GreenFaith Indonesia Tekankan Iman Harus Berpihak pada Keadilan Iklim di COP30 Belem Brazil

Jurnalis: Iwa AS
Editor: Akhmad Sugriwa

24 Nov 2025 23:11

Thumbnail GreenFaith Indonesia Tekankan  Iman Harus Berpihak pada Keadilan Iklim di COP30 Belem Brazil
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo, mewakili Presiden Prabowo Subianto, saat pembukaan United Nations Climate Change Conference (COP30) di Belem, Brazil, Kamis (6/11/25). (Foto: Kemenlh)

KETIK, JAKARTA – Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP30) di Belem, Brazil, telah ditutup. Forum global yang diharapkan menjadi penentu arah penyelamatan bumi justru menunjukkan gejala kian menjauh dari tujuan keadilan iklim. Di tengah ancaman pendidihan planet yang terus meningkat, perdebatan dan negosiasi dipandang lebih sibuk memperjualbelikan krisis dibandingkan memulihkannya.

Di tengah berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim COP30 di Brasil, Greenfaith Indonesia menyerukan urgensi keterlibatan tokoh agama dan masyarakat lintas iman dalam memperjuangkan keadilan iklim. Krisis iklim dinilai bukan hanya masalah sains, ekonomi, atau pembangunan, melainkan juga masalah moral dan spiritual yang menyangkut martabat manusia dan kesucian bumi.

GreenFaith Indonesia, dalam kertas posisi bertajuk ‘Iman untuk Keadilan Iklim’  yang dirilis hari ini, Senin 24 November 2025, menilai COP30 gagal memberi arah tegas untuk menghentikan energi fosil. Alih-alih mempercepat transisi, lebih dari 1.600 pelobi industri fosil memperoleh akses ke ruang-ruang perundingan penting. Rasio satu pelobi dalam setiap 25 peserta memperlihatkan pengaruh besar korporasi terhadap keputusan global. Paradigma “bisnis sebagai biasa”—yang menguntungkan negara maju dan korporasi bahan bakar fosil—masih menjadi warna dominan dalam forum yang seharusnya memulihkan planet.

Ironinya semakin terasa ketika Indonesia meraih “penghargaan” Fossil of The Day dari Climate Action Network International. Pemicunya ialah keterlibatan pelobi industri fosil dalam delegasi resmi Indonesia. Bagi GreenFaith Indonesia, langkah ini tidak hanya memperburuk diplomasi iklim nasional, tetapi juga mengkhianati nasib jutaan rakyat yang kini hidup dalam ancaman bencana ekologis berulang.

Baca Juga:
Apa Itu BP3R? Lembaga Baru untuk Percepat Program 3 Juta Rumah

Indonesia: Negara Rentan yang Justru Melegitimasi Krisis

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim: tenggelamnya desa pesisir, hilangnya ruang hidup nelayan, banjir rob tahunan, kekeringan ekstrem, serta meningkatnya angka pengungsi iklim. Berdasarkan data WALHI, lebih dari 5.416 desa pesisir tenggelam pada periode 2017–2020 akibat banjir rob. Pada saat yang sama, ribuan nelayan meninggal setiap tahun akibat cuaca ekstrem.

Namun, alih-alih memperkuat mitigasi dan adaptasi, sejumlah regulasi nasional justru memperparah krisis. Revisi UU Minerba, UU Cipta Kerja, serta penyusunan Second Nationally Determined Contribution (SNDC), dinilai membuka ruang ekspansi energi fosil dan deforestasi besar-besaran. Konsesi pertambangan yang dapat diberikan hingga ke ormas keagamaan menjadi preseden baru yang justru menggerus nilai moral dalam menjaga alam.

Respons GreenFaith Indonesia: Iman untuk Keadilan Iklim

Baca Juga:
Bupati Bandung: Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Praktik Baik Hadapi Perubahan Iklim

GreenFaith Indonesia memandang krisis iklim bukan sekadar perkara ekologis, tetapi juga spiritual dan moral. Eksploitasi alam lahir dari pandangan antroposentris—manusia sebagai pusat segala hal. Dalam pandangan GreenFaith, iman tidak seharusnya mengabdi pada logika kapitalistik yang merusak, tetapi mendesak manusia bertindak sebagai penjaga bumi (khalifah fil ardh).

Dalam konteks COP30, GreenFaith Indonesia menyampaikan empat sikap utama:
1. Keadilan Bagi yang Rentan
Krisis iklim menimpa kelompok berpendapatan rendah, masyarakat pesisir, nelayan, anak-anak, dan masyarakat adat. Kebijakan nasional harus berpihak pada adaptasi, mitigasi, dan pembiayaan loss and damage yang dapat diakses langsung oleh korban, bukan melalui skema rumit yang dikendalikan lembaga keuangan.

2. Transisi Energi yang Berkeadilan
Peralihan energi harus bersih, terbarukan, dan tidak merampas ruang hidup masyarakat. GreenFaith menolak transisi semu yang tetap bergantung pada gas, biomassa PLTU, atau eksploitasi nikel tanpa kendali.

3. Partisipasi Komunitas Berbasis Iman
Komunitas agama memiliki peran kunci memobilisasi perubahan gaya hidup ekologis dan solidaritas terhadap korban krisis iklim. Ajaran agama harus mendorong pengurangan konsumsi berlebih dan ekonomi yang tidak merusak.

4. Etika dan Spiritualitas dalam Kebijakan Publik
Keputusan politik dan ekonomi tidak boleh hanya dihitung dari keuntungan, tetapi harus mempertimbangkan keutuhan ciptaan, keberlanjutan alam, dan perlindungan generasi mendatang.

Iman Sebagai Kekayaan Moral untuk Menyelamatkan Bumi

GreenFaith Indonesia menegaskan, iman harus menjadi kekuatan moral untuk merombak cara pandang atas bumi. Ke depan, keadilan iklim harus diarusutamakan dalam pendidikan nasional dan literasi ekologis masyarakat. 

Generasi mendatang berhak atas masa depan yang tidak dibakar oleh kerakusan ekonomi hari ini. “Jika iman hanya diam saat bumi dirampas, maka ia kehilangan makna,” tegas GreenFaith Indonesia.(*)

Baca Sebelumnya

Gubernur Banten Buka Festival Santri Kabupaten Lebak 2025

Baca Selanjutnya

Bupati Pemalang Panen Padi Super Genjah M70D di Petarukan, Produktivitas Capai 11 Ton per Hektare

Tags:

Brazil GreenFaith Indonesia Belem Brazil iklim Keadilan Iklim COP30 Brazil hashim s djojohadikusumo

Berita lainnya oleh Iwa AS

Bupati Bandung Sampaikan Keluhan Warga Soal SLIK, Menteri PKP Langsung Beri Solusi KUR Perumahan

14 April 2026 00:48

Bupati Bandung Sampaikan Keluhan Warga Soal SLIK, Menteri PKP Langsung Beri Solusi KUR Perumahan

Respons Cepat Bupati Bandung, Pastikan Warga Terdampak Banjir dan Puting Beliung Segera Dibantu

13 April 2026 18:18

Respons Cepat Bupati Bandung, Pastikan Warga Terdampak Banjir dan Puting Beliung Segera Dibantu

Farhan Apresiasi Bakat Penyandang Autisme, Ajak Warga Lebih Inklusif

13 April 2026 15:52

Farhan Apresiasi Bakat Penyandang Autisme, Ajak Warga Lebih Inklusif

Bupati Bandung Gercep  Perbaiki Enam Rumah Rusak Berat Akibat Angin Kencang Bojongsoang

11 April 2026 19:56

Bupati Bandung Gercep Perbaiki Enam Rumah Rusak Berat Akibat Angin Kencang Bojongsoang

Bupati Bandung Instruksikan Kecamatan Margahayu Tangani Persoalan Banjir Secara Pentahelix

11 April 2026 15:15

Bupati Bandung Instruksikan Kecamatan Margahayu Tangani Persoalan Banjir Secara Pentahelix

Pastikan Hak Buruh Terpenuhi, Bupati Bandung Perintahkan Disnaker Sidak Perusahaan

10 April 2026 21:15

Pastikan Hak Buruh Terpenuhi, Bupati Bandung Perintahkan Disnaker Sidak Perusahaan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar