KETIK, GRESIK – PT Freeport Indonesia (PTFI) menggelar pelatihan kesiapsiagaan dan tanggap bencana bagi ratusan warga di Kabupaten Gresik sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat sejak dari lingkungan rumah tangga.
Program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat mitigasi bencana dan membangun budaya sadar risiko di tengah masyarakat, khususnya di desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan.
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga tahap dan menyasar total 600 peserta dari sembilan desa di Kabupaten Gresik.
Pada Batch 1 yang digelar Selasa, 21 Juli 2026, sebanyak 200 warga dari Desa Manyar Sidorukun, Manyar Sidomukti, dan Manyarrejo mengikuti pelatihan di Gedung Serbaguna Raden Paku, Desa Sidorukun.
Sementara itu, Batch 2 yang dilaksanakan Rabu, 22 Juli 2026, di Balai Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, diikuti 200 warga dari Desa Bedanten, Banyuwangi, dan Karangrejo.
Baca Juga:
Diduga Intimidasi Jurnalis saat Liputan, Oknum Karyawan Koperasi di Cerme Dilaporkan ke Polres GresikAdapun Batch 3 dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 28 Juli 2026, di GOR Watuagung Mengare dengan melibatkan 200 warga dari Desa Tajungwidoro, Watuagung, dan Kramat.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat dibekali berbagai keterampilan menghadapi keadaan darurat, mulai dari penanganan kebocoran gas elpiji yang berpotensi memicu kebakaran hingga teknik evakuasi hewan liar.
Wakil Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia, Sony Suryanto, mengatakan peningkatan kapasitas masyarakat perlu dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader, hingga relawan.
Baca Juga:
Komitmen Tekan Kemiskinan, Pemkab Gresik Salurkan Bantuan Material RTLH di Tiga Desa"Kegiatan pelatihan kesiapsiagaan dan tanggap darurat kebencanaan desa ini diselenggarakan sebagai wujud dan bentuk komitmen bersama untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Perusahaan mendorong terciptanya lingkungan desa yang aman dan tangguh serta membangun budaya siap-siaga bencana di masyarakat," ujarnya.
Pelatihan menggabungkan penyampaian materi, demonstrasi, simulasi evakuasi, hingga praktik penggunaan alat pemadam sederhana.
Metode tersebut diterapkan agar masyarakat memahami langkah mitigasi secara tepat, mulai dari respons awal, prosedur evakuasi yang aman, hingga koordinasi penanganan darurat di tingkat desa.
Sony berharap masyarakat dapat berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan tanggap terhadap berbagai potensi bencana, baik yang bersifat alam maupun nonalam.
"Keterlibatan perangkat desa, kader masyarakat, tokoh masyarakat, dan relawan menjadi contoh nyata bahwa budaya sadar bencana dapat dibangun mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar," tambahnya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah pihak, antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (PMK), Occupational Health and Safety (OHS) PT Freeport Indonesia, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Gresik.
Perwakilan FPRB Kabupaten Gresik, Anis Firmansyah, mengapresiasi langkah PT Freeport Indonesia dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan yang dimulai dari lingkup rumah tangga.
Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan wawasan dan pengalaman baru bagi masyarakat dalam menghadapi potensi bencana nonalam, seperti kebakaran dan evakuasi hewan liar.
"Melalui sinergi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat, kita bangun desa-desa yang lebih resilien dan tangguh bencana," pungkasnya.(*)