KETIK, TULUNGAGUNG – Dalam melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat tali silaturahmi antar warga, Pemerintah Desa Tamban, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, menggelar pagelaran wayang kulit dalam rangka bersih desa, Sabtu malam 4 Juli 2026.
Acara sarat akan nilai tradisi dan gotong royong ini berpusat di area desa setempat dan berhasil menyedot antusiasme ratusan warga yang memadati lokasi sejak sore hari.
Malam penuh berkah ini menghadirkan lakon filosofis "Semar Bangun Desa" yang dibawakan secara apik oleh dalang kondang asal Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Ki Sun Gondrong. Suasana malam pembersihan desa tersebut semakin semarak dan penuh kehangatan berkat penampilan bintang tamu pelawak legendaris Jawa Timur, Duo Jo (Jo Klithik dan Jo Kluthuk).
Kemeriahan acara ini kian bermakna dengan hadirnya Penjabat (Plt.) Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, SM, MM. Turut hadir mendampingi jajaran anggota DPRD Kabupaten Tulungagung, jajaran Forkopimcam Pakel (Camat, Kapolsek, dan Danramil), Kepala Desa Tamban beserta seluruh jajaran perangkat, lembaga desa, para Ketua RT/RW, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.
Mengawali sambutannya, Kepala Desa Tamban Lamidi memanfaatkan momentum berharga ini untuk menyampaikan sejumlah capaian serta aspirasi strategis langsung di hadapan Plt. Bupati Tulungagung.
Baca Juga:
Bersih Desa Kelurahan Kartoharjo, Plt Wali Kota Madiun Komitmen Lestarikan BudayaSalah satu poin krusial yang disampaikan adalah permohonan dukungan Pemkab untuk pembangunan jembatan permanen yang menghubungkan Desa Tamban dan Desa Gamping.
"Saat ini, mobilitas warga bertumpu pada jembatan apung viral bernama "Tamping" (Tamban-Gamping). Jika jembatan permanen terealisasi, infrastruktur jembatan apung rencananya akan dialokasikan ke sisi selatan desa." ucap Lamidi.
Lebih lanjut Lamidi menjelaskan, selain jembatan, Pemdes Tamban juga mengharapkan peningkatan kualitas aspal jalan penghubung Duwet–Tamban, khususnya akses yang menuju ke area pondok pesantren.
Di samping mengajukan usulan, Kepala Desa Tamban juga melayangkan apresiasi dan rasa syukur mendalam atas berbagai stimulan pembangunan yang telah masuk ke desanya.
Baca Juga:
Kesakralan yang Terjaga, Plt. Bupati Hadiri Jamasan Tumbak Kanjeng Kyai Upas di Kanjengan Tulungagung"Mulai dari program irigasi P3-TGAI (aspirasi anggota DPR RI, Bapak Sarmuji), rencana rabat beton dari Dinas Pertanian yang siap direalisasikan pada bulan Agustus mendatang, hingga bantuan mesin diesel serta pompa air (irpom) yang sangat berdampak positif bagi sektor pertanian warga." pungkasnya.
Merespons dinamika tersebut, Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M, mengapresiasi kerukunan warga Desa Tamban yang tercermin lewat swadaya bersih desa ini. Menyelaraskan dengan lakon yang dibawakan oleh Ki Sun Gondrong, Ahmad Baharudin menegaskan bahwa hakikat figur "Semar" adalah repersentasi dari rakyat itu sendiri.
"Membangun desa tidak bisa dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri. Kita semua adalah Semar. Mari bersama-sama, bergotong-royong di bawah komando Kepala Desa, BPD, RT, dan RW untuk mewujudkan Tamban yang damai, rukun, guyub, dan aman," tutur Plt. Bupati dalam arahannya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek mental dan akhlak demi menjaga keharmonian di tengah perbedaan.
Ia juga menitipkan pesan penting agar masyarakat Desa Tamban senantiasa bijak menyaring informasi di media sosial, dan tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks yang dapat memicu kegaduhan.
"Mengenai usulan jalan dan jembatan, saya memastikan semua poin aspirasi telah dicatat secara resmi untuk ditindaklanjuti oleh dinas teknis terkait sesuai dengan mekanisme anggaran daerah." tegasnya Baharudin.
Hingga berita ini naikkan cetak kepublik, rangkaian pagelaran wayang kulit di Desa Tamban masih terus berlangsung dengan khidmat. Alunan gending Jawa dan riuh renyah banyolan Duo Jo terpantau masih setia menghibur ratusan warga yang bertahan menyaksikan malam refleksi budaya ini hingga purna.(*)