Hampir sebulan terakhir, kampus kembali dipenuhi wajah-wajah baru. Mahasiswa datang membawa harapan, kecemasan, dan bayangan tentang sosok seperti apa yang ingin mereka menjadi setelah lulus nanti.

Di tangan mereka, hampir selalu ada gawai. Media sosial terus bergerak, notifikasi datang silih berganti, dan hampir semua informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik. Video pembelajaran, ringkasan buku, artikel, bahkan jawaban atas pertanyaan sulit kini hanya berjarak beberapa sentuhan layar.

Di dunia seperti ini, pertanyaan pentingnya bukan lagi: apakah Gen Z bisa mendapatkan informasi?

Tentu bisa. Bahkan sangat cepat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mereka masih mampu bertahan ketika sebuah pengetahuan tidak bisa dipahami dengan cepat?

Baca Juga:
Masa Depan Tidak Menunggu Wisuda

Universitas sejatinya bukan tempat untuk mengukur siapa yang paling cepat menemukan jawaban. Kampus adalah ruang untuk melatih manusia memahami persoalan, mempertanyakan sesuatu yang dianggap benar, menyusun alasan, membaca bukti, dan mengambil kesimpulan secara bertanggung jawab.

Di sinilah tantangan pendidikan tinggi hari ini. Yang mungkin terancam bukan kecerdasan Gen Z, melainkan kesabaran intelektual mereka: kesabaran membaca buku yang terasa berat, mengikuti teori yang belum terasa relevan, dan bertahan dalam persoalan tanpa buru-buru mencari jawaban.

Bukan Generasi Malas

Kita sering mendengar keluhan bahwa mahasiswa hari ini malas membaca, ingin semuanya serba instan, atau tidak lagi mampu berpikir mendalam. Penilaian semacam itu terlalu sederhana.

Baca Juga:
Menjaga Marwah Kejaksaan, Merawat Kepercayaan Bersama Pers

Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Mereka terbiasa belajar melalui video, gambar, simulasi, percakapan digital, dan berbagai konten interaktif. Mereka hidup dalam arus informasi yang nyaris tidak pernah berhenti.

Mereka bukan tidak mau belajar. Mereka belajar dalam ekologi perhatian yang berbeda.

Masalahnya, ekologi digital juga membentuk kebiasaan bahwa segala sesuatu harus cepat. Video harus menarik sejak detik pertama. Artikel yang terlalu panjang mudah ditinggalkan. Ketika persoalan terasa rumit, mesin pencari siap memberikan jawaban. Kini, AI bahkan dapat menyusunnya dalam hitungan detik.

Tanpa disadari, kita terbiasa berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lain: membaca sambil memeriksa pesan, mengikuti kuliah sambil membuka media sosial, atau mengerjakan tugas sambil berpindah aplikasi.

Penelitian Ophir, Nass, dan Wagner dari Stanford pada 2009 menunjukkan bahwa orang yang terbiasa melakukan media multitasking cenderung lebih mudah terdistraksi dan kesulitan menyaring informasi yang relevan. Sejumlah penelitian berikutnya juga menemukan hubungan antara kebiasaan berpindah perhatian dengan pemahaman bacaan dan proses belajar.

Namun, teknologi tentu tidak otomatis menjadi penyebab segala persoalan. Hubungan sebab-akibatnya tidak sesederhana itu. Yang jelas, perhatian adalah sumber daya terbatas, sementara pendidikan membutuhkan perhatian yang panjang.

Membaca Berarti Bertahan

Ada perbedaan antara membaca dan sekadar memindai informasi.

Membaca berarti mengikuti gagasan dari awal hingga akhir, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, menemukan kelemahan argumen, membandingkannya dengan pendapat lain, lalu membangun kesimpulan sendiri.

Proses itu membutuhkan waktu.

Budaya scrolling justru mengajarkan sebaliknya. Ketika konten terasa membosankan, kita tinggal menggeser layar. Ketika penjelasan terasa sulit, kita mencari penjelasan lain.

Karena itu, persoalannya bukan lagi sekadar buku cetak versus layar. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika membaca, apakah mahasiswa benar-benar memahami atau hanya mencari bagian yang bisa segera digunakan?

Meta-analisis Delgado dan koleganya pada 2018 memang menemukan bahwa membaca di atas kertas dalam kondisi tertentu sedikit lebih unggul dalam pemahaman dibandingkan membaca dari layar. Namun, buku elektronik tetap bisa dibaca secara mendalam, sementara buku cetak pun bisa dibaca tergesa-gesa.

Yang menentukan pada akhirnya adalah kualitas perhatian.

Kampus dan Kesulitan yang Sehat

Kampus tidak perlu memusuhi gawai, media sosial, apalagi AI. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Tugas pendidikan justru mengajarkan mereka menggunakan teknologi tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya.

Dunlosky dan koleganya dalam tinjauan tentang teknik belajar pada 2013 menunjukkan bahwa strategi belajar yang efektif sering kali terasa tidak nyaman: mengingat kembali materi tanpa membuka catatan, belajar dengan jeda waktu, dan menjelaskan konsep menggunakan bahasa sendiri.

Artinya, belajar yang benar tidak selalu menyenangkan.

Kadang mahasiswa perlu mengalami kebingungan. Membaca paragraf yang sama berulang kali. Menulis, menghapus, lalu menulis kembali karena menyadari argumennya belum kuat.

Itulah kesulitan intelektual yang sehat bukan kesulitan yang membuat mahasiswa putus asa, tetapi kesulitan yang memaksa mereka berpikir.

Karena itu, institusi pendidikan tinggi perlu berani mengevaluasi kembali cara kita menilai tugas dan proses belajar mahasiswa. Jika yang dihargai hanya makalah yang selesai, presentasi yang berjalan, atau jawaban yang benar, maka jalan pintas akan selalu tampak lebih menarik daripada proses belajar yang sesungguhnya.

Sebaliknya, jika yang dinilai adalah proses, sumber, alasan, refleksi, dan kemampuan mempertanggungjawabkan jawaban, mahasiswa akan memiliki alasan untuk benar-benar berpikir.

Pertanyaan tugas kuliah pun perlu bergeser dari sekadar “Apa jawabannya?” menjadi “Mengapa jawaban itu dapat dipercaya?”

AI Boleh Membantu, Bukan Menggantikan

AI dapat membantu mencari ide, menyusun kerangka, menerjemahkan, atau memberikan umpan balik. Namun, AI juga dapat menghasilkan informasi keliru, sumber yang tidak pernah ada, atau jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi salah.

Karena itu, literasi AI tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa cara menggunakan AI. Mereka juga harus belajar cara meragukannya.

Mahasiswa perlu memahami bahwa jawaban yang terdengar pintar belum tentu benar, kalimat yang rapi belum tentu memiliki argumen kuat, dan informasi yang disampaikan dengan percaya diri belum tentu didukung bukti.

Penggunaan AI sebaiknya transparan. Dosen dapat meminta mahasiswa menyertakan proses penulisan, sumber, refleksi, atau menjelaskan tugasnya secara lisan.

AI boleh menjadi alat bantu. Namun, tanggung jawab atas sebuah gagasan tetap berada di tangan manusia.

Di sinilah peran dosen justru semakin penting. Ketika informasi mudah ditemukan, mahasiswa membutuhkan pendamping yang membantu mereka membedakan fakta dari opini, argumen dari propaganda, dan bukti dari klaim.

Berani Berpikir Pelan

Dengan demikian universitas tidak boleh berubah menjadi tempat distribusi jawaban cepat.

Gen Z tidak membutuhkan kampus yang memusuhi dunia digital. Mereka membutuhkan kampus yang membantu mereka menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.

Mereka tidak perlu diajari menjadi manusia yang lebih cepat daripada mesin. Mereka perlu diajari menjadi manusia yang lebih bijak dalam menggunakan mesin.

Sebab ada sesuatu yang tidak bisa digantikan tombol search, scroll, maupun generate: kesediaan untuk duduk lebih lama bersama sebuah pertanyaan.

Itulah kesabaran intelektual.

Kemampuan untuk tetap membaca ketika jawaban belum ditemukan. Tetap berpikir ketika persoalan belum jelas. Tetap bertanya ketika orang lain sudah merasa paling tahu.

Di tengah zaman yang memuja kecepatan, kemampuan berpikir pelan bukan kelemahan.

Ia adalah bentuk keberanian.

Dan mungkin, itulah keterampilan paling penting yang harus dibawa mahasiswa dari kampus menuju kehidupan: bukan sekadar kemampuan menemukan jawaban, tetapi kesanggupan bertahan dalam perjalanan panjang untuk menemukan kebenaran

*) Dr. Dwi Hidayatul Firdaus, M.Si merupakan Dosen Fakultas Syariah UIN Malang

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)