalah Masjid al-Haram, daerah Haram, Nas’a, Arafah, padang Masy’ar dan Mina; Ka’bah, Shafa, Marwah, upacara kurban adalah simbol-simbol dan properti; Pakaian dan make up-nya adalah ihram, halgh dan taqshir (mencukur sebagian rambut kepala)”.

Baca Juga:
Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

Saat kita menapak jalan suci, memenuhi panggilan dan berada di arena pertunjukan yang penuh simbol, di sebuah panggung besar: Siapakah kita di tengah-tengah pertunjukan ini? Adam dan Siti Hawa-kah kita? Ibrahim-kah kita yang senantiasa rela berkurban? Hajar-kah kita yang rela sendiri membangun peradaban? Ismail-kah kita dengan totalitas kepasrahan dan penyerahan diri? Atau jangan-jangan kita adalah setan itu sendiri, atau jangan-jangan kita biarkan setan dalam diri menjadi sutradara?

Di negeri ini, jutaan orang telah menunaikan ibadah haji, dan jutaan orang masih mengantri untuk pergi. Seiring berjalannya waktu, haji telah berubah arti yang tidak hanya sebagai kegiatan religi. Namun, haji telah menjadi istilah dan menempati strata tersendiri; utamanya pada kegiatan-kegiatan seremonial kemasyarakatan, begitu pula pada kegiatan ekonomi. Ibadah haji merupakan prioritas dalam kehidupan yang diimpikan oleh semua orang.

Bahkan, ibadah haji pun dijadikan gelar yang diletakkan di depan nama dengan huruf “H” besar, sebagai gelar “kebangsawanan baru”. Gelar Haji telah menjadi ukuran keberhasilan hidup dan kesempurnaan dalam beragama, serta dijadikan sebagai pencapaian yang memiliki tempat tersendiri karena dengan gelar haji akan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap pemilik gelar (riya).

Dengan adanya peningkatan kondisi ekonomi yg juga berdampak pada adanya kemudahan transportasi, tidak sedikit orang menunaikannya berulang-ulang, dan tidak sedikit pula yang setiap “musim haji” pergi ke tanah suci.

Baca Juga:
Mengintip Kegiatan 59 Jemaah Praktik Manasik di Asrama Haji Surabaya, Jadi Bekal ke Tanah Suci

Ibadah haji yang semula merupakan “perjalanan menuju kematian” (menurut riwayat, perjalanan haji dulu, membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan taruhan nyawa), yang dulu lebih menggambarkan wataknya yang suci dan beradab, kini menampakkan wajah “keserakahan spiritual”. Akibatnya, hari ini, kita sering menyaksikan pertikaian, penipuan dan ketegangan atas nama haji. Pergeseran makna yang cukup membuat ngeri.

Jalan suci yang sebenarnya sarat simbol ini relevan untuk direfleksikan ulang akan nilai dan maknanya yang berupa tauhid dan solidaritas kemanusiaan. Seyogyanya, makna dari simbol-simbol ritual yang harus dipahami, bukan formalitasnya. 

Nilai dan makna itu begitu penting, saat negri ini masih kerap didera oleh bencana: korupsi, manipulasi, berbuat kerusakan dan kriminal, melakukan maksiat dan fitnah, merusak lingkungan hidup; Sikap dan perbuatan yang bisa melecehkan martabat dan menghancurkan kehidupan manusia masih sering kita saksikan; Sepertinya benar apa yang dikatakan orang: di bumi Pancasila ini makin sedikit orang yang mau berkorban, dan makin banyak orang yang mengorbankan orang lain.

Mahatma Gandhi—seorang pemimpin gerakan kemerdekaan India—mengingatkan: "Salah satu dosa sosial terberat yang menimbulkan krisis dalam masyarakat adalah keimanan (peribadatan) tanpa pengorbanan". Rumah-rumah ibadah, Majelis dzikir, dan minat naik haji berkembang. Pada saat yang sama, kesediaan untuk berbagi kebahagiaan, memperhatikan kesejahteraan orang lain, dan toleransi masih terasa lemah

Mufakat apa yang dikatakan bahwa Ibadah haji dan Idul Kurban dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Jalan Suci seharusnya memberi kesadaran bahwa keimanan sejati harus dibuktikan dalam kesediaan melakukan pengorbanan.

Diperlukan tekad dan keberanian untuk menyembelih hasrat korup demi kesehatan negara-bangsa, menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih komunalisme demi solidaritas kewargaan, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktivitas, menyembelih kekerasan demi kebahagiaan hidup bersama.

Akhir kata, mengamini wejangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam menapak jalan suci: Haji adalah perumpamaan dari Kematian Kehendak yang akan memunculkan Kehidupan Hakiki. Jadi barangsiapa yang ingin mencapai haji dan kehidupan sejati, maka hendaklah ia “mematikan” dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan Kehidupan yang tidak abadi yang merupakan pinjaman Ilahi.

*) Supriyadi Karima Saiful merupakan Ketua Kwarcab Pramuka Kota Mojokerto

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Film Pendek Spiral Gaet Apresiasi Penonton, Angkat Isu Keluarga Tanpa Batasan Gender

Baca Selanjutnya

Penuhi Undangan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Gubernur Khofifah Hadiri Pertemuan Tahunan Haji di Istana Mina

Tags:

opini haji Jalan Suci Supriyadi Karima Saiful

Berita lainnya oleh Mustopa

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Saatnya Muktamar Bermartabat: Ketika Efektivitas Kepemimpinan Dipertanyakan

7 April 2026 06:30

Saatnya Muktamar Bermartabat: Ketika Efektivitas Kepemimpinan Dipertanyakan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar