KETIK, SLEMAN – Kesehatan gigi dan mulut masih sering dianggap sebagai persoalan kesehatan yang dapat ditunda. Padahal, gangguan pada gigi dan mulut tidak selalu berhenti pada rasa sakit atau kerusakan gigi, tetapi dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kesehatan gigi. Menurutnya, kondisi rongga mulut memiliki hubungan dengan kesehatan sistemik sehingga masalah yang dibiarkan dapat menimbulkan dampak lebih luas.
"Gigi bisa menjadi salah satu sumber infeksi akibat bakteri yang menyebar karena tidak bersihnya area mulut," jelas Suryono, Selasa, 11 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan bakteri dan infeksi pada rongga mulut perlu menjadi perhatian karena tubuh memiliki sistem yang saling berkaitan. Ketika masalah kesehatan gigi tidak mendapatkan penanganan, kondisi tersebut dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas seseorang.
"Kalau kita melihatnya secara holistik, kesehatan gigi juga berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan," kata Suryono.
Baca Juga:
Atasi Kekurangan Dokter Gigi di Daerah, Mencuat Wacana Beasiswa Putra Daerah dan Ikatan DinasGangguan kesehatan gigi juga dapat memengaruhi produktivitas masyarakat. Rasa sakit, gangguan makan, hingga kondisi tubuh yang tidak prima dapat membuat seseorang kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal.
Suryono menilai dampak tersebut pada akhirnya dapat berhubungan dengan kondisi ekonomi seseorang. Ketika kesehatan terganggu, kemampuan bekerja dan menjalankan aktivitas produktif dapat ikut menurun sehingga berpotensi memengaruhi pendapatan.
"Produktivitas itu pada akhirnya berkaitan dengan performa finansial. Kalau kondisi kesehatan terganggu, tentu aktivitas dan produktivitas juga bisa ikut terdampak," ujarnya.
Karena itu, pemeriksaan dan perawatan gigi secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Masyarakat tidak seharusnya baru mendatangi dokter gigi ketika rasa sakit sudah muncul atau kondisi gigi mengalami kerusakan berat.
Baca Juga:
26,8 Persen Puskesmas Belum Punya Dokter Gigi, Pemerataan Tenaga Kesehatan Jadi SorotanNamun, upaya menjaga kesehatan gigi menghadapi tantangan ketika akses terhadap layanan dokter gigi belum merata. Masyarakat di sejumlah wilayah masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan gigi sehingga pelayanan preventif maupun pengobatan belum dapat diberikan secara optimal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan gigi tidak hanya berkaitan dengan kesadaran masyarakat, tetapi juga dengan ketersediaan layanan kesehatan. Pemerintah perlu memastikan masyarakat di wilayah perkotaan maupun daerah terpencil memperoleh kesempatan yang relatif setara untuk mendapatkan pelayanan dokter gigi.
Pemerataan tenaga dokter gigi menjadi semakin penting karena kebutuhan pelayanan kesehatan tidak berhenti pada pengobatan. Kehadiran dokter gigi di puskesmas juga dibutuhkan untuk melakukan edukasi, pencegahan, pemeriksaan dini, dan penanganan masalah kesehatan gigi masyarakat.
Selain tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan juga harus mendapatkan perhatian. Dokter gigi membutuhkan peralatan dan sarana pendukung yang memadai agar dapat memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat di daerah.
Upaya memperluas akses layanan tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama pemerintah daerah dengan institusi pendidikan kedokteran gigi. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah memberikan kesempatan pendidikan kepada putra daerah melalui skema beasiswa sehingga setelah lulus mereka dapat kembali memberikan pelayanan di wilayah asal.
Dengan demikian, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi perlu berjalan beriringan dengan pemerataan dokter gigi dan fasilitas pelayanan. Tanpa akses layanan yang memadai, masyarakat di daerah akan tetap menghadapi hambatan untuk mendapatkan penanganan meskipun kesadaran menjaga kesehatan gigi terus meningkat. (*)