KETIK, SIDOARJO – Betapa berartinya beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu dan anak-anak yatim piatu. Masa depan mereka dan keluarga kembali bercahaya. Hari-hari kini tak suram lagi. Pemkab Sidoarjo membuka secercah harapan.

”Saya bersyukur sekali, Pak, dapat beasiswa,” ungkap Dea Ratna Wulandari kepada Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo M. Dhamroni Chudlori yang mengunjungi rumahnya pada Kamis (23 Juni 2026) lalu.

Gadis 22 tahun asal Desa Kebaron, Kecamatan Tulangan, itu menyatakan terima kasihnya kepada Pemkab Sidoarjo. Saat ini, Ratna tengah berjuang untuk menuntaskan studinya. Hari-harinya bergulir bak drama saja. Tepatnya malah balada.

Istiqomah dan Ratna berbincang dengan Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori yang mengunjungi rumah mereka. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Setiap lepas Subuh, Ratna bergegas berangkat. Dengan naik angkutan umum, anak pertama dari dua bersaudara itu naik motor bututnya ke kampus di Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Baca Juga:
Anggaran Pembebasan Lahan Flyover Gedangan Kurang Rp 250 M, Tunggu Efisiensi Pemkab dan DPRD Sidoarjo

Perjalanan ditempuhnya secara estafet. Ratna sering berhenti. Sebab, dia harus mengantar cemilan untuk dititipkan di warung-warung yang dilewatinya di sepanjang perjalanan. Di antaranya, makanan kecil berupa mi bungkusan.

Perjalanan Sidoarjo menuju Surabaya ditempuhnya berjam-jam. Pulang kuliah, dia mengambil uang hasil penjualan cemilan itu. Ratna baru tiba di rumah sekitar pukul 23.00 di rumah, Desa Kebaron. Lepas Subuh dia berangkat lagi.

Semua itu terjadi sejak sang ayah, Yauman, meninggal 5 tahun lalu. Cobaan bertubi-tubi datang. Belum lama ini Ratna mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan harus dipasangi pen (implan logam). Dia sekarang menunggu operasi pelepasan pen itu.

Sayangnya, motor butut Ratna sudah tidak bisa lagi dipakai. Sebab, pelat nomornya telah mati. Belum bayar pajak kendaraan bermotor (PKB) beberapa tahun. Dia khawatir terjaring razia dan terkena tilang di Surabaya.

Baca Juga:
SDN Waung Krembung Sidoarjo Ambruk setelah 20 Tahun Lebih Tak Pernah Diperbaiki

”Sekarang kalau ke kampus naik bus. Kalau pulang kadang  4 jam baru sampai rumah,” ungkap Ratna kepada anggota DPRD Sidoarjo dari PKB Dhamroni Chudlori.

Sang ibu, Istiqomah, pun mengalami ujian yang tidak kalah berat. Dia terkena glukoma. Kerusakan pada saraf optik di mata yang perlahan mencuri penglihatannya. Akibatnya, Istqomah kini tidak bisa melihat dengan jelas. Dia pun tidak bisa lagi mencari nafkah.

”Biasanya saya jualan apa saja. Sekarang tidak bisa apa-apa,” ungkap Istiqomah kepada Dhamroni Chudlori, yang juga anggota DPRD Sidoarjo asal Kepadangan, Tulangan, tersebut.

Belum selesai cobaan itu, datang lagi musibah. Atap rumah mereka jebol di atas kamar. Dinding sudah retak-retak di beberapa bagian. Kalau hujan, air masuk langsung ke dalam kamar. Kebanjiran. Rumah lama itu pun sudah tidak mereka tempati lagi.

”Sudah nggak mampu memperbaiki, Pak,” kata Istiqomah.

Kondisi atap rumah bagian depan keluarga Istiqomah yang jebol. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Istiqomah, Ratna, dan Ahmad Dhani tinggal di bagian belakang rumah yang dibangun sejak ayah mereka masih ada. Dulu, keluarga almarhmum Yauman, Istiqomah, serta dua anak mereka tercatat masuk Desil 4 (rentan miskin) dalam kategori kesejahteraan sosial.

”Sekarang bisa masuk kategori Desil 2 (miskin). Coba diusulkan pendamping desa agar bisa menerima bantuan lainnya,” kata Dhamroni Chudlori yang juga menjabat ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo.

Saat ini, keluarga Istiqomah ditopang oleh nafkah anak bungsunya, Ahmad Dhani Dwi Saputra yang juga adik Ratna, telah bekerja. Remaja 21 tahun lulusan SMA itu kini menjadi security perumahan di kawasan Surabaya Barat.

Selain itu, ada bantuan pangan dari pemerintah. Beras 20 kilogram dan minyak 4 liter. Bantuan itu tentu tidak cukup untuk hidup mereka sehari-hari.

”Kalau habis biasanya beras beli 1 kilo. Seadanya untuk masak,” tutur Istiqomah.

Sebagai anggota DPRD Sidoarjo, Dhamroni Chudlori meminta pendamping desa mendata kembali kondisi riil keluarga Istiqomah sesuai kondisinya sekarang. Dia akan membantu mengusahakan bantuan lain dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sidoarjo.

Kepada Ratna, anggota DPRD Sidoarjo bidang kesejahteraan rakyat itu meminta bersungguh-sungguh menuntaskan studinya di Politeknik Perkapalan Surabaya. Jika lulus, Ratna bisa membantu keluarganya. Agar bisa hidup lebih baik.

”Cita-cita Sampeyan kan memuliakan orang tua?” ujar Dhamroni Chudlori.

Nggih, Pak,” jawab Ratna.

Kepala dusun mendata keluarga Istiqomah untuk rencana usulan perubahan status desil dalam kelompok masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)..

Nilainya Rp 5 juta per tahun. Uang tersebut akan digunakan sebaik-baiknya agar kuliahnya lancar. Ratna tidak khawatir lagi dirinya akan putus kuliah.

”Sekarang saya nunggu kepastiannya. Katanya sudah mau cair,” ungkap Ratna

Kepala Dinas Sosial Sidoarjo Mharta W. Kusuma menyatakan proses pencairan beasiswa yang ditangani Dinas Sosial Sidoarjo sudah selesai. Semua data penerima telah disampaikan bank untuk realisasi pencairan.

”Proses di kami (Dinas Sosial Sidoarjo) sudah selesai,” kata Mharta.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Dinas Sosial Sidoarjo M. Wildan menambahkan, Dinas Sosial Sidoarjo menangani dua jenis beasiswa. Masing-masing beasiswa untuk anak yatim jenjang SMK dan mahasiswa kurang mampu.

Total pendaftar beasiswa yatim jenjang SMA mencapai 792 anak. Kuotanya 500 penerima. Masing-masing memperoleh Rp 1,5 juta per tahun. Jadi, pagu anggaran mencapai Rp 750 juta.

Adapun total pendaftar beasiswa mahasiswa kurang mampu mencapai 1.116 orang. Kuoa penerimanya juga 500 orang. Masing-masing mahasiswa dikucuri Rp 5 juta per tahun. Pemkab Sidoarjo menyiapkan pagu anggaran Rp 2,5 miliar.

Menurut Wildan, proses administrasi penerima beasiswa telah tuntas di Dinas Sosial Sidoarjo. Semua berkas sudah diserahkan ke Bank Jatim Syariah untuk proses pencairan. Informasinya, masih ada penerima beasiswa yang belum memiliki rekening di Bank Jatim.

”Minggu-minggu ini insya Allah terdistribusi,” pungkas Wildan. (*)