KETIK, SURABAYA – Cuaca di Jawa Timur, Khususnya di Surabaya dan sekitarnya sedang tidak menentu. Masyarakat seolah di-PHP (pemberi harapan palsu) dengan cuaca yang terkadang panas terik, namun kadang pula hujan deras.
Prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda, Rendy Irawadi menjelaskan, saat ini di Jawa Timur, khususnya di Surabaya dan sekitarnya masih berpotensi terjadi hujan lokal.
"Potensi hujan lokal masih terjadi dalam sepekan ke depan meski telah ditinggalkan fenomena-fenomena gelombang atmosfer," katanya pada Selasa, 19 Mei 2026.
Secara teknis, BMKG mencatat fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) masih aktif pada fase 3 selama sepekan ke depan. Kondisi inilah yang membuat pembentukan awan hujan di sejumlah daerah Jawa Timur.
Rendy juga menuturkan, analisis angin lapisan 3.000 kaki menunjukkan adanya pola belokan dan pertemuan angin (konvergensi) yang mendukung pembentukan awan hujan.
Baca Juga:
Berkurang! 10 Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Masih Alami Tunda Keberangkatan ke Tanah SuciAngin di sejumlah wilayah Jawa Timur, didominasi bertiup dari arah timur tenggara dengan kecepatan maksimum sekitar 19 knot. BMKG Jawa Timur juga memastikan fenomena ENSO atau El Nino Southern Oscillation tidak memberikan dampak signifikan.
Nilai ENSO tercatat sebesar +0,52 dan dinilai tidak berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan awan konvektif. Begitu pula dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada indeks -0,04 dan tidak berpotensi meningkatkan aktivitas hujan Indonesia bagian barat.
Kendati demikian, BMKG menyebut kondisi anomali suhu muka laut di sekitar Jawa Timur, seperti di Selat Madura masih cukup membentuk massa uap air yang mendukung terjadinya hujan lokal.
Rendy menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan karena cuaca panas yang diselingi hujan pada masa pancaroba. Cuaca ini dapat menimbulkan sejumlah penyakit. (*)