KETIK, MADURA – Dafiq Imam Maulidi, pengusaha muda asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur, kian dikenal warganet lewat konten keseharian yang ia unggah di akun TikTok @owner.fallin.beauty. Pria yang akrab disapa Daffa itu tidak berusaha tampil serba sempurna. Ia memilih membagikan cerita apa adanya, mulai dari rutinitas kerja, suasana di balik layar bersama tim, hingga keresahan yang ia alami sebagai anak muda di daerah.
"Saya tidak pernah merencanakan jadi kreator konten. Awalnya cuma ingin bercerita soal apa yang saya kerjakan setiap hari, ternyata banyak yang merasa dekat," ujar Daffa saat ditemui di Pamekasan, beberapa waktu lalu.
Menurut Daffa, kedekatan dengan audiens tidak bisa dibangun dengan citra yang dibuat-buat. Ia menilai pengguna media sosial kini makin jeli membedakan konten yang jujur dari konten yang sekadar mengejar kesan.
"Orang sekarang bisa merasakan mana yang dibuat-buat dan mana yang tulus. Jadi saya lebih memilih tampil apa adanya, termasuk saat sedang capek atau ada masalah," tuturnya.
Latar belakangnya sebagai anak daerah ikut membentuk cara Daffa bercerita. Lahir dan besar di Pamekasan, ia mengaku sempat merasa minder karena jauh dari pusat industri kreatif di kota besar. Perasaan itu perlahan berubah setelah ia melihat respons warganet terhadap cerita-cerita yang berangkat dari lingkungannya sendiri.
Baca Juga:
Kisah Nona Nego di TikTok: Bagikan Rezeki Lewat Aksi Borong Dagangan dan Bantu Warga"Dulu saya merasa anak daerah itu sulit bersaing. Tapi justru dari sini saya belajar bahwa cerita dari daerah punya daya tarik sendiri, asal kita percaya diri membawakannya," katanya.
Bagi Daffa, kolom komentar adalah ruang yang tidak boleh diabaikan. Ia mengaku rutin membaca tanggapan pengikutnya, termasuk cerita pribadi yang kerap mereka bagikan di sana.
"Komentar di setiap unggahan itu saya baca. Kadang ada yang cerita panjang soal hidupnya, dan dari situ saya sadar konten ini bukan cuma soal angka," ungkapnya.
Meski begitu, ia tidak menampik bahwa sorotan di media sosial juga membawa tekanan. Tidak semua tanggapan yang masuk bernada positif, sehingga ia harus belajar menjaga kesehatan mental di tengah derasnya komentar warganet.
Baca Juga:
Bikin Mesin Sandblasting Otomatis Gara-gara Tren Modifikasi Motor, Bawa Agung Jadi Lulusan Terbaik ITN Malang"Tidak semua komentar enak dibaca. Saya belajar menyaring mana kritik yang membangun dan mana yang cukup dilewati saja, supaya tetap waras dan fokus," jelasnya.
Di luar layar, Daffa juga kerap mengajak anak-anak muda di sekitarnya ikut terlibat dalam proses pembuatan konten. Ia ingin pengalaman yang ia dapat bisa menjadi bekal bagi orang lain di kampung halamannya.
"Saya senang kalau bisa mengajak anak muda di sekitar saya ikut belajar. Kalau mereka berkembang, saya ikut bangga," ucapnya.
Ke depan, Daffa berencana terus konsisten membagikan cerita keseharian dan memperluas interaksi dengan pengikutnya. Ia berharap langkahnya dapat memantik keberanian generasi muda di daerah untuk memulai sesuatu dari tempat asal mereka.
"Saya ingin anak muda di daerah berani mulai. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna, yang penting konsisten dan jujur dengan diri sendiri," pungkasnya. (*)