KETIK, HALMAHERA SELATAN – Aktivitas perdagangan di sejumlah pasar rakyat Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menghadapi tekanan akibat melemahnya kemampuan konsumsi masyarakat. Penjualan melambat, barang dagangan membutuhkan waktu lebih lama untuk terserap, sementara pelaku usaha mulai meminta pemerintah mengevaluasi besaran retribusi.

Kondisi tersebut disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop) Halmahera Selatan, Adriani Radjilun, saat diwawancarai pada Selasa, 21 Juli 2026.

Jaringan sentra niaga di bawah pengawasan pemerintah kabupaten tersebar pada tujuh lokasi lintas kecamatan.

“Pasar Labuha, Pasar Obi, Pasar Guruapin Kayoa, Pasar Busua Kayoa Barat, Pasar Saketa Gane Timur, Pasar Babang Bacan Timur, dan Pasar Wayaua,” kata Adriani.

Kendati tersebar di sejumlah wilayah, skala kegiatan ekonomi pada setiap fasilitas perdagangan tersebut tidak sama. Beberapa tempat hanya dihuni pelaku usaha dengan volume penjualan terbatas, sedangkan perputaran komoditas dalam jumlah besar terkonsentrasi pada kawasan tertentu.

Baca Juga:
Disperindagkop Halmahera Selatan Bersiap Sambut Peluncuran Sapa UMKM

Komposisi pelaku usaha antarlokasi tidak seragam. Sebagian titik hanya ditopang skala mikro, sedangkan konsentrasi aktivitas ekonomi lebih kuat pada dua pusat transaksi utama.

“Pedagangnya kecil seperti di Busua. Pedagang yang banyak itu di Labuha dan Obi,” ujarnya.

Namun, besarnya jumlah pelaku usaha belum sepenuhnya mencerminkan kuatnya aktivitas perdagangan. Di Pulau Obi, misalnya, para pedagang menyampaikan kesulitan membayar pungutan daerah karena pendapatan yang diperoleh tidak lagi sebanding dengan kondisi sebelumnya.

Tekanan konsumsi masyarakat mulai tercermin melalui keberatan pelaku usaha terhadap pungutan resmi. Aspirasi tersebut disampaikan langsung dalam kunjungan kerja, menunjukkan beban operasional makin terasa akibat perputaran transaksi melemah.

Baca Juga:
Fiskal Tertekan, Beasiswa Mahasiswa Halmahera Selatan di Luar Daerah Belum Dialokasikan

“Tapi Obi yang kemarin itu ketika mereka tahu saya datang ke Obi, mereka berbondong-bondong datang ke penginapan minta supaya turunkan biaya retribusi karena daya beli menurun,” ungkap Adriani.

Permintaan itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan jumlah pembeli, tetapi juga kemampuan mempertahankan kegiatan perdagangan di tengah pendapatan yang terus berkurang. Beban pungutan dinilai semakin terasa ketika omzet mengalami penurunan.

Persoalan tersebut bukan gejala sesaat. Pemerintah daerah mencatat tekanan serupa masih berlanjut tanpa pemulihan berarti.

“Itu keluhannya tahun kemarin, tapi keadaan berjalan sampai hari ini,” jelasnya.

Tekanan serupa juga terlihat di pusat perdagangan Labuha. Adriani mengaku menerima laporan langsung dari Ami, Ketua Pasar Ikan, mengenai lambatnya penjualan hasil laut di kawasan tersebut.

Kelesuan penjualan kini terasa pada pusat perdagangan utama kabupaten. Kondisi tersebut turut diperlihatkan oleh pengelola komoditas perikanan, sehingga aparatur daerah melihat persoalan ini bukan sekedar angka penerimaan.

“Malah di sini saja, di Pasar Labuha, saya dan ketua pasar ikan Ami memberi keluhan. Sebagai pemerintah saya juga prihatin, kasihan,” katanya.

Salah satu indikator paling nyata terlihat dari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjual ikan. Komoditas yang sebelumnya dapat terserap dalam hitungan jam kini masih tersisa hingga menjelang berakhirnya aktivitas perdagangan.

Gambaran paling nyata tampak dari melambatnya serapan hasil tangkapan. Persediaan yang sebelumnya cepat terserap kini bertahan lebih lama, menandakan kemampuan belanja rumah tangga sedang tertekan.

“Dia minta kita lihat. Biasanya ikan satu coolbox setengah hari sudah laku semua, tapi ini sampai sore belum habis,” tutur Adriani.

Kondisi tersebut bukan hanya memengaruhi pendapatan pedagang, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian karena ikan merupakan komoditas yang memiliki masa simpan terbatas. Apabila penjualan terus melambat, pelaku usaha harus menanggung biaya operasional sekaligus potensi barang tidak terjual.

Pada ujung keterangannya, Adriani menampilkan sisi kemanusiaan atas tekanan ekonomi yang dialami warga pencari nafkah.

“Saya sedih juga. Kasihan!” pungkasnya.