KETIK, BATU – Tradisi Njenang Suro kembali mewarnai Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Kamis, 25 Juni 2026.
Dalam peringatan yang digelar di Rest Area Desa Bumiaji tersebut, Wali Kota Batu, Nurochman, mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus memperkuat rasa syukur atas hasil bumi yang menjadi penopang kehidupan warga.
Kegiatan yang rutin digelar setiap memasuki bulan Suro itu menjadi wujud ungkapan syukur masyarakat sekaligus upaya melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Nurochman pun hadir dan membaur bersama warga mengikuti rangkaian tradisi tersebut.
Wali Kota yang akrab disapa Cak Nur itu menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Bumiaji beserta seluruh masyarakat yang terus menjaga eksistensi Njenang Suro di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya mempertahankan budaya lokal, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan identitas masyarakat Kota Batu.
Baca Juga:
Pemkot Batu Siapkan Subsidi Listrik bagi 922 Rumah Ibadah, Nominal Masih DibahasIa menilai tema “Hametri Bumi Kang Aji” yang diangkat pada penyelenggaraan tahun ini memiliki makna yang mendalam. Tema tersebut mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan, kepedulian terhadap kelestarian alam, serta komitmen menjaga kesuburan tanah sebagai sumber kehidupan masyarakat.
“Tema yang diangkat tahun ini memiliki makna yang sangat baik. Semoga Desa Bumiaji senantiasa diberikan kemakmuran, masyarakatnya selalu diberi kesehatan, dan tanahnya tetap subur sehingga apa pun yang ditanam dapat menjadi penguat perekonomian warga,” ujarnya.
Selain mengikuti prosesi adat, Wali Kota juga mengapresiasi berbagai kreativitas yang ditampilkan masyarakat, mulai dari sajian kuliner tradisional hingga busana yang merepresentasikan kehidupan para petani.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menjaga akar budaya meski berada di tengah perkembangan zaman.
Baca Juga:
Penolakan Pengeboran Air di Desa Sumberbrantas Kota Batu, Petani Ungkap Fakta BerbedaCak Nur menegaskan bahwa Njenang Suro memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar agenda seremonial tahunan. Tradisi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.
“Njenang Suro bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa budaya lokal adalah warisan yang harus terus dirawat. Selain itu, kegiatan seperti ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat,” katanya.
Ia berharap tradisi yang hidup di tengah masyarakat dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, keberlangsungan budaya lokal merupakan bagian penting dalam menjaga jati diri daerah agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.