KETIK, BANDUNG – Pelestarian kriya berbasis tradisi dan pengembangan kecerdasan buatan menjadi dua fokus riset yang mengemuka dalam pengukuhan dua guru besar Telkom University (Tel-U), Kamis (29/10/2026). Melalui kepakaran yang berbeda, keduanya menyoroti pentingnya inovasi yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan manusia dan masyarakat.

Dua akademisi yang dikukuhkan dalam Sidang Terbuka Senat di Auditorium Gedung Damar, Bandung, tersebut adalah Prof. Dr. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds., Guru Besar bidang Tradition Based Product dari Fakultas Industri Kreatif (FIK), serta Prof. Dr. Z.K. Abdurahman Baizal, S.Si., M.Kom., Guru Besar bidang Recommender System dari Fakultas Informatika (FIF).

Dalam orasi ilmiahnya, Fajar mengkritisi pengembangan kriya Indonesia yang kerap terjebak antara pelestarian tradisi secara kaku dan tuntutan pasar yang berisiko menjadikan budaya sekadar komoditas ekonomi. Ia menawarkan konsep Inovasi Endogen, yang menempatkan perajin sebagai co-creator atau mitra sejajar dalam proses inovasi, bukan sekadar objek pengembangan. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek budaya, alam, dan sistem sosial agar kriya tetap memiliki akar tradisi sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, Baizal menyoroti keterbatasan sistem rekomendasi konvensional yang cenderung pasif, termasuk persoalan cold start dan filter bubble. Melalui konsep Interactive Recommender System (IRS), ia mendorong personalisasi yang lebih interaktif dengan menempatkan pengguna sebagai pihak yang memiliki kendali dalam proses pengambilan keputusan.

Riset Baizal mencakup Conversational Recommender System berbasis ontologi semantik dan Large Language Model (LLM), serta rekomendasi rute wisata multi-hari melalui pendekatan Tourist Trip Design Problem (TTDP). Pengembangan tersebut diarahkan pada pendekatan Neuro-Symbolic AI untuk menghasilkan sistem kecerdasan buatan yang lebih andal, khususnya dalam mendukung pariwisata cerdas.

Baca Juga:
UIN Malang Raih Rekor MURI sebagai Kampus dengan Guru Besar Bahasa Arab Terbanyak

Rektor Tel-U Prof. Dr. Suyanto menegaskan bahwa pengukuhan guru besar harus diikuti tanggung jawab untuk memperkuat budaya akademik dan menghasilkan riset yang berdampak. “Saya berharap para Guru Besar mampu menjadi teladan dan penggerak utama dalam membangun budaya akademik dan ekosistem riset yang unggul, inovatif, dan kolaboratif,” ujar Suyanto.

Pesan serupa disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., melalui tayangan video. Ia berharap pencapaian kedua profesor tersebut dapat memacu lahirnya guru besar baru di Tel-U sekaligus memperkuat keteladanan akademik dengan mengamalkan prinsip Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

Pengukuhan ini menegaskan dua jalur kontribusi akademik yang saling melengkapi: inovasi yang menjaga keberlanjutan nilai tradisi dan teknologi yang memperkuat pengalaman manusia. Tel-U berharap riset dari kedua guru besar tersebut dapat memberi manfaat lebih luas bagi industri kreatif, perkembangan teknologi, dan masyarakat Indonesia.

Sidang terbuka dipimpin Ketua Senat Tel-U Dr. Ir. Heroe Wijanto dan dihadiri Rektor Tel-U, jajaran pimpinan universitas, Forum Guru Besar, serta perwakilan Yayasan Pendidikan Telkom. Prosesi ditutup dengan penandatanganan Komitmen Guru Besar, doa bersama, dan pemberian ucapan selamat.(*)

Baca Juga:
UIN KHAS Jember Tancap Gas Digitalisasi, 50 Tendik Digembleng AI dan Dibidik Sertifikasi BNSP