KETIK, CILACAP – Pemerintah mulai membangun shelter tsunami di Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sebagai upaya menyiapkan tempat evakuasi bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.
Proyek senilai sekitar Rp83,25 miliar tersebut dirancang mampu menampung hingga 2.083 orang.
Pembangunan fasilitas itu dilakukan melalui kolaborasi anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Gerindra, Novita Wijayanti, dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Novita mengatakan, keberadaan shelter menjadi kebutuhan prioritas mengingat Cilacap memiliki potensi bencana gempa bumi dan tsunami.
"Cilacap merupakan wilayah yang rawan bencana, saya selaku anggota Komisi V berkolaborasi dengan Kementerian PU menurunkan anggaran untuk proyek ini sekitar Rp83,25 miliar, memiliki luas bangunan sekitar 12.796 meter persegi di atas lahan seluas 5.462 meter persegi. Bangunan ini dirancang memiliki dua lantai yang efektif untuk menampung warga, sementara tiga lantai lainnya disesuaikan dengan konsep bangunan yang mampu melindungi masyarakat saat terjadi bencana," ujar Novita, Rabu, 21 Oktober 2026.
Baca Juga:
Novita Wijayanti Gandeng BMKG, Gelar Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami di CilacapMenurut Novita, bangunan tersebut dirancang memiliki lima lantai dengan fungsi yang disesuaikan untuk mendukung evakuasi ketika bencana terjadi.
Dua lantai bagian atas diproyeksikan menjadi area penampungan warga, sedangkan tiga lantai lainnya dirancang untuk memungkinkan air tsunami melintas.
"Bangunan ini dirancang memiliki lima lantai, berdasar perencanaan dua lantai dibagian atas sangat efektif menampung 2.083 orang dan tiga lantai lainnya untuk dilalui air karena menurut kajian jika terjadi tsunami air mencapai 15 meter," ungkap Novita.
Baca Juga:
Legislator Novita Wijayanti Resmikan Program PISEW di Bantarsari CilacapIa juga menyoroti pentingnya akses evakuasi yang memadai. Keberadaan tangga di sisi kanan dan kiri bangunan diharapkan mendukung pergerakan warga menuju area aman saat situasi darurat.
"Kita berharap fasilitas yang sedang kita bangun mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat Cilacap, terutama warga yang tinggal di pesisir pantai dan di wilayah sekitar lokasi bangunan," pungkas Novita.
Sementara itu, perwakilan Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis (Satker PS) Jawa Tengah, Kurnia Sandi, mengatakan perencanaan pembangunan shelter telah dibahas bersama sejumlah pihak, termasuk narasumber dari Kabupaten Cilacap.
Pembahasan tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan memenuhi standar keselamatan dan keandalan bangunan.
"Dari segi konstruksi dan perencanaan telah kita bahas bersama, dengan kajian dan perencanaan dari narasumber Kabupaten. Kami juga akan meminta surat pernyataan keandalan bangunan dari kontraktor, konsultan pengawas atau manajemen konstruksi (MK), serta pihak perencana," ucap Kurnia.
Kurnia menyebut progres pembangunan saat peninjauan telah mencapai sekitar 0,405 persen, sedikit di atas target rencana sebesar 0,402 persen.
Proyek tersebut memiliki durasi pelaksanaan 300 hari kalender, terhitung mulai 25 September 2026 hingga 21 Juli 2027.
"Harapan kami pembangunan shelter tsunami ini berjalan lancar, aman, dan bermanfaat bagi masyarakat Cilacap, minta doanya," tutur Kurnia.
Pembangunan shelter ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir Cilacap.
Keberadaan tempat evakuasi yang memadai menjadi salah satu upaya untuk mengurangi risiko dan melindungi warga ketika terjadi bencana.(*)