KETIK, MALANG – Berawal dari upaya memperkuat ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan, warga RT 18 RW 11 Kelurahan Merjosari, Kota Malang, berhasil menyulap area sempit menjadi kawasan budidaya tanaman dan perikanan berbasis sistem bioflok serta akuaponik.

Inovasi tersebut dipaparkan dalam verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (ProKlim) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur, Selasa, 28 Juli 2026. Inisiatif ini membuktikan bahwa lahan terbatas tetap bisa dioptimalkan demi menopang ketahanan pangan mandiri.

Sistem akuaponik yang diterapkan warga mengombinasikan akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah) secara simbiotik. Kotoran ikan diolah secara alami menjadi nutrisi tanaman, sementara tanaman berfungsi sebagai filter alami yang membersihkan air kolam. Metode ini memberikan berbagai keunggulan, mulai dari efisiensi air, hemat lahan, ramah lingkungan (zero waste), bersifat organik tanpa bahan kimia berbahaya, hingga memberikan hasil ganda (double output) berupa panen ikan dan sayuran sekaligus.

Di RT 18, fasilitas akuaponik dibangun dengan spesifikasi teknis berupa kolam ikan berdiameter 3 meter dan tinggi 1 meter yang diisi 400 ekor ikan nila. Instalasi tanamnya memanfaatkan 8 batang pipa paralon sepanjang 2 meter dengan total 80 lubang tanam. Sistem sirkulasi airnya menggunakan instalasi satu arah yang didukung pompa 12 Watt bersemburan 3 meter. Melalui sistem ini, warga dapat memanen sayuran setiap 1 hingga 2 bulan sekali, serta memanen ikan nila dalam jangka waktu 4 bulan.

Tak sekadar menghasilkan bahan pangan, kawasan ini juga difungsikan sebagai ruang edukasi dan tempat berkumpul warga maupun pengurus RT untuk saling berbagi ilmu budidaya. Selain berdampak positif bagi lingkungan dan mempererat kebersamaan, pengelolaan kawasan ini selama setahun terakhir mampu membukukan pendapatan sebesar Rp1.883.500. Hasilnya dialokasikan untuk menambah kas RT dan RW guna mendukung pelbagai kegiatan kemasyarakatan.

Baca Juga:
Dekan Fakultas Syariah UIN Malang Tekankan Pentingnya Kesetaraan Gender dalam Dunia Akademik

Tim ProKlim RT 18 RW 11 Kelurahan Merjosari, Irawan Aries Tanto, berharap konsep tersebut dapat direplikasi oleh warga di lingkungan sekitar.

"Dengan perawatan yang mudah dan metode budidaya yang sederhana, saya berharap ke depan setiap rumah juga bisa menerapkan hal seperti ini. Biayanya relatif murah dan mudah dijalankan, sehingga nantinya kita bisa saling mendukung," ujarnya.

Melalui verifikasi ini, RT 18 RW 11 Kelurahan Merjosari membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga. (*)

Baca Juga:
Peringati Hari Anak Nasional, 43 Anak Ikuti Kegiatan GM For A Day 2026 yang Digelar Santika Indonesia Hotels & Resorts