Cerita Haaziq Bujang Syarif, Peraih Beasiswa Santri UII Yogyakarta

Tak Jadi ke Mesir Karena Dahulukan Sang Ibu

1 Maret 2026 18:22 1 Mar 2026 18:22

Thumbnail Cerita Haaziq Bujang Syarif, Peraih Beasiswa Santri UII Yogyakarta

Muhammad Haaziq Bujang Syarif (21), menghadiri School of Democracy and Diversity di hotel MM UGM, Yogyakarta. (Foto: Arsip Pribadi Narasumber)

KETIK, YOGYAKARTA – Karena dahulukan sang ibu, Haaziq rela meninggalkan impiannya melakukan studi di Mesir. Namun tak sampai di situ, ia justru mendapatkan beasiswa santri unggulan yang diberikan UII kepada santri berprestasi di seluruh Indonesia.

 

Hal itu bermula saat Kementrian Agama Republik Indonesia mendatangkan dan menempatkan syekh/guru yang berasal dari Mesir untuk mengajar 10 MAN PK di Indonesia. Saat program ini berlangsung, pria kelahiran 2005 itu memiliki kedekatan dengan syekh yang bertempat di MAN PK Yogyakarta.

 

Berbekal ilmu bahasa arab yang baik dibanding teman-temannya, pria kelahiran Yogyakarta itu dengan mudah memahami dan membalas percakapan dengan syekhnya. Karena hal ini, Haaziq mendapatkan golden ticket langsung dari sang syekh untuk menimba ilmu di Al-Azhar Kairo, Mesir.

 

Namun jalan tak selalu mudah, saat ia memberitakan kabar itu kepada ibunda, beliau justru kurang mendukung apabila Haaziq menimba ilmu di luar negeri. “Kata ibuku, aku (Haaziq) belum cukup dewasa,” ucapnya.

Sang ibu lebih mengarahkan alumni MAN 1 Yogyakarta tersebut untuk berkuliah di dalam negeri saja.

Namun Haaziq tak mudah menyerah, setelah rencananya tak disetujui oleh sang ibu, ia mendaftar beasiswa santri UII dan SPAN-PTKIN. Dan keduanya lolos. Tak mengagetkan untuk seorang berprestasi seperti Haaziq. Alhamdulillah dapet beasiswa pesantren UII,” imbuhnya saat diwawancarai pada Jumat (27/2/2026).

Karena diwajibkan memilih salah satu, Haaziq memilih Universitas Islam Indonesia sebagai pelabuhannya. Sesuai minatnya, ia belajar hukum di sana sesuai dengan idolanya, Prof. Jimly Ash-Shidqi dan Mahfud MD.

Tak hanya tentang studi, anak pertama dari 5 bersaudara itu juga kerap memenangi lomba-lomba semasa SMA sampai kuliah. Semasa di MAN 1 Yogyakarta, ia menjuarai lomba bahasa arab tingkat provinsi dan berhasil meraih urutan 2 dan kembali menjuarai lomba cerdas cermat bahasa arab bersama kedua temannya yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Pencapaian terbesarnya di bidang perlombaan saat ia memenangi lomba yang diselengarakan oleh kerja sama Amerika Serikat dan Indonesia, Ismail Qoran Competition. Di sana, ia berhasil menyabet juara 1 pada kategori 5 juz for age 19-25.

Ia berprinsip bahwa berhati-hatilah saat memilih perempuan, karena masalah mudah timbul apabila salah memilih perempuan sebagai pasangan. Itulah pesan yang ia simpan rapat-rapat untuk dirinya sendiri. (*)

Tombol Google News

Tags:

mahasiswa berprestasi Yogyakarta UII MAN PK juara lomba