KETIK, MALANG – Pulanglah Dia Si Anak Hilang. Judul novel terjemahan karya Chairil Anwar ini tampaknya pas menggambarkan perjalanan Dr. H. Miftahul Huda, S.Hi., M.H. Setelah melanglang buana hingga ke berbagai penjuru Nusantara, ia akhirnya kembali untuk mengabdi di almamaternya, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Perjalanan Miftah, sapaan akrabnya, untuk menjadi dosen dimulai sejak duduk di bangku kuliah. Berawal dari kekaguman terhadap seorang dosen, mimpi itu perlahan tumbuh menjadi cita-cita yang terus diperjuangkan. Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian, ia tidak hanya berhasil menjadi dosen, tetapi juga kembali ke kampus tempat dahulu menimba ilmu untuk mengabdikan diri.

Miftah lulus dari Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyah pertama (sekarang Hukum Keluarga Islam) pada tahun 2001. Perjalanan akademik dan profesionalnya berawal dari kehidupan kampus yang diwarnai aktivitas organisasi dan kecintaan terhadap dunia jurnalistik.

Semasa kuliah, Miftah bukan tipe mahasiswa yang hanya datang ke kelas, mengikuti perkuliahan, lalu pulang. Aktivitas organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pria kelahiran Lamongan ini pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syariah, dan organisasi intra kampus di UAPM BEM. Keterlibatan tersebut memberinya banyak pelajaran tentang kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab.

Kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis dan jurnalistik juga tumbuh sejak masa kuliah. Bersama rekan-rekannya, ia menjadi salah satu inisiator lahirnya Tabloid SiNar, media mahasiswa yang kala itu menjadi satu-satunya tabloid di STAIN Malang. Tak sekadar terlibat, ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi.

Baca Juga:
Pimpin IKA UIN Malang 2026-2031, Hasanuddin Wahid Bawa Pengalaman Organisasi hingga Politik Nasional

Pengalaman mengelola media kampus Majalah INOVASI Unit Penerbitan Mahasiswa menjadi salah satu kenangan yang paling membekas. Menghidupkan media mahasiswa bukan perkara mudah. Dibutuhkan semangat, kreativitas, keberanian menyampaikan gagasan, serta kerja kolektif agar media dapat terus terbit dan dibaca.

Selain aktif di organisasi dan pers mahasiswa, Miftah juga menjalani magang di sejumlah media massa di Malang. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan dunia jurnalistik secara lebih nyata. Pria kelahiran 29 Oktober ini belajar mencari informasi, melakukan wawancara, menulis berita, hingga memahami dinamika kerja seorang jurnalis. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya.

Setelah menyelesaikan studi S1 di STAIN Malang, Miftahul Huda melanjutkan karier sebagai dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Malang (UNISMA). Salah satu mata kuliah yang diampunya adalah Ilmu Jurnalistik.

Di tengah kesibukan mengajar, ia melanjutkan pendidikan magister di Malang. Ia juga dipercaya menjadi pembina Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA/SMK di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Malang.

Baca Juga:
Resmi Dilantik, IKA UIN Malang Rilis Logo dengan Filosofi Mendalam

Baginya, mengajar jurnalistik bukan sekadar menyampaikan teori tentang berita, penulisan, dan media massa. Ia juga membagikan pengalaman pribadi tentang bagaimana dunia jurnalistik telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih kuliah.

Di balik perjalanan tersebut, ada satu cita-cita yang terus ia rawat: menjadi dosen sukses yang mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.

Keinginan itu telah tumbuh sejak masa kuliah. Ia masih mengingat sosok seorang dosen yang begitu dikaguminya. Baginya, dosen tersebut bukan sekadar pengajar, melainkan figur inspiratif yang menunjukkan bahwa seorang akademisi dapat dihormati karena ilmu, keteladanan, dan pengabdiannya.

Dari kekaguman itulah muncul tekad sederhana dalam hatinya: suatu saat nanti, ia ingin menjadi seperti dosen yang dikaguminya tersebut.

"Jika hari ini terasa sulit, jangan mundur Justru di titik itulah kisah terbaik dalam hidupmu sedang dimulai," pesannya 

Tekad itu terus dibawanya dalam perjalanan hidup. Setelah menjadi dosen di UNISMA, ia kemudian diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan mendapat penempatan tugas di luar Pulau Jawa.

"Saya ditugaskan di IAIN Fattahul Muluk Jayapura, Papua. Di sana, saya merintis dari awal berdirinya STAIN hingga menjadi IAIN sekarang sudah berkembang pesat, bahkan sampai berdiri program pascasarjana," tuturnya.

Pengabdian tersebut tentu bukan tanpa tantangan. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus menjalankan tugas jauh dari kampung halaman. Namun, pengalaman itu menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik dan profesionalnya.


Dr. H. Miftahul Huda, S.Hi., M.H. saat memberikan sambutan dalam sebuah acara di UIN Malang. (Foto: Miftahul Huda for Ketik.com)

Setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri. Setelah bertahun-tahun mengabdi di luar Jawa, kesempatan untuk kembali ke Malang akhirnya datang. Pada Oktober 2022, ia kembali ke kota yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kuliah sekaligus menjadi tempat bermulanya perjalanan akademik dan profesionalnya.

Kesempatan yang sebelumnya tak pernah benar-benar terbayangkan adalah kembali ke almamater tercinta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kampus yang dahulu menjadi tempatnya belajar, berorganisasi, mengembangkan minat jurnalistik, dan merajut cita-cita kini menjadi ruang untuk melanjutkan pengabdian.

Kembali ke almamater menghadirkan pengalaman sekaligus tanggung jawab yang berbeda. Jika dahulu ia datang sebagai mahasiswa yang penuh semangat mencari ilmu, kini ia kembali sebagai bagian dari sivitas akademika yang ikut bertanggung jawab membangun dan mengembangkan kampus.

Sebelum dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Syariah, Miftah telah menjalani sejumlah tugas kelembagaan di lingkungan UIN Malang. Ia pernah menjadi Ketua unit Family Corner Fakultas Syariah, kemudian dipercaya sebagai Ketua Admisi UIN Malang. Selanjutnya, ia mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Pengembangan Pesantren dan Kawasan UIN Malang.

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses panjang sebelum akhirnya ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Syariah, dengan tanggung jawab di bidang kemahasiswaan, alumni, dan kerja sama.

Posisi tersebut memiliki tantangan tersendiri. Bidang kemahasiswaan dan alumni bukan sekadar berkaitan dengan urusan administratif, tetapi juga menyangkut upaya membangun ruang tumbuh bagi mahasiswa, memperkuat hubungan dengan para lulusan, serta membuka jejaring kerja sama yang bermanfaat bagi pengembangan fakultas.

Ada lingkaran perjalanan yang terasa begitu bermakna. Dahulu, ia adalah mahasiswa yang aktif berorganisasi dan membangun media kampus. Kini, ia berada pada posisi yang memungkinkan dirinya mendorong lahirnya generasi mahasiswa yang kreatif, kritis, berprestasi, dan peduli terhadap lingkungan akademik.

Pengalaman sebagai aktivis pers mahasiswa dan jurnalis menjadi bekal yang tidak terpisahkan dari perjalanan tersebut. Ia memahami bahwa kehidupan kampus bukan hanya tentang perkuliahan, tetapi juga ruang aktualisasi, keberanian menyampaikan gagasan, dan kesempatan mengembangkan potensi diri.

Kisah ini menunjukkan bahwa perjalanan seseorang tidak selalu berjalan lurus sesuai rencana. Ada proses, penugasan, perpindahan, dan berbagai pengalaman yang terkadang membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Namun, mimpi yang dirawat dengan kesungguhan dapat menemukan jalannya sendiri. Kekaguman terhadap seorang dosen ketika masih menjadi mahasiswa, kecintaan pada dunia jurnalistik, hingga kesempatan kembali mengabdi di kampus tempat menimba ilmu menjadi rangkaian cerita yang saling terhubung.

Kini, kampus yang dahulu menjadi tempat merintis cita-cita telah menjadi ruang pengabdian. Dari mahasiswa STAIN Malang, aktivis pers kampus, jurnalis, kolumnis, motivator, hingga dosen dan pimpinan fakultas, perjalanan Miftahul Huda menjadi pengingat bahwa almamater bukan sekadar tempat seseorang pernah belajar. Lebih dari itu, almamater juga bisa menjadi rumah untuk kembali berbagi ilmu, pengalaman, dan pengabdian.

Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah meninggalkan tempat asalnya, tetapi juga tentang bagaimana ia kembali dan memberikan manfaat bagi tempat yang dahulu membentuk dirinya.

Perkuliahan boleh berakhir, kebersamaan boleh menjadi kenangan, tetapi ilmu dan keteladanan seorang dosen akan tetap hidup sepanjang zaman. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kami. Sebab, keberhasilan seorang murid tidak pernah sepenuhnya lahir dari usahanya sendiri, tetapi juga dari doa, ketulusan, dan bimbingan para gurunya.

"Kesuksesan bukan tentang seberapa tinggi posisi yang kita capai, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan. Teruslah belajar, berproses, dan jangan pernah lupa pada tempat yang telah membentuk perjalanan kita," pesannya.