KETIK, JAKARTA – Memasuki akhir tahun, ketidakpastian kerap hadir dalam aktivitas sehari-hari. Musim hujan datang bersamaan dengan cuaca yang mudah berubah, pemadaman listrik dapat terjadi sewaktu-waktu, dan mobilitas masyarakat meningkat menjelang libur panjang.
Dalam kondisi seperti ini, kesiapsiagaan tidak selalu harus berbentuk tas darurat berukuran besar. Ada bentuk kesiapan yang lebih sederhana dan dapat dibawa setiap hari, yakni Everyday Carry (EDC).
Pegiat alam bebas, Agus Setyawan, menjelaskan bahwa EDC merupakan perlengkapan yang dibawa dalam aktivitas harian.
“EDC adalah alat-alat esensial yang dibawa setiap hari. Perlengkapan ini berpotensi menjadi alat penyelamat dalam kondisi darurat,” ujarnya melalui kanal YouTube Teman Sejalan.
Konsep EDC sendiri telah berkembang hampir sepanjang usia peradaban manusia. Pada masa Mesir Kuno, masyarakat terbiasa membawa pisau, sisir, dan perkakas kecil dalam keseharian. Sementara itu, masyarakat Romawi dikenal membawa kunci serta alat tulis sebagai bagian dari aktivitas harian mereka.
Memasuki abad ke-20, konsep EDC banyak diterapkan oleh kalangan militer. Dalam dua edisi Perang Dunia, personel militer menjadikan pisau, kompas, serta perlengkapan sederhana lain sebagai bagian dari perlengkapan harian mereka.
Kebiasaan tersebut kemudian diadopsi oleh masyarakat sipil. Warga mulai menyusun EDC yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. EDC seorang pekerja sektor pertanian tentu berbeda dengan pekerja kantoran di kawasan perkotaan.
Meski berbeda antarindividu, terdapat filosofi yang sama dalam penyusunan EDC, yakni prinsip selalu siap.
Salah satu pegiat kampanye EDC, Bernard Capulong, menyebut bahwa EDC berangkat dari dua prinsip utama.
“Filosofi EDC didasarkan pada kegunaan dan kesiapan. Setiap komponen dalam EDC seharusnya memiliki tujuan atau setidaknya satu fungsi spesifik yang bermanfaat,” ujarnya.
Setiap orang memang memiliki kebebasan dalam menyusun daftar EDC mereka. Namun, dalam konteks masyarakat modern, dompet, ponsel, dan kunci dapat dianggap sebagai komponen inti EDC. Kehilangan salah satu dari ketiga barang tersebut kerap mengganggu aktivitas sehari-hari.
Di luar komponen inti tersebut, EDC dapat dilengkapi dengan perlengkapan survival ringan. Misalnya, multitool atau pisau lipat kecil untuk membuka paket, serta senter berukuran ringkas yang berguna saat terjadi pemadaman listrik mendadak.
EDC juga dapat dilengkapi dengan kantong P3K mini. Keberadaan perlengkapan ini setidaknya membantu penanganan luka ringan, seperti jari teriris atau cedera kecil lainnya. Obat-obatan pribadi juga dapat disertakan sesuai kebutuhan.
Selain itu, perlengkapan pendukung lain seperti powerbank, kabel data, alat tulis, dan buku catatan kecil dapat menjadi pelengkap EDC.
Kendati terdapat banyak pilihan perlengkapan, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun EDC. Aspek utama adalah fungsi. EDC disusun untuk mempermudah dan menyelamatkan aktivitas harian, bukan sekadar untuk kepentingan gaya.
Pilihlah perlengkapan yang berukuran ringkas, ringan, dan tahan digunakan dalam berbagai kondisi. Hal ini penting agar EDC benar-benar dibawa dan digunakan, bukan hanya disimpan.
Terakhir, simpan EDC pada tempat khusus yang mudah diakses. Saat ini telah tersedia berbagai pouch dan tas kecil yang dirancang untuk mengorganisir perlengkapan EDC secara efisien.
Pada akhirnya, EDC dapat diibaratkan sebagai payung lipat—sering dianggap merepotkan, namun kerap menjadi penyelamat di saat dibutuhkan. Karenanya, tak ada salahnya mulai menyiapkan EDC sesuai kebutuhan masing-masing. (*)
