KETIK, BONDOWOSO – Upaya mencegah pernikahan dini di kalangan remaja terus diperkuat melalui pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi. Tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej) yang tergabung dalam kelompok riset dan pengabdian CFoCs, menyasar siswa SMP Negeri 1 Pujer, Kabupaten Bondowoso, untuk meningkatkan pemahaman remaja sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan yang tepat dalam menghadapi masa pubertas.

Program pengabdian yang berlangsung melalui serangkaian tahapan sepanjang 2026 ini mengangkat tema Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Anak Sekolah Menengah Pertama untuk Pencegahan Pernikahan Dini.

Kegiatan yang didanai LPPM Unej tersebut menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat literasi kesehatan remaja, khususnya di wilayah Tapal Kuda yang masih menghadapi persoalan pernikahan usia anak.

Tim pengabdian dipimpin Widowati, S.Pd., M.Sos., dengan anggota Dr. Rojabi Azharghany, M.Si., dan Dr. Dodik Harnadi, S.H.I., M.Sosio. Program ini didanai melalui skema Hibah Pengabdian Pemula (PPP) Universitas Jember tahun 2026.

Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yakni metode yang menempatkan masyarakat sasaran sebagai pihak aktif dalam mengidentifikasi persoalan, merumuskan kebutuhan, hingga mendukung pelaksanaan program. Pendekatan ini melibatkan guru, siswa, dan unsur sekolah agar materi yang diberikan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan remaja.

Baca Juga:
BKN Warning Keras ASN: Bolos 10 Hari Bisa Dipecat!

Ketua tim pengabdian, Widowati, menilai sekolah memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman yang benar mengenai kesehatan seksual dan reproduksi. Lingkungan pendidikan dinilai dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk memperoleh informasi yang akurat sekaligus memahami risiko yang dapat muncul akibat kurangnya pengetahuan.

“Lembaga pendidikan memiliki potensi yang sangat besar dalam penguatan pengetahuan kesehatan seksual dan reproduksi,” ujar Widowati.

Dosen Program Studi Sosiologi tersebut menegaskan, pencegahan pernikahan dini dan mitigasi berbagai persoalan kesehatan yang berkaitan dengan reproduksi membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk institusi pendidikan.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah dan seluruh keluarga besar SMPN 1 Pujer yang telah bersedia berkolaborasi dalam pelaksanaan program tersebut.

Baca Juga:
Polres Bondowoso Gaspol Green Policing, Aspol Perintis Jadi Sasaran Aksi Peduli Lingkungan

Program pengabdian ini diawali dengan observasi pada 10 Juni 2026 untuk memetakan kondisi awal dan kebutuhan di lingkungan sekolah. Tahap berikutnya berlangsung pada 22 Juli 2026 melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan siswa dan guru Bimbingan Konseling (BK).

Forum tersebut digunakan untuk menggali pemahaman awal siswa mengenai kesehatan reproduksi, mengidentifikasi informasi yang mereka butuhkan, serta mengenali berbagai mitos dan kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.

Temuan dari lapangan kemudian menjadi dasar penyusunan draf Modul Kesehatan Seksual dan Reproduksi (KSR) 2026. Materi disiapkan secara interaktif agar lebih mudah dipahami oleh siswa sekolah menengah pertama.

Modul tersebut mencakup sejumlah topik penting, mulai dari perubahan fisik dan psikologis selama pubertas, cara menjaga kebersihan organ reproduksi, pemahaman mengenai batasan tubuh, hingga upaya mengenali dan mencegah kekerasan seksual.

Pembekalan ini diharapkan membantu siswa memahami perubahan yang mereka alami, mengenali hak atas perlindungan diri, serta mengambil keputusan secara lebih bijak dan bertanggung jawab.

Tak berhenti pada penyampaian materi, tim pengabdian juga merancang pembentukan Duta Kesehatan Remaja Sekolah. Para siswa yang terlibat akan dibekali kemampuan untuk menjadi penggerak edukasi di lingkungan pergaulan mereka.

Melalui pendekatan edukasi sebaya, informasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak siswa dengan cara komunikasi yang dekat dengan keseharian remaja.

Keberadaan duta tersebut juga diarahkan untuk menjaga keberlanjutan program setelah rangkaian kegiatan pengabdian selesai. Dengan dukungan guru dan pihak sekolah, para kader diharapkan dapat membantu teman sebaya memperoleh informasi yang benar serta mengetahui tempat mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, guru, dan siswa menjadi salah satu kunci dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung kesehatan serta perlindungan remaja.

Melalui program ini, tim pengabdian FISIP Unej berharap literasi kesehatan seksual dan reproduksi di Kecamatan Pujer semakin meningkat. Pengetahuan yang memadai diharapkan menjadi bekal bagi remaja untuk menjaga diri, mengenali risiko, dan merencanakan masa depan secara lebih matang.

Lebih jauh, penguatan edukasi sejak usia sekolah diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menekan praktik pernikahan dini serta memutus rantai persoalan sosial dan kesehatan yang dapat menyertainya. (*)