Di tengah riuhnya arus informasi digital, generasi muda Nahdliyyin di Tulungagung mencoba merawat satu hal yang sering luput dari perhatian: nalar kritis. Ikhtiar itu tampak dalam kegiatan Ramadan Talks 2026 yang digelar pada Minggu, 8 Maret 2026 di Bento Kopi Tulungagung.
Mengusung tema “Demokrasi Digital dan Nalar Kritis Generasi Z dalam Ekosistem Media Baru,” forum ini menjadi ruang perjumpaan pelajar, mahasiswa, dan pegiat literasi untuk mendiskusikan bagaimana generasi muda membaca realitas media digital secara lebih jernih.
Acara ini lahir dari kolaborasi elemen generasi muda Nahdliyyin, mulai dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), hingga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Kegiatan ini juga didukung oleh Urupedia.id serta komunitas literasi lokal di Tulungagung. Bagi kader muda Nahdliyyin, literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan membaca zaman.
Di era media baru, kemampuan memilah informasi, memahami konstruksi wacana, hingga memproduksi gagasan menjadi bagian dari tanggung jawab intelektual generasi muda.
Diskusi yang dimoderatori Elfinathu Rosida, Duta IPPNU Jawa Timur, diawali dengan opening speech dari Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I., pembina literasi Tulungagung. Dalam pengantarnya, ia mengingatkan bahwa tradisi literasi merupakan bagian penting dari warisan intelektual Islam yang perlu terus dijaga.
Menurutnya, membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga jalan untuk melatih ketekunan berpikir.
“Tradisi membaca dan menulis harus terus dijaga. Dari situlah lahir pemikiran kritis dan kontribusi intelektual generasi muda,” ujarnya.
Diskusi kemudian berlanjut dalam tiga sesi materi yang membedah fenomena media digital dari berbagai sudut pandang. Pada sesi pertama, Krisna Wahyu Yanuar, S.Sos, Pimpinan Redaksi Urupedia.id, membahas tema “Demokrasi Media Gen Z.”
Ia menekankan bahwa ruang digital hari ini bukan hanya tempat konsumsi informasi, tetapi juga ruang partisipasi publik. Karena itu, generasi muda memiliki peran penting dalam membangun ekosistem media yang sehat. Sesi kedua menghadirkan Julio Anwar dari Lembaga Pers PC IPNU Tulungagung yang membawakan materi “Strategi Dakwah Digital.”
Ia menyoroti pentingnya dakwah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai Islam yang ramah dan moderat.
Bagi generasi Nahdliyyin, dakwah di ruang digital bukan hanya soal menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menghadirkan Islam yang meneduhkan—sebagaimana tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini dirawat oleh Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, pada sesi ketiga, Rinaldy Rachmat, kader PC PMII Tulungagung, membawakan materi “Analisis Wacana.” Ia mengajak peserta memahami bagaimana pesan dan narasi dibentuk dalam ruang publik digital, sekaligus bagaimana membacanya secara kritis.
Di tengah maraknya hoaks, propaganda, dan manipulasi informasi, kemampuan membaca wacana menjadi penting agar generasi muda tidak mudah terjebak pada narasi yang menyesatkan.
Melalui forum seperti ini, generasi muda Nahdliyyin mencoba merawat tradisi intelektual yang selama ini menjadi bagian dari kultur Nahdlatul Ulama: tradisi membaca, berdiskusi, dan merawat nalar.
Di ruang sederhana seperti kedai kopi, percakapan tentang demokrasi digital dan literasi media menjadi tanda bahwa kaderisasi intelektual tetap hidup—bahkan di tengah zaman yang serba cepat dan digital.
Penulis: M. Fakhrina Haqiqul Umam
