KETIK, JEMBER – Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi meluruskan anggapan bahwa rendahnya produksi gula nasional disebabkan oleh banyaknya pabrik gula peninggalan era kolonial yang masih beroperasi. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada kualitas dan ketersediaan bahan baku tebu.

Pernyataan itu disampaikan Mahmudi saat mendampingi kunjungan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Tonny Harjono di Pabrik Gula (PG) Semboro, Kabupaten Jember, Kamis, 9 Juli 2026. PG Semboro merupakan salah satu dari sejumlah pabrik gula yang didirikan pada era kolonial Belanda. Pabrik tersebut didirikan pada tahun 1921. 

Mahmudi mengatakan, keberhasilan menghasilkan gula dengan rendemen tinggi lebih banyak ditentukan oleh kondisi tanaman tebu di lapangan daripada usia pabrik gula.

"Persoalan utama di industri gula kita adalah bahan baku tebu. Bahan baku itu harus cukup, kemudian varietasnya juga harus tertata. Kalau dua hal itu terpenuhi, pabrik gula (yang dibangun pada) zaman Belanda pun bisa menghadirkan rendemen yang tinggi," ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan berbagai kajian, proses pengolahan di pabrik hanya berkontribusi sekitar 20 hingga 30 persen terhadap tingkat rendemen gula. Sementara sekitar 70 persen dipengaruhi oleh kualitas budidaya tebu di lapangan.

Baca Juga:
Dari KUR hingga Platform Etera, Dirut SGN Ungkap Inovasi Genjot Produktivitas Petani Tebu

Karena itu, menurut Mahmudi, peningkatan produktivitas gula nasional harus dimulai dari pembenahan sektor hulu, mulai dari penyediaan varietas unggul, peningkatan produktivitas lahan, hingga kepastian pasokan tebu ke pabrik.

Selain kualitas bahan baku, kapasitas giling pabrik juga harus terpenuhi agar proses ekstraksi nira berlangsung maksimal.

"Kalau pasokan tebunya tidak mencukupi, proses giling menjadi longgar sehingga pemerasan nira tidak optimal. Akibatnya, gula yang dihasilkan juga tidak bisa maksimal," katanya.

Untuk memperkuat sektor hulu, SGN mengembangkan ekosistem digital tebu rakyat melalui platform Etera. Melalui platform tersebut, perusahaan mendata petani, memfasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta memberikan pendampingan mulai dari penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga proses tebang dan angkut.

Baca Juga:
KSAU Marsekal Tonny Harjono Resmi Perkuat APTRI, Dorong Kemajuan Petani Tebu dan Swasembada Gula

Pendampingan dilakukan langsung oleh unit-unit pabrik gula SGN yang tersebar di berbagai daerah dengan melibatkan pemerintah daerah, terutama Dinas Pertanian.

Menurut Mahmudi, upaya tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas tebu sekaligus memperbaiki rendemen gula nasional.

Saat ini PT Sinergi Gula Nusantara mengoperasikan 41 pabrik gula di Indonesia. Sebanyak 23 pabrik berada di Jawa Timur, sedangkan sisanya tersebar di Sumatera Utara, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Mahmudi berharap pembenahan sektor budidaya yang dilakukan secara berkelanjutan mampu meningkatkan produktivitas industri gula nasional sehingga target swasembada gula dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan. (*)