KETIK, MALANG – Semesta Buku menghadirkan kegiatan bedah buku berjudul "Menuai Badai" karya Juli Sastrawan pada Sabtu, 10 Oktober 2026 di Taman Krida Budaya Malang. Novel ini mengangkat kisah seorang jagal di Bali.
Kegiatan Semesta Buku yang digelar oleh Gramedia bukan hanya menghadirkan diskon pada koleksi buku-buku, tetapi juga meningkatkan literasi dengan acara menarik seperti bedah buku yang langsung dijelaskan oleh sang penulis. Kegiatan ini menjadi momen seru bagi pecinta buku.
Dalam bedah buku ini, Juli Sastrawan menjelaskan bahwa buku karyanya yang berjudul "Menuai Badai" menceritakan tentang petualangan Kandar, seorang mantan jagal dalam mengumpulkan tengkorak-tengkorak yang dulunya ia bunuh. Tujuannya sendiri adalah untuk menciptakan kedamaian pada dirinya dan terbebas dari rasa bersalah.
Dengan seting pada tahun 1965 dan 2015, Juli Sastrawan mengangkat sejarah di mana Indonesia tengah dipenuhi dengan kejadian, khususnya di Pulau Bali.
Baca Juga:
Semesta Buku Hadir di Taman Krida Budaya Malang, Berikan Diskon Besar-Besaran hingga 90%"Aku pikir ada banyak sekali cerita soal 65 dan tadi juga ngobrol sama mas-mas yang melakukan penelitian soal novel-novel yang berlatar belakang 1965, ada banyak sekali kejadian dan aku merasa tidak banyak yang mengambil POV seorang jagal, apalagi di konteks Bali," ujar Juli Sastrawan.
Sehingga, ia menciptakan karya untuk menjadi media mengingat sesuatu yang ia percaya untuk diingat. Tentunya kehadiran novel "Menuai Badai" bisa menunjukkan pada pembaca bahwa sejarah perlu diingat sebagai pelajaran ataupun pesan untuk masa depan yang lebih baik.
Ia juga menjelaskan judul "Menuai Badai" diambil dari frasa "Siapa Menabur Angin, Ia Menua Badai" yang memiliki makna bahwa menuai badai berhubungan dengan karmapala, satu hasil perbuatan, buah dari perbuatan yang pernah dilakukan dahulu.
"Jadi menuai badai itu aku ambil sebagai satu hasil dari apa yang memang dia lakukan, karakter di dalam novelku ini lakukan sewaktu dia muda dulu dan dia tua sekarang, sebelum dia meninggal atau waktu dia tua," jelas Juli Sastrawan.
Baca Juga:
Bedah Buku “Irian Barat”, UM Bahas Sejarah Papua dalam Pusaran Politik GlobalJuli Sastrawan mengungkapkan bahwa ia telah menulis novel "Menuai Badai" sejak tahun 2021. Ia juga membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melakukan riset dan mencari materi sejak tahun 2022 hingga 2025. Selain itu, ia juga memakan waktu 8 bulan untuk menulis novel ini.
Ia juga berpesan kepada pembaca novelnya untuk selalu menjaga ingatan, bukan hanya mengingat sebuah narasi yang bisa diubah, tapi sejarah yang memang terjadi dan menjadi sebuah ingatan yang harus terus dijaga.
"Aku pikir kita mesti merawat ingatan, apa yang kita bisa lakukan seminimal mungkin untuk merawat ingatan itu. Sehingga kita memang memilih ingatan yang memang kita mau ingat, bukan yang seperti pesanan atau narasi yang kerap diubah, sejarah yang kerap diubah," pesan sang penulis novel "Menuai Badai".(*)