KETIK, MALANG – Literasi kesehatan mental dinilai menjadi bagian penting dalam pendidikan dan pengasuhan remaja. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai gangguan psikologis, tetapi juga mencakup kemampuan mengenali kondisi diri, memahami emosi, mengelola tekanan, hingga mengetahui kapan dan bagaimana mencari bantuan.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Hj. Muslihati, M.Pd., dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang (UM), dalam Sarasehan dan Dialog Interaktif bertajuk “Literasi Kesehatan Mental Remaja” di Aula D3 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Prof. Muslihati menegaskan, remaja tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk mengenali diri dan membangun ketahanan psikologis dalam menghadapi berbagai tekanan.
“Remaja tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik. Mereka juga perlu memiliki kemampuan mengenali diri, memahami emosi, mengelola tekanan, serta memiliki keberanian untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan. Karena itu, keluarga dan lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi remaja untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Dalam materi yang disampaikan, literasi kesehatan mental didefinisikan sebagai pengetahuan dan keyakinan tentang kondisi kesehatan mental yang dapat membantu munculnya kesadaran, pengelolaan, atau pencegahan terhadap potensi gangguan mental.
Baca Juga:
Pelajar Asahan Lolos ISLT 2026, Bupati Taufik Dorong Grace Natalie Jadi Pemimpin Masa DepanSejumlah indikator literasi kesehatan mental antara lain kemampuan mengenali gangguan atau tekanan psikologis yang dialami, memahami penyebab dan risiko, melakukan intervensi secara mandiri, mengakui kondisi mental dan mengetahui cara mencari bantuan, memahami bantuan profesional yang tersedia, serta mampu mencari informasi mengenai kesehatan mental.
Urgensi literasi tersebut juga terlihat dari sejumlah data yang dipaparkan. Penelitian Desi, Aris Felita dan Angkit Kinasih pada 2020 menemukan 24 persen siswa laki-laki dan 40 persen siswa perempuan teridentifikasi mengalami gejala depresi. Sementara penelitian Shella Utomo, Kristi Lisdyani, dan Anggi Agustina Rahayu pada 2021 mencatat angka pengguna media sosial pada remaja mencapai 91 persen dan menyebut media sosial berpengaruh signifikan terhadap potensi depresi pada remaja.
Dalam survei lain yang dipaparkan, 98 persen partisipan merasa kesepian dalam sebulan terakhir, 40 persen berpikir untuk melukai diri sendiri bahkan bunuh diri, sementara hampir 70 persen responden tidak pernah mengakses layanan kesehatan mental.
Menurut Muslihati, membangun kesehatan mental remaja membutuhkan pendekatan yang utuh. Pencegahan dapat dilakukan melalui sosialisasi, habituasi, edukasi penguatan literasi kesehatan mental dan self care, dengan melibatkan keluarga, komunitas, masyarakat, profesional, organisasi masyarakat, serta pemerintah.
Baca Juga:
KKN UPN Jatim Dampingi Warga Wringinpitu Jombang Bangun Branding Briket Bonggol JagungRemaja juga perlu didampingi agar mampu mengenali potensi diri, mengembangkan ketahanan psikologis, sekaligus memiliki nilai dan karakter yang menjadi pegangan dalam menghadapi perubahan zaman.