Bukan dari Arab, Istilah Halalbihalal Ternyata Asli Nusantara, Ini Sejarahnya

Jurnalis: Surya Afriza
Editor: Rahmat Rifadin

20 Mar 2026 04:17

Thumbnail Bukan dari Arab, Istilah Halalbihalal Ternyata Asli Nusantara, Ini Sejarahnya
Ilustrasi momen berkumpu bersama kerabat saat Lebaran. (Foto: Pexels)

KETIK, SURABAYA – Suasana perayaan Idulfitri selalu identik dengan rentetan undangan kumpul bersama keluarga besar, teman sekolah, hingga rekan kerja yang silih berganti memenuhi notifikasi ponsel. Di Indonesia, momen berkumpul dan saling bermaafan di hari Lebaran ini memiliki satu istilah familier, yaitu Halalbihalal.

Mendengar pelafalannya yang sangat kental dengan bahasa Arab, banyak dari kita mungkin secara otomatis mengira bahwa tradisi ini dibawa langsung dari Timur Tengah.

Namun, tahukah kamu bahwa orang Arab sendiri justru akan kebingungan jika diundang ke acara halalbihalal? Faktanya, tradisi dan istilah ini murni warisan autentik yang lahir dari sejarah Nusantara.

Usut punya usut, lahirnya tradisi halalbihalal di Indonesia tidak terlepas dari situasi genting negara pada masa awal kemerdekaan. Cerita ini bermula pada tahun 1948, tepatnya di pertengahan bulan Ramadan.

Baca Juga:
Rombongan Gawagis Gresik Sambangi Yogyakarta, Hadiri Halalbihalal Asparagus Nasional XVI

Foto Ilustrasi momen perjamuan keluarga saat Lebaran. (Foto: Freepik)Ilustrasi momen perjamuan keluarga saat Lebaran. (Foto: Freepik)

Kala itu, usia Republik Indonesia baru seumur jagung, namun tensi politik antar-elite sedang memanas luar biasa. Berbagai kelompok politik saling curiga, saling serang gagasan, dan menolak untuk duduk bersama. Kondisi ini diperparah dengan ancaman agresi militer Belanda yang masih mengintai kedaulatan negara.

Melihat para tokoh bangsa yang tercerai-berai, Presiden Soekarno pun memutar otak. Sang Proklamator ingin memanfaatkan momentum Hari Raya Idulfitri untuk mengumpulkan para elite politik di Istana Negara agar mereka bisa saling bermaafan dan kembali bersatu. Namun, Soekarno menyadari bahwa jika undangannya hanya bertajuk "Silaturahmi", para tokoh politik yang sedang berseteru gengsi dan kemungkinan besar enggan untuk hadir.

Dalam kebuntuannya, Soekarno kemudian memanggil KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), untuk meminta saran. Dari diskusi inilah lahir sebuah gagasan yang brilian.

Baca Juga:
Halalbihalal IPSI Labuhanbatu, Mimpi Nyata Tingkatkan Silaturahmi dan Prestasi

KH Wahab Chasbullah menganalisis situasi tersebut dengan pendekatan Islam. Beliau menjelaskan bahwa sikap saling menyalahkan dan memelihara permusuhan antar-elite politik adalah tindakan yang sangat tidak dibenarkan oleh agama.

Agar mereka terlepas dari belenggu perselisihan tersebut, maka mereka harus duduk bersama dan saling memaafkan supaya hubungan yang sebelumnya kusut bisa terurai dan kembali "halal" alias jernih. Dari filosofi pemikiran inilah, KH Wahab Chasbullah mengusulkan sebuah istilah baru kepada Soekarno untuk menamai acara tersebut dengan sebutan Halalbihalal.

Istilah ini terdengar religius, resmi, dan memiliki makna filosofis yang sangat dalam tanpa terkesan memaksa. Benar saja, trik cerdas ini berhasil membius para tokoh politik.

Saat hari raya Idulfitri tiba, para elite bangsa yang sebelumnya saling bersitegang akhirnya bersedia hadir ke Istana Negara untuk menghadiri undangan halalbihalal tersebut. Mereka duduk bersama, menyingkirkan ego sektoral, dan saling bersalaman memaafkan satu sama lain demi kepentingan bangsa.

Sejak kesuksesan acara di Istana Negara pada tahun 1948 tersebut, instansi pemerintah dan masyarakat luas mulai berbondong-bondong mengadopsi istilah halalbihalal setiap kali merayakan Lebaran. Tradisi ini kemudian mengakar kuat menjadi budaya khas Nusantara yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga detik ini.

Membicarakan halalbihalal sejatinya bukan sekadar membahas soal menyantap opor ayam bersama atau berburu kue kering di rumah kerabat. Lebih dari itu, ia adalah monumen sejarah tentang bagaimana kearifan lokal, diplomasi tingkat tinggi, dan nilai-nilai agama bisa melebur menjadi satu untuk meruntuhkan tembok permusuhan. Sebuah pengingat manis bahwa sekeras apa pun perbedaan yang kita miliki, selalu ada ruang untuk saling memaafkan dan kembali memulai lembaran yang baru. (*)

Baca Sebelumnya

Wakil Koordinator KontraS Disiram Air Keras oleh OTK di Salemba, Alami Luka Bakar Parah

Baca Selanjutnya

Jelang Idulfitri, RPH Surabaya Ikut Ramaikan Pasar Murah Ramadan

Tags:

halalbihalal lebaran sejarah halalbihalal Silahturahmi Asal usul halalbihalal tradisi lebaran Idulfitri Sejarah Indonesia

Berita lainnya oleh Surya Afriza

Dari Teror Denah Rumah Misterius Hingga Teka-Teki Pelukis Berdarah Dingin, Ini 5 Novel Wajib Baca Buat Pecinta Teka-Teki

13 Maret 2026 06:20

Dari Teror Denah Rumah Misterius Hingga Teka-Teki Pelukis Berdarah Dingin, Ini 5 Novel Wajib Baca Buat Pecinta Teka-Teki

Transisi La Nina ke El Nino! BMKG Peringatkan Ancaman Kemarau Ekstra Panas Datang Lebih Awal

10 Maret 2026 14:22

Transisi La Nina ke El Nino! BMKG Peringatkan Ancaman Kemarau Ekstra Panas Datang Lebih Awal

Menyelami Ketenangan Irama Retro, Alasan Musik Nostalgia Sukses Mencuri Hati Gen Z di Tengah Kebisingan Modern

10 Maret 2026 05:25

Menyelami Ketenangan Irama Retro, Alasan Musik Nostalgia Sukses Mencuri Hati Gen Z di Tengah Kebisingan Modern

Ingin Kuliah di Luar Negeri? Ini Tiga Persiapan Wajib Sebelum Daftar Beasiswa

9 Maret 2026 03:15

Ingin Kuliah di Luar Negeri? Ini Tiga Persiapan Wajib Sebelum Daftar Beasiswa

Persiapan Jelang Idul Fitri! Daftar Lima Kue Kering yang Wajib Dibeli

5 Maret 2026 07:45

Persiapan Jelang Idul Fitri! Daftar Lima Kue Kering yang Wajib Dibeli

Nostalgia Rental PS, Berikut Rekomendasi Empat Gim yang Cocok untuk Ngabuburit

4 Maret 2026 03:39

Nostalgia Rental PS, Berikut Rekomendasi Empat Gim yang Cocok untuk Ngabuburit

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar