Begini Alasan Kereta Api Tidak Bisa Berhenti Mendadak

Jurnalis: Wandi Ruswannur
Editor: Muhammad Faizin

6 Jan 2024 02:46

Headline

Thumbnail Begini Alasan Kereta Api Tidak Bisa Berhenti Mendadak
Ilustrasi perjalanan Kereta Api (Foto: PT KAI)

KETIK, BANDUNG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI pernah menjelaskan alasan yang menyebabkan kereta api tidak dapat berhenti mendadak secara tiba-tiba. 

Kecelakaan antara Kereta Api (KA) Turangga dengan commuterline (KRL) Bandung Raya diduga karena miskomunikasi. Kedua kereta api tersebut bertemu di jalur yang sama, yakni jalur tunggal di Cicalengka, Kabupaten Bandung (Jumat, 05/01/2024). 

Sebuah lokomotif kereta api memang tidak bisa berhenti mendadak. Dilansir dari rilis resmi PT KAI yang dimuat di media sosialnya beberapa waktu lalu, butuh waktu tertentu bagi sebuah lokomotif kereta api untuk bisa berhenti. 

Dalam siaran pers itu, PT Kereta Api Indonesia juga menjelaskan simulasi jarak yang dibutuhkan lokomotif untuk bisa berhenti dengan baik.

Baca Juga:
Tumbuh 16 Persen, KAI Daop 8 Surabaya Angkut 3.09 Penumpang Selama Triwulan I 2026

"Kereta api tidak dapat melakukan pengereman secara mendadak karena panjang dan bobot kereta. Semakin berat dan panjang rangkaian KA, maka jarak yang dibutuhkan untuk berhenti semakin panjang," unggah akun PT KAI yang dikutip media online nasional Ketik.co.id

PT KAI menyatakan, bahwa di Indonesia, rata-rata 1 rangkaian kereta penumpang terdiri dari 8 -12 gerbong kereta, dengan bobot mencapai 600 ton, belum termasuk penumpang dan barang bawaannya. 

"Artinya dengan kondisi tersebut, maka akan dibutuhkan energi yang besar untuk membuat rangkaian kereta api berhenti," tulisnya menerangkan dengan jelas dan lugas.

Selain itu, katanya sistem pengereman yang dipakai KA saat ini menggunakan jenis rem udara. Adapun, cara bekerjanya yaitu dengan mengompresi udara dan disimpan hingga proses pengereman terjadi.

Baca Juga:
Dukung UMKM, KAI Services Buka Peluang Pasarkan Produk UMKM di Kereta Api

"Walaupun kereta api telah dilengkapi dengan rem darurat, rem ini tetap tidak bisa berhenti mendadak. Rem ini hanya menghasilkan lebih banyak energi dan tekanan udara yang lebih besar untuk menghentikan kereta lebih cepat," tambahnya.

"Kemudian, ketika KA melakukan pengereman mendadak, akan ada risiko bahaya yang dapat terjadi. Pasalnya, dengan sistem pengereman tekanan udara, rem pada roda akan terhubung dengan piston dan susunan silinder," imbuhnya.

Dalam hal ini, KAI menerangkan juga bahwa perhitungan berikut ini adalah simulasi di wilayah Daerah Operasi 8 Surabaya. 

Perhitungan dapat berbeda tergantung faktor-faktor yang memengaruhi jarak pengereman, yaitu:
1. Jika kereta melaju 120 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 860 meter
2. Jika kereta melaju 110 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 750 meter
3. Jika kereta melaju 100 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 505 meter
4. Jika kereta melaju 90 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 480 meter
5. Jika kereta melaju 80 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 379 meter
6. Jika kereta melaju 70 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 336 meter
7. Jika kereta melaju 60 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 221 meter
8. Jika kereta melaju 50 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 157 meter
9. Jika kereta melaju 45 km/jam maka dapat berhenti setelah jarak 132 meter. (*) 

Baca Sebelumnya

Bupati LIRA Kabupaten Probolinggo Tak Tertarik Jadi Cawabup

Baca Selanjutnya

Viral Video Diduga Kampanye Tanpa Izin di Balai Desa, Bawaslu Sidoarjo Akan Panggil TKD Prabowo-Gibran

Tags:

ka turangga KA Bandung Raya Kereta Api Berhenti Mendadak KRL Bandung Raya Commuterline KAI Kecelakaan kereta api di Cicalengka KABUPATEN BANDUNG

Berita lainnya oleh Wandi Ruswannur

Komitmen Raih Zero Net Emission, KAI Terus Kebut Fasilitas Stasiun Ramah Lingkungan

4 Agustus 2024 06:05

Komitmen Raih Zero Net Emission, KAI Terus Kebut Fasilitas Stasiun Ramah Lingkungan

Atasi Masalah Kotoran Hewan, Mahasiswa KKNT Inovasi IPB Adakan Penyuluhan Pembuatan Pupuk Kompos

31 Juli 2024 00:05

Atasi Masalah Kotoran Hewan, Mahasiswa KKNT Inovasi IPB Adakan Penyuluhan Pembuatan Pupuk Kompos

Potret Kebersamaan Prajurit TNI Nobar Final Timnas Indonesia U-19 vs Thailand

30 Juli 2024 05:23

Potret Kebersamaan Prajurit TNI Nobar Final Timnas Indonesia U-19 vs Thailand

LRT Jabodebek Kenalkan Transportasi Massal kepada Anak-Anak Lewat Edutrain

29 Juli 2024 05:52

LRT Jabodebek Kenalkan Transportasi Massal kepada Anak-Anak Lewat Edutrain

Resep Mudah Membuat Sate Jamur, Lezat!

28 Juli 2024 01:17

Resep Mudah Membuat Sate Jamur, Lezat!

Roadshow Bus KPK, Pemkab Cianjur Gelar Lomba Cerdas Cermat hingga Diskusi Anti Korupsi

27 Juli 2024 10:45

Roadshow Bus KPK, Pemkab Cianjur Gelar Lomba Cerdas Cermat hingga Diskusi Anti Korupsi

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H