KETIK, SURABAYA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya berhasil melakukan terobosan dalam pengolahan potensi lokal di Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.

Melalui serangkaian uji coba dan kolaborasi intensif, mereka mengubah kentang hitam yang sebelumnya kurang diminati menjadi lima varian makanan bernilai gizi tinggi. Inisiatif ini bermula dari observasi mendalam tim KKN terhadap pola konsumsi masyarakat.

Kepala Desa Begal, Yusuf Setyono, mengungkapkan bahwa selama ini kentang hitam hanya dianggap sebagai camilan pagi dan sore oleh kalangan lansia. Rasa yang cenderung pahit dan tekstur yang berbeda dari kentang biasa menjadi penghambat utama minat generasi muda untuk mengonsumsinya.

"Karena di Desa Begal itu hanya dimakan sebagai camilan pagi dan sore, serta peminatnya hanya lansia karena rasanya tidak seperti kentang biasa dan agak pahit," ujar Yusuf.

Dokumentasi hasil dari 5 olahan kentang hitam. (Desain: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

Baca Juga:
Mahasiswa KKN UB PSDKU Kediri Latih Warga Desa Bono Budidaya Ikan dalam Ember untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Menyikapi tantangan tersebut, tim KKN tidak langsung melompat pada produk akhir. Proses inovasi dimulai secara bertahap. Pada Selasa 30 Juni 2026, dalam kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), mahasiswa memperkenalkan dua resep perintis: donat kentang hitam dan kentang crispy. Uji coba awal ini bertujuan untuk membiasakan lidah masyarakat dengan olahan kentang hitam yang lebih modern dan renyah.

Respons positif dari warga dalam kegiatan PMT tersebut membuka jalan bagi tahap selanjutnya. Tim ahli gizi yang mendampingi program KKN memberikan saran strategis agar olahan tidak berhenti pada sekadar camilan, tetapi berkembang menjadi menu utama yang kaya nutrisi. Saran ini ditindaklanjuti dengan penyusunan konsep buku menu yang komprehensif.

Mulai Senin, 6 Juli 2026, tim memulai fase pengujian resep selama satu minggu penuh. Dalam periode ini, mahasiswa berkolaborasi erat dengan ahli gizi untuk merancang formulasi yang mampu menetralisir rasa pahit alami kentang hitam sambil memaksimalkan kandungan nutrisinya. Hasil dari proses riset dan uji coba tersebut melahirkan lima produk unggulan: ekado, nugget, kroket, pangsit, dan potato cheese ball.

Kelima menu ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi kelompok rentan, termasuk balita, ibu hamil, dan lansia. Setiap resep telah melalui perhitungan nilai gizi yang cermat untuk memastikan keamanan dan manfaat kesehatan bagi konsumen.

Baca Juga:
Mahasiswa UINSA Gelar Demonstrasi, Minta Pemilihan Rektor Transparan

Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat kentang hitam merupakan komoditas umbi-umbian khas Ngawi. Inovasi ini berpotensi meningkatkan nilai ekonomi tanaman lokal sekaligus memperbaiki status gizi masyarakat. Diharapkan, persepsi terhadap kentang hitam dapat bergeser dari camilan terbatas menjadi sumber pangan bergizi yang diterima oleh seluruh lapisan usia.

Output utama dari kegiatan ini bukan hanya berupa produk fisik, melainkan juga sebuah buku resep modifikasi kentang hitam. Buku ini akan diserahkan kepada perangkat desa dan kader kesehatan sebagai panduan berkelanjutan bagi warga Desa Begal. Dengan adanya dokumentasi resep yang terstandarisasi, diharapkan masyarakat dapat terus memproduksi olahan kentang hitam yang variatif tanpa bergantung pada pendampingan mahasiswa.(*)