KETIK, MALANG – Berkarier lebih dari satu dekade di industri keuangan, Eka H. Setyawan kini dipercaya memimpin Bank BTN Kantor Cabang Pembantu (KCP) Sawojajar, Kota Malang.
Di bawah kepemimpinannya, BTN Sawojajar bertransformasi dari sekadar dikenal sebagai bank pembiayaan perumahan menjadi bank dengan layanan yang lebih luas melalui penguatan digitalisasi dan ekspansi bisnis.
Eka menjabat sebagai Kepala KCP BTN Sawojajar sejak Agustus 2024. Ia menyebut tantangan terbesar BTN saat ini adalah memperluas persepsi masyarakat yang selama ini identik dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Kalau dulu image BTN kan hanya properti, properti, properti, perumahan. Sekarang bisnis properti tetap tidak ditinggalkan, tetapi dengan posisi persaingan yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, persaingan di sektor KPR kini semakin terbuka karena hampir seluruh bank besar, termasuk bank BUMN dan bank syariah, juga masuk dalam program pembiayaan perumahan.
Baca Juga:
Temukan 200 Kasus Positif TBC, Pemkot Malang Kejar Target Pengobatan 90 PersenKondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi BTN untuk memperkuat lini bisnis lainnya.
“Dulu mungkin orang kenal KPR subsidi hanya BTN. Sekarang KPR subsidi hampir semua bank BUMN bisa handle. Di satu sisi bagus untuk program pemerintah, tetapi buat BTN sendiri menjadi tantangan karena pasar yang sebelumnya kami punya juga mulai diambil bank lain,” katanya.
Menghadapi perubahan tersebut, BTN kini gencar mengembangkan layanan berbasis digital melalui berbagai platform, salah satunya Bale BTN.
Eka menjelaskan, Bale BTN menyasar nasabah ritel perorangan, sedangkan Bale Bisnis dan Bale Korporat diarahkan untuk kebutuhan perusahaan, industri, hingga institusi besar.
Baca Juga:
Wamenkes RI Sebut Layanan Kesehatan Kota Malang Layak Jadi Percontohan Nasional“Bale Bisnis kami arahkan ke industri, swasta maupun perusahaan. Sedangkan Bale Korporat untuk perusahaan besar seperti rumah sakit, mulai dari rekening operasional, rekening gaji, sampai partner dan vendor bisa masuk melalui ekosistem BTN,” jelasnya.
Mengembangkan Potensi Sawojajar
Menurut Eka, wilayah Sawojajar memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena telah berkembang seperti sebuah kota mandiri.
Kawasan ini tidak hanya dihuni permukiman padat, tetapi juga memiliki sektor pendidikan, industri, perkantoran, dan kawasan bisnis di sekitarnya.
“Lingkungan sekitar Sawojajar itu sudah seperti kota sendiri. Dari sisi pendidikan, industri, maupun kawasan sekitar seperti Pakis dan Tumpang, potensinya besar,” ungkapnya.
Meski pencapaian saat ini belum sepenuhnya optimal, Eka optimistis BTN Sawojajar mampu tumbuh dengan melihat potensi pasar yang tersedia.
Salah satu target besar yang tengah dirintis adalah menjadikan KCP Sawojajar naik kelas menjadi kantor cabang mandiri.
Saat ini, BTN Sawojajar masih berstatus sebagai Kantor Cabang Pembantu yang berada di bawah Kantor Cabang Malang. Untuk menjadi kantor cabang kelas 3, diperlukan peningkatan kinerja terutama dari sisi aset, penghimpunan dana pihak ketiga, serta penyaluran kredit.
“Harapan maupun cita-cita Kantor Cabang Malang secara umum adalah memandirikan KCP Sawojajar. Artinya Sawojajar bisa menjadi kantor cabang sendiri,” tutur Eka.
Ia memperkirakan proses tersebut membutuhkan peningkatan kinerja yang signifikan.
“Harus ada progres hampir dua kali lipat dari kondisi sekarang. Itu yang sedang kami rintis bertahap. Semoga dalam dua sampai tiga tahun sudah bisa mencapai pencapaian tersebut,” katanya.
Bagi Eka, keberhasilan itu bukan hanya soal jabatan, tetapi juga meninggalkan fondasi yang baik bagi penerusnya.
“Walaupun nanti saya tidak di sini, semoga bisa meninggalkan legacy yang bagus dan bermanfaat,” ujarnya.
Perjalanan Karier dari Perikanan ke Dunia Perbankan
Menariknya, perjalanan Eka menuju dunia perbankan tidak dimulai dari latar belakang ekonomi maupun keuangan. Ia merupakan lulusan Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya.
“Sebenarnya lucu kalau bicara background kuliah, karena tidak ada hubungannya sama perbankan. Saya kuliah di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya,” kata Eka.
Ia masuk kuliah pada 2004. Setelah lulus, langkah awal kariernya justru dimulai di industri pembiayaan atau leasing.
“Saya pertama bekerja di leasing, masuk ke industri keuangan. Sempat di Bank BRI, dan mulai 2012 sampai hari ini di BTN,” ujarnya.
Selama berkarier di BTN, Eka banyak menghabiskan perjalanan tugas di wilayah Jawa Timur. Ia pernah bertugas di Surabaya, Malang, serta sempat singgah di Semarang meski hanya beberapa bulan.
“Saya termasuk orang yang beruntung. Hanya dua kota plus satu, Surabaya, Malang, sempat singgah di Semarang tiga bulan. Selebihnya Jawa Timur,” katanya.
Malang, Kota yang Menjadi Rumah Kedua
Meski berasal dari Magelang, Jawa Tengah, Eka mengaku sebagian besar perjalanan hidupnya justru berada di Jawa Timur.
Ia lahir dan besar di Magelang hingga jenjang SMA, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya dan menetap di Malang hingga kini.
“Kalau dihitung, separuh lebih umur saya malah ada di Jawa Timur daripada di kampung halaman,” ujarnya.
Di luar kesibukan memimpin BTN Sawojajar, Eka juga memiliki hobi olahraga. Ia mengaku pernah aktif bermain futsal dan sepak bola, meski kini harus mengurangi aktivitas tersebut akibat cedera lutut.
“Dulu biasanya futsal dan sepak bola. Tapi karena kondisi kaki sudah tidak memungkinkan, pernah cedera ACL (anterior cruciate ligament),” katanya.
Dengan pengalaman panjang di industri keuangan dan kedekatan dengan karakter masyarakat Malang, Eka berharap BTN Sawojajar dapat terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi kawasan timur Kota Malang. (*)