Bicara Masa Depan Bangsa, Pengamat Ajak Gen Z Kontak Langsung Rizal Ramli, Yuk! 

Jurnalis: Shinta Miranda
Editor: Moana

4 Jun 2023 04:44

Thumbnail Bicara Masa Depan Bangsa, Pengamat Ajak Gen Z Kontak Langsung Rizal Ramli, Yuk! 
Tokoh Nasional Dr Rizal Ramli.(Dok.KETIK)

KETIK, JAKARTA – Pengamat Geopolitik Internasional Tulus Sugiharto kembali mengajak Gen Z meretas sejarah. Generasi kelahiran mulai 1997 tersebut dinilai perlu memahami makna penting rangkaian perjalanan bangsa agar tak tercerabut dari akarnya. 

Pasalnya, ia menguak sebuah rekayasa konstruksi di tengah disrupsi teknologi informasi. Histori perang Baghdad hingga peran media dalam membentuk hiperealitas dewasa ini. Terutama di Tanah Air.

Saat suhu politik kian memanas dan ambisi kekuasaan para pejabat publik tak terkendali. Korupsi menjadi makanan sementara rakyat 'kelaparan' akan kesejahteraan. Namun, fenomena atas nama pembangunan justru menjadi tameng dari segala ketamakan. Klaim prestasi tapi penuh kebohongan. Pejabat berlomba-lomba merakyat jelang pemilihan. 

Tulus mengungkapkan, efek hiperealitas ini juga ada pada dunia politik. Realitas kehidupan seseorang kemudian dikonstruksi direkayasa) untuk menciptakan realitas baru yang tidak berbeda dengan keadaan sebenarnya. 

Baca Juga:
Pemkot Surabaya Siapkan Rusunami Gen Z, Solusi Hunian Terjangkau Bagi Pasangan Muda

Misal, kata Tulus, seseorang bisa berubah dari tidak cinta bola menjadi penggemar fanatik bola, dari tidak suka masak tiba-tiba jadi koki, tidak suka K Pop tiba-tiba mengaku sebagai penggemar BTS atau BlackPink. 

Begitu pula dalam konteks politik. Seorang tokoh tiba-tiba berbicara ekonomi kerakyatan, berbicara keterbukaan dan demokrasi, pro pada pekerja dan buruh. 

"Apapun lah mulai dari beretorika manis sampai joget-joget  yang penting bisa masuk TikTok. Hasil konstruksi  ini akan diproduksi secara masif  dan akan dirangsang untuk masuk ke ruang pikiran dan ruang pribadi terutama Gen Z," ungkap Tulus, Minggu (4/6/2023). 

Tak terasa tahun politik tiba. Pemilu 2024 tinggal selangkah lagi. Gen Z menyumbang angka voters sangat besar. Maka, sangat disayangkan jika generasi ini tidak memiliki pengetahuan tentang latar belakang para calon pemimpin. 

Baca Juga:
Politik di Kota Probolinggo Tidak Rumit: Dekati, Dengar, Menang

Agar tidak salah memilih, maka perlu untuk lebih tahu politisi atau sepak terjang orang  tersebut. Tulus memberikan saran jitu.

Pertama, cek kontak media sosial mereka. Jika sulit bertemu dan berbicara secara langsung, minta untuk bertemu online, menggunakan teknologi live streaming. 

"Ayo kritis, jangan  sekedar  memantau  media sosialnya yang sudah dikonstruksi atau direkayasa oleh para  BuzzerRP dan SurePay," ajak Tulus. 

Tapi, tidak menutup kemungkinan ada politisi yang juga ekonom mudah untuk dikontak dan diajak bicara. Dia adalah Tokoh Nasional Dr Rizal Ramli. 

"Buat group lalu kontak yang bersangkutan, bilang saja, mau tahu bagaimana masa depan saya di negara tercinta ini 5, 10 bahkan 20 tahun kedepan. Dear Gen Z, coba kontak Bung Rizal Ramli  (RR) ke Twitter @RamliRizal kemudian  gunakan teknologi media baru yang kini semangkin canggih, berkembang pesat, jauh di atas teknologi flyaway voice yang digunakan CNN tahun 1991 untuk bersua dengannya," kata Tulus.

Tulus mengatakan, Rizal Ramli bukan penganut hiperealitas, hidupnya sederhana,  tidak mencerminkan pernah jadi orang penting.

"Dan kalau menjawab apa adanya tapi out of the box,  tapi kasih solusi untuk masa depan kamu," tuturnya. 

Hiperealitas Media 

Soal hiperealitas, Tulus juga mengurai fakta tentang perang Baghdad. Pada 2 Agustus 1990, Irak menginvasi Kuwait dan jadi headline berita utama atau istilah sekarang jadi viral.  

"Gen Z, waktu peristiwa ini berlangsung pasti belum lahir, karena generasi ini dihitung yang lahir sejak tahun 1997. Tapi mungkin peristiwa ini ada hubungannya dengan kehidupan mereka sekarang," tandasnya. 

Banyak media yang kemudian datang ke Irak untuk meliput peristiwa itu, salah satunya adalah CNN Atlanta Amerika.  

CNN dianggap media yang pertama kali menyiarkan berita selama 24 jam,  kurang tiga minggu dari invasi Irak.  

Lantai 9 hotel Al Rasheed di kota Baghdad menjadi markas CNN hingga kemudian menjadi satu-satunya saksi live serangan udara Amerika ke Irak 13 Februari 1991. Peristiwa ini kemudian dipopulerkan oleh CNN dengan nama Live from Baghdad - Desert Storm Operation.

Ada tiga orang jurnalis CNN yang live saat peristiwa penyerangan itu berlangsung, mereka adalah Bernard Shaw, John Holliman dan  Peter Arnett.  

Dua nama, Shaw dan Holliman adalah presenter berita CNN sedangkan Arnett adalah wartawan veteran perang  Vietnam yang kemudian masuk CNN.  

Bagaimana   mereka bisa menyiarkannya secara live? 

Produser CNN saat itu, Robert Wiener mendatangi kantor Kementerian Informasi Irak untuk bertemu dengan  direkturnya, Naji Al Hadithi.  

Wiener meminta izin pada Hadithi untuk memasang FlyAway, sebuah alat yang bisa melakukan layanan live jarak jauh. 

Saat itu layanan ini baru berupa voice atau suara saja, sedangkan sekarang  Gen Z menikmati  layanan ini menjadi media baru dengan internet lengkap gambar dan suara  yang tersaji dengan cepat dan jernih.

Saat serangan udara Amerika menghantam Baghdad, CNN melakukan live bom pertama dari pesawat  F 16 Jaguar dan F-18 Hornet yang menghantam kota Baghdad. 

Akibat live ini, semua saingan CNN baik itu TV,  koran, radio menyerah kalah. Di Indonesia juga, saat itu. Live from Baghdad  - Desert Storm Operation kemudian menjadi headline dan bahkan kemudian CNN dan media kemudian menjadikan sebuah  peristiwa perang menjadi berita  “hiburan”.

Ahli semiotik dari Prancis, Jean Baudrillard mengemukakan teori hiperrealitas media. Istilah hiperrealitas untuk menjelaskan adanya rekayasa makna di dalam suatu media. 

Saat itu, peristiwanya adalah Desert Storm Operation. Operasi Badai Gurun berupa serangan militer, sebuah peristiwa perang, banyak korban jiwa, kehancuran infrastruktur, kerusakan ekonomi, kehilangan dan lain-lain.

"Tapi kemudian media melakukan rekayasa konstruksi atas sebuah realitas di lapangan dengan Live from Baghdad  untuk konsumennya (penonton, pembaca dan pendengar)," kata Tulus. 

Hiperealitas itu ia sebut juga terjadi dalam dunia politik. Realitas kehidupan seseorang kemudian dikonstruksi direkayasa) untuk menciptakan realitas baru yang tidak berbeda dengan keadaan sebenarnya.(*)

Baca Sebelumnya

Sidoarjo Akan Punya Tiga Flyover Baru

Baca Selanjutnya

Tingkatkan Kualitas SDM, Pemkot Pagaralam Galakkan Gemarikan

Tags:

Dr Rizal Ramli Gen Z Tulus Sugiharto Pilpres pemilu 2024 Hiperealitas

Berita lainnya oleh Shinta Miranda

Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf

30 Oktober 2025 15:28

Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf

Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat

29 Oktober 2025 05:15

Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat

Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi

28 Oktober 2025 21:11

Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi

Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan

28 Oktober 2025 19:05

Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan

Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

28 Oktober 2025 18:57

Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

[FOTO] Ketika Spesialis Mall Bangun Rumah Sakit, Begini Tampilan Istimewa Siloam Hospitals Surabaya, Gak Ada Bau Obat!

27 Oktober 2025 16:00

[FOTO] Ketika Spesialis Mall Bangun Rumah Sakit, Begini Tampilan Istimewa Siloam Hospitals Surabaya, Gak Ada Bau Obat!

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar