KETIK, SURABAYA – Dunia anak kerap dianggap sebagai dunia yang sederhana: bermain, bersekolah, dan mengenal lingkungan sekitar. Namun, apakah dunia anak memang benar-benar terbebas dari persoalan yang dialami oleh orang dewasa?
Pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam Na Willa, buku karya Reda Gaudiamo yang menceritakan keseharian seorang anak perempuan berusia lima tahun di sebuah gang di Kota Surabaya. Melalui cerita-cerita pendek tentang kehidupan Willa, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang seorang anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi karya Cecilia Hidayat yang mendukung cerita dalam setiap babnya. Diterbitkan oleh POST Press pada 2018, karya ini berhasil digemari oleh banyak kalangan, terkhususnya anak-anak.
Dalam kesehariannya, Willa memiliki banyak petualangan kecil yang sederhana. Buku ini mengangkat tema utama kehidupan sehari-hari dan kepolosan anak-anak dalam melihat lingkungannya. Selain itu, ada juga tema pendukung seperti kekeluargaan, persahabatan, kehidupan sosial, sampai kritik sosial yang dibungkus melalui perspektif anak-anak.
Persoalan Besar dalam Dunia Kecil
Baca Juga:
Kota Pahlawan Dalam Layar Lebar, Ini Deretan Film Bernuansa Sejarah dan Budaya SurabayaDi balik cerita-cerita sederhananya, Na Willa menunjukkan bahwa dunia anak tidak sepenuhnya terpisah dari persoalan sosial. Melalui sudut pandang Na Willa sebagai anak umur lima tahun, pembaca dapat menemukan berbagai persoalan yang mungkin terlihat “dewasa”, tetapi ternyata juga hadir dalam keseharian seorang anak. Contoh isu yang dimuat dalam buku ini antara lain adalah rasisme, disabilitas dan diskriminasi, sampai pernikahan dini.
Dalam usianya yang masih kecil, Willa sudah mengalami hinaan yang mengarah pada rasisme. Ia dicemooh dan dipanggil dengan sebutan “asu cino”. Yang menarik, hinaan tersebut datang dari seorang anak yang juga memiliki disabilitas. Situasi ini memperlihatkan bahwa pengalaman sebagai kelompok yang rentan terhadap diskriminasi tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari perilaku diskriminatif terhadap orang lain.
Dalam lingkungan sosial, seseorang dapat berada di posisi sebagai pihak yang mengalami diskriminasi sekaligus menjadi pihak yang melakukan diskriminasi. Bagi Willa yang masih kecil, peristiwa tersebut mungkin hadir sebagai bagian dari interaksi sehari-hari. Namun, bagi pembaca, adegan sederhana itu membuka persoalan yang lebih besar mengenai bagaimana prasangka terhadap identitas seseorang dapat tumbuh dan muncul bahkan dalam lingkungan anak-anak.
Persoalan lain muncul ketika Mbak Tin, kakak Farida atau yang kerap dipanggil Ida, akan dinikahkan di usia muda dengan laki-laki yang jauh lebih tua. Willa dan Ida yang masih kecil melihat peristiwa itu dengan polos. Ketika Mbak Tin menangis, Ida bahkan berkata, “kalau mau nikah harus nangis,” seolah-olah tangisan merupakan bagian yang wajar dari pernikahan. Padahal, Mbak Tin menangis karena tidak ingin menikah. Adegan ini menunjukkan bagaimana anak dapat memahami suatu peristiwa melalui anggapan yang mereka dengar dari lingkungan sekitar, sementara alasan sebenarnya jauh lebih kompleks.
Baca Juga:
Sukses dengan Na Willa, Reda Gaudiamo Juga Dikenal Lewat Musikalisasi Puisi, Ini Playlistnya!Ketika Willa bertanya kepada Mak mengapa Mbak Tin menangis, Mak menjelaskannya sesuai dengan porsi pemahaman Willa. Dari sini, Na Willa memperlihatkan bagaimana persoalan orang dewasa hadir di hadapan anak, tetapi tidak selalu dapat dijelaskan kepada mereka secara utuh.
Lebih dari Sekadar Cerita Anak
Melalui keseharian Willa, persoalan yang terlihat sederhana ternyata menyimpan persoalan sosial yang lebih besar. Rasisme dan pernikahan dini hadir bukan sebagai sesuatu yang dijelaskan secara rumit, melainkan sebagai bagian dari dunia yang perlahan dikenali oleh anak-anak. Justru dari kepolosan Willa, pembaca dapat melihat bagaimana lingkungan membentuk cara anak memahami hal-hal di sekitarnya. Na Willa pada akhirnya tidak hanya bercerita tentang masa kanak-kanak, tetapi juga tentang dunia tempat anak-anak tumbuh dengan segala persoalan yang ada di dalamnya. (*)