KETIK, JEMBER – Di sudut Dusun Krajan, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, tumpukan sampah plastik tak lagi dipandang sebagai limbah yang mengotori lingkungan. Di tangan Muhammad Arif Yulianto, plastik-plastik bekas itu justru berubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Botol, kantong kresek, hingga berbagai kemasan plastik yang sebelumnya hanya memenuhi tempat pembuangan kini masuk ke sebuah mesin. Tak lama kemudian, dari proses pengolahan tersebut menetes cairan berwarna kekuningan yang kemudian diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif jenis solar.
Bagi sebagian orang, inovasi itu mungkin terdengar tidak biasa. Namun bagi Atok—sapaan akrab Muhammad Arif Yulianto—teknologi hanyalah awal. Tujuan besarnya jauh melampaui sekadar menghasilkan bahan bakar. Ia ingin sampah membantu meringankan beban ekonomi warga sekaligus memberi manfaat bagi desanya.
Pengelola Bank Sampah Krajan itu mulai merintis pengolahan sampah plastik sejak pertengahan 2025. Berbekal percobaan demi percobaan, ia akhirnya mampu mengembangkan proses produksi pada tahun ini.
"2025 cuma kita kecil. Untuk percobaan naik. Setelah itu kita coba 2026 ini kita olah. Ya, alhamdulillah lah," ujarnya saat ditemui jurnalis Ketik.com, Selasa, 14 Juli 2026.
Baca Juga:
Kisah Mang Junai, Mantan Preman yang Hijrah hingga Sukses Bangun Resort Wisata No 1 di Pagaralam
Menyulap Plastik Menjadi Solar
Atok mengumpulkan sampah plastik dari warga sekitar dan para pedagang Pasar Kencong. Plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai itu terlebih dahulu dipilah, dicacah, dibersihkan, lalu dikeringkan sebelum masuk ke mesin pirolisis.
"Jadi bahan datang ya. Kita pilah. Terus kita cacah, bersihkan, terus pakai pengering manual sebentar, baru kita olah," tuturnya.
Baca Juga:
Karier Cemerlang Dr Nurul Wahida Rifal: dari Jaksa di Sulsel hingga Pimpin Kejari Jakarta BaratTeknologi pirolisis yang digunakannya mampu mengubah limbah plastik menjadi BBM alternatif. Dari sekitar 4 hingga 5 kuintal plastik bekas, Atok dapat menghasilkan sekitar 40 hingga 70 liter solar.
Namun, baginya keberhasilan itu bukan sekadar soal angka produksi. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa sampah ternyata memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.
Sampah yang Membayar Pajak
Sebagai Kepala Dusun Krajan, Atok melihat persoalan lain yang juga dihadapi sebagian warganya, yakni kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dari situlah muncul gagasan agar hasil tabungan sampah plastik dapat digunakan untuk membantu memenuhi kewajiban pajak tersebut.
Bank Sampah Krajan kini tengah menjalin kerja sama dengan pemerintah desa agar setiap kilogram sampah yang disetor warga tercatat sebagai tabungan. Nilai tabungan itu nantinya dapat dialihkan untuk membayar PBB.
"Semisal ada warga desa yang nyetorkan nyampe 1 kilo. Nanti kita total lah, sejumlah nominal yang disetorkan. Nominal yang disetorkan kan 1 tahun sekali," ujarnya.
Menurut Atok, tabungan sampah yang dikumpulkan selama beberapa bulan sudah cukup untuk membantu memenuhi nilai pajak sebagian warga.
"Karena berapa bulan sudah dapat nominal yang sesuai dengan pajak yang ditangguhkan wajib pajak itu, bisa dialihkan untuk pembayaran pajak," kata dia.
Dengan cara tersebut, warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada uang tunai untuk memenuhi kewajiban pajaknya.
"Jadi pengeluaran dari sampahnya mereka itu yang kita olah nanti gitu," ujarnya.
Bercita-cita Membantu Bayar Listrik
Gagasan Atok tidak berhenti sampai di situ. Ia juga membayangkan suatu saat hasil tabungan sampah plastik bisa dimanfaatkan untuk membayar tagihan listrik warga.
"Jadi nomor ID (pelanggan PLN) ini, pembayaran setor ke kita nanti bisa kita yang bayar atau orang yang bersangkutan bayar sendiri," tuturnya.
Program tersebut masih dalam tahap perencanaan. Jika pengelolaan bank sampah semakin berkembang, ia berencana menjalin kerja sama dengan PLN agar sistem tersebut dapat diwujudkan.
"Kalau sudah jalan kita akan kerja sama dengan PLN setempat," ucapnya.
Keuntungan Dikembalikan untuk Anak-anak
Di balik berbagai inovasi itu, Atok menyimpan satu tujuan yang menurutnya jauh lebih penting daripada keuntungan usaha.
Ia ingin hasil pengolahan sampah kembali kepada masyarakat, terutama untuk membantu anak-anak yang membutuhkan tambahan gizi.
"Untung itu tidak tak makan sendiri. Jadi tak kembalikan lagi ke masyarakat gitu. Kita bermain dengan Puskesmas, Kecamatan, Desa. Jadi kan ada PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Kayak One Day, One Eat itu," ucapnya.
Kini Bank Sampah Krajan telah mulai berkolaborasi dengan puskesmas dan posyandu dalam mendukung program kesehatan masyarakat, termasuk penanganan stunting.
Bahkan, pemerintah Kecamatan Kencong disebut berencana membentuk bank sampah di setiap desa. Sampah plastik yang sulit didaur ulang nantinya akan dikirim ke Bank Sampah Krajan untuk diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
"Nantinya sampah plastiknya yang susah terurai itu bisa disetorkan ke saya," ungkapnya.
Bagi Atok, sampah bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Di balik setiap kantong plastik bekas, ia melihat peluang untuk mengurangi limbah, menggerakkan ekonomi warga, membantu mereka memenuhi kewajiban pajak, hingga menghadirkan harapan baru bagi anak-anak yang membutuhkan asupan gizi lebih baik.
Di Dusun Krajan, tumpukan sampah plastik perlahan berubah makna. Dari sesuatu yang dulu dianggap tidak berguna, kini menjadi sumber energi, sumber kepedulian, dan sumber harapan bagi masyarakat. (*)