KETIK, MALANG – Globalizing Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan kegiatan Cakapolitika Town Hall 2026 dengan mengusung tema "Suara Muda, Kebijakan Tepat: Membaca Perilaku Politik Gen Z Kota Malang untuk Kebijakan Publik Berbasis Data" pada Kamis, 24 September 2026, di Aula Lantai 4 Gedung A FIA UB.

Kegiatan ini bertujuan merilis hasil survei "Profil dan Behavioral Mapping Generasi Muda Kota Malang: Wawasan Kebangsaan, Literasi Digital, Literasi Politik, Literasi Budaya hingga Perilaku Konsumen". Rangkaian diskusi ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa terkait pengetahuan kewarganegaraan dan tata kelola politik.

Forum diskusi ini dihadiri Ratno Sulistyanta, M.I.Kom., Mitra GUB-Indopol Survey, sebagai penyampai hasil riset, serta Dr. Verdy Firmantoro, M.I.Kom., sebagai moderator.

Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan beberapa narasumber, yakni Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., Wali Kota Malang yang diwakili oleh Noer Rahman Wijaya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Malang, Dito Arif Rakhmadi, S.AP., M.AP., dari DPRD Kota Malang, dan Moreno Soeprapto, S.Sos. Instansi pemerintah yang turut hadir dalam kegiatan ini adalah KPU Kota Malang dan Bawaslu Kota Malang.

Wakil Rektor IV UB, Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., mengungkapkan kegiatan ini secara khusus merilis hasil survei yang berfokus pada kondisi dan persepsi Gen Z terhadap kondisi bangsa saat ini.

Baca Juga:
Korban Kebakaran Ruko di Malang Masih Kritis, Jalani Perawatan Intensif di RSSA

Menurutnya, kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa UB dan generasi muda di Malang terkait kenegaraan, terutama politik dan pemerintahan.

"Memang ada pergeseran kesadaran dan ada memang perlu penguatan pendidikan kewarganegaraan, terutama politik, ke generasi muda yang disesuaikan dengan media yang ada sekarang," ujarnya.

Menurutnya, pergeseran tersebut disebabkan konsumsi teknologi yang secara tidak langsung membawa substansi terkait kewarganegaraan dan politik.

Puluhan mahasiswa mengikuti kegiatan Cakapolitika Town Hall 2026 yang digelar oleh Globalizing UB pada Kamis, 24 September 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

Baca Juga:
Perkuat Barisan di Jatim, SAPIR Resmi Bergabung dengan PPIR Dukung Prabowo-Gibran

Prof. Andi Kurniawan menyebut perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan harus cepat mengambil celah dengan memberikan informasi yang benar dan memperkuat pendidikan kewarganegaraan.

Menurutnya, jika perguruan tinggi tidak cukup kuat dalam mendampingi generasi muda, kesadaran akan kewarganegaraan yang mereka miliki dapat melemah.

Prof. Andi Kurniawan mengungkapkan bahwa sebenarnya mahasiswa atau generasi muda memiliki kepedulian terhadap tata pemerintahan atau penerapan nilai-nilai kewarganegaraan. Oleh karena itu, mereka harus mengetahui bagaimana mendapatkan informasi dan mengekspresikannya.

Dengan demikian, hasil survei ini menegaskan bahwa perlu ada penataan ulang dalam pendidikan politik dan kewarganegaraan.

Prof. Andi Kurniawan menuturkan Gen Z memiliki keunikan karena banyak mengonsumsi teknologi. Hal tersebut membuat penyampaian informasi yang lebih kompleks tidak hanya dilakukan melalui ruang diskusi atau bacaan.

"Perbedaan inilah yang membuat informasi ke mereka lebih kompleks, lebih berdimensi, sehingga mereka menghadapi tingkat kesulitan mencerna dan memahami yang lebih tinggi dari generasi-generasi sebelumnya," tuturnya.

Prof. Andi Kurniawan menekankan bahwa generasi muda harus membangun filter untuk membedakan sesuatu yang benar dan salah, serta menjadi panduan dalam bersikap ketika menyatakan pendapat.

Di era saat ini, banyak generasi muda yang masih peduli terhadap tata kelola pemerintahan. Namun, tetap diperlukan pendampingan dalam mencerna informasi dan menyampaikan pendapat.

"Karena di era sekarang siapapun orang bisa menjadi media, semua orang bisa memberikan informasi dan masalahnya tidak semua orang dewasa dalam membagikan informasi bisa membiaskan informasi yang mereka terima," jelas Prof. Andi Kurniawan.

"Maka saya melihat secara substansi saya masih berkeyakinan ada dasar yang kuat, tapi bagaimana memfilter informasi, memilah informasi, lalu dengan cerdas dan tepat menyampaikan ekspresi pendapat, aspirasi, itu yang menjadi PR," imbuhnya.

Dari kegiatan ini, hasil survei dengan pendekatan multidisiplin nantinya diharapkan dapat menghasilkan balanced ecosystem yang dapat berdampak secara global jika dikembangkan.

"Globalizing UB pada prinsipnya menginkubasi ini menjadi konsep akademis, menjadi konsep inovasi yang pada akhirnya nanti bisa ditawarkan UB ke global," ungkap Prof. Andi Kurniawan.

Melalui rilis hasil survei ini, Globalizing UB bukan hanya belajar dari isu-isu global, tetapi juga menawarkan sesuatu dari pengalaman dalam mengendalikan permasalahan lokal yang dapat berdampak dan relevan secara global. (*)