KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu (Pemkot Batu) membuka ruang bagi seniman mural dan grafiti untuk menyalurkan kreativitas di ruang publik. Langkah tersebut ditandai dengan kegiatan menggambar secara simbolis di tembok Pasar Induk Among Tani Kota Batu, Jumat, 25 September 2026. 

Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, mural di kawasan Pasar Among Tani tidak sekadar diarahkan sebagai karya seni, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Tema yang diangkat nantinya berkaitan dengan lingkungan, kebersihan, kepedulian, serta sikap masyarakat dalam melihat kondisi di sekitarnya.

“Jadi mural ini nanti, di samping sebagai karya seni dan ide gagasan yang dituangkan di ruang publik, juga untuk memberikan imbauan kepada masyarakat,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya.

Menurut Cak Nur, kegiatan tersebut melibatkan komunitas yang memiliki keahlian di bidang mural dan grafiti. Anak-anak juga dilibatkan agar kreativitas mereka dapat tersalurkan melalui ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat.

Baca Juga:
Belum Tuntas Sejak 1989, BPN dan Pemkot Kebut Sertifikasi Lahan Puskesmas Batu

“Ya, dengan komunitas. Dengan komunitas yang memang punya keahlian di situ. Kita libatkan anak-anak supaya lebih tersalur pada ruang-ruang publik yang bisa dinikmati oleh siapa pun yang melihatnya,” tambahnya.

Perwakilan Komunitas Mural Boys From The Hill (BFTH), Akhmad Kholili, menilai penyediaan ruang berkarya tersebut berpotensi membantu mengantisipasi vandalisme di Kota Batu.

Menurutnya, sebagian pelaku vandalisme belum mendapatkan ruang apresiasi yang cukup untuk menyalurkan karya. Karena itu, keberadaan wadah mural dan grafiti dapat menjadi pemicu agar kreativitas dituangkan melalui karya yang lebih terarah.

“Saya rasa cukup berefek ya, karena teman-teman, terutama pelaku vandal, itu kurang apresiasi,” ujar Benol, sapaan akrabnya.

Baca Juga:
Genjot PAD, Pemkot Batu Siap Optimalkan Sektor Pariwisata, UMKM, dan Aset Daerah

Ia menambahkan, aktivitas mural di Pasar Among Tani dapat menjadi contoh bahwa seniman grafiti maupun mural dapat merespons ruang publik melalui karya tanpa melakukan aksi coret-coret yang tidak terarah.

“Jadi mungkin dengan kita mengawali gambar di sini, teman-teman yang biasanya melakukan vandalisme itu trigger. Oh iya, ternyata teman-teman grafiti bisa kok merespons dengan bagus tanpa harus mencoret-coret,” paparnya.

Benol menyebut geliat komunitas mural dan grafiti di Kota Batu cukup progresif. Sejumlah pelaku bahkan telah masuk ke industri kreatif, bekerja sama dengan sejumlah jenama, serta memperoleh penghasilan dari kegiatan mural dan grafiti.

“Kalau teman-teman mural dan grafiti di Batu cukup progresif sih, Mas. Banyak dari teman-teman yang bahkan masuk ke industri kreatif, kemudian kolaborasi sama brand-brand, kemudian berpenghasilan dari mural dan grafiti itu,” tuturnya.

Ia mengatakan Komunitas BFTH juga rutin menggelar kegiatan grafiti dalam skala nasional hingga internasional.

Menurutnya, penyediaan ruang kreatif di ruang publik diharapkan dapat semakin mengarahkan pelaku vandalisme untuk menghasilkan karya.

“Harapannya bisa mengurangi vandalisme. Karena sebagian besar spot-spot yang berpotensi untuk divandal itu sudah kita perbagus,” katanya.

Selain mengurangi aksi vandalisme, ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ajakan bagi para pelaku untuk mengembangkan kreativitas dengan memanfaatkan dinding-dinding di Kota Batu sebagai media berekspresi.

“Itu juga menurut saya ajakan buat teman-teman vandal untuk mencoba berpikir kreatif, mencoba menuangkan estetikanya di dinding Kota Batu,” pungkasnya.