KETIK, TULUNGAGUNG – Berapa banyak pohon yang harus dikorbankan demi tumpukan laporan SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) yang tebalnya menyaingi kamus hukum, di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa, Selasa, 27 Oktober 2026.

Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin melontarkan sebuah pengingat yang menohok namun menyegarkan, rapi secara administratif tidak ada artinya jika rakyat masih gigit jari.

Alih-alih memuji gemerlapnya piala penghargaan SAKIP Perangkat Daerah 2026, Baharudin justru membedah realitas birokrasi yang sering kali terjebak dalam jebakan "asal bapak senang" lewat dokumen lengkap.

Bagi beliau, SAKIP bukan sekadar ritual tahunan untuk mengejar predikat "Memuaskan" demi pencitraan rapor hijau di atas kertas.

"Keberhasilan akuntabilitas pemerintahan pada hakikatnya tidak berhenti pada laporan yang tertata, melainkan terwujud melalui kinerja yang terukur, pelayanan yang semakin baik, dan manfaat pembangunan yang nyata bagi masyarakat Tulungagung."ungkap Baharudin.

Baca Juga:
Harapan Baru di Tengah Kekeringan, Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin Salurkan Sembako Warga Kradinan Pagerwojo

"Penghargaan bukan lagi garis finish, melainkan alarm pengingat agar para kepala dinas turun tangan, mencocokkan angka-angka di laporan dengan senyum nyata warga di lapangan," ujarnya. 

Bagi instansi yang rapotnya masih merah atau butuh perbaikan, catatan Inspektorat kini bukan lagi hukuman, melainkan peta jalan untuk berbenah secara total.

"Pada akhirnya, secanggih apa pun sistem akuntabilitas dirancang, ukurannya tetap sederhana, berharap anggaran negara benar-benar membuat hidup warga Tulungagung lebih baik," pungkasnya. (*)

Baca Juga:
Jaga Kedamaian Tulungagung, Plt Bupati Sambut Ribuan Warga Baru PSHT di Waduk Wonorejo