Gen Z dan Gagap Politik di Tengah Arus Globalisasi

Editor: Mustopa

12 Des 2024 11:04

Thumbnail Gen Z dan Gagap Politik di Tengah Arus Globalisasi
Oleh: Navyra Angie Supriyanto*

Fenomena keterlibatan generasi muda Indonesia dalam politik akhir-akhir ini menunjukkan beberapa dinamika menarik. Terlihat pada Pemilu 2024 dimana Gen Z menjadi salah satu sasaran utama kampanye karena tingginya minat mereka terhadap isu politik yang berbeda dari generasi sebelumnya. 

Berdasarkan hasil survei CSIS, karakter calon pemimpin 2024 oleh pandangan generasi muda mengalami perubahan dibanding 2019 lalu. Gen Z cenderung memilih pemimpin yang jujur, bebas korupsi, dan mengutamakan isu-isu yang berkaitan dengan kehidupan realita, seperti, keadilan sosial, lingkungan, dan hak asasi manusia. 

Hal tersebut mencerminkan peningkatan kesadaran dan perhatian mereka terhadap situasi politik yang lebih baik. Namun, apakah itu menunjukkan bahwa Gen Z sudah tahu betul akan pilihannya? Lalu, bagaimana jika hanya segelintir yang paham dan sisanya ikut-ikutan? Mari kita simak dalam artikel ini!

Di tengah kuatnya arus globalisasi, media sosial memainkan peran krusial dalam membentuk pandangan politik Gen Z terutama melalui platform, seperti instagram, twitter, yang paling sering digunakan untuk mengakses informasi politik, diikuti oleh Youtube, TikTok, dan Facebook. Menurut APJII, jumlah penggunaan internet Indonesia tahun 2024 didominasi oleh Gen Z dengan presentase sebesar 34,40 persen.

Baca Juga:
Pemkot Surabaya Siapkan Rusunami Gen Z, Solusi Hunian Terjangkau Bagi Pasangan Muda

Hal itu menunjukkan seberapa pentingnya peran generasi muda dalam dinamika politik di Indonesia, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang. Mereka dapat menggunakan media sosial tidak hanya sebagai alat untuk menyuarakan ketidakpuasan atau tuntutan, tetapi juga untuk membangun kesadaran akan isu-isu sosial dan politik yang relevan, serta menginspirasi aksi-aksi konstruktif dalam masyarakat. 

Karya-karya seperti tulisan (karya tulis ilmiah, puisi), seni visual (lukisan), dan kampanye online (kitabisa.com, Change.org) yang dapat berkontribusi secara signifikan dalam membangun kesadaran publik dan merumuskan solusi untuk tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa ini sehingga menciptakan perubahan yang positif bagi kemajuan Indonesia.

Instagram, Twitter, TikTok, dan Youtube adalah beberapa platform online paling populer dalam mengakses informasi politik oleh banyak orang, terutama Gen Z. Namun, tingginya konsumsi informasi melalui media sosial membuat mereka rentan terhadap informasi palsu atau hoax, yang sering dieksploitasi oleh aktor politik untuk menggiring opini secara negatif. 

Hal tersebut merupakan tantangan dalam memilah informasi valid dan yang tidak valid, serta dapat membuat pemahaman politik Gen Z terdistorsi. Akibatnya, meskipun generasi muda sangat vokal melalui sosial media, mereka kerap mengalami kebingungan ketika harus mengambil sikap di dunia politik nyata. Fenomena tersebut dikenal sebagai gagap politik, yang terjadi karena minimnya pengalaman dan literasi politik yang mendalam. 

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Gagap politik tidak hanya terjadi karena faktor kurangnya pemahaman oleh generasi muda terhadap isu politik, tetapi juga tentang kesulitan penyesuaian dengan dunia politik nyata. Meskipun mereka berpotensi besar untuk membawa perubahan dalam politik, tetapi pengalaman politik mereka masih terbatas. 

Secara garis besar, gagap politik menunjukkan adanya jarak antara apa yang mereka anggap penting di dunia maya dan apa yang terjadi di dunia nyata dalam proses politik. Ketika dihadapkan pada dunia nyata, banyak yang merasa cemas dan tidak siap karena belum terbiasa dengan dinamika politik yang kompleks.

Hal tersebut dapat menciptakan shock culture ketika Gen Z mulai terlibat lebih jauh dalam politik. Dengan begitu, gagap politik yang muncul karena ketidakpahaman terhadap sistem politik bisa menjadi pintu gerbang menuju shock culture. Ketika Gen Z mulai menyadari kompleksitas politik yang lebih mendalam dan penuh kompromi, mereka bisa merasa bahwa dunia politik tidak sesuai dengan harapan mereka yang idealis. 

Hal ini, pada gilirannya, bisa membuat mereka merasa putus asa atau terasing, bahkan jika mereka tetap aktif dalam dunia politik. Kedua fenomena ini—gagap politik dan shock culture—merupakan bagian dari proses yang dialami Gen Z ketika mereka mencoba menavigasi dunia politik yang lebih kompleks dan penuh tantangan.
 
*) Navyra Angie Supriyanto merupakan mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id
****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Kusuma Agrowisata Batu Hadirkan Wonderful Nusantara di Malam Pergantian Tahun

Baca Selanjutnya

[Berita Foto] MUI Kabupaten Cianjur Wisuda 40 Kader Ulama

Tags:

opini Navyra Angie Supriyanto Gen Z Gagap Politik

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar