KETIK, GRESIK – Di sudut Desa Slempit, Kecamatan Kedamean di Kabupaten Gresik, terlihat prajurit TNI bersama warga memindahkan batu demi batu, meratakan jalan yang akan di aspal.
Di antara hiruk pikuk pekerjaan itu, berdiri seorang ibu berusia lanjut bernama Supiah berjalan dengan langkah yang ta sekuat dulu lagi.
Ia mengayuh sepedanya melintasi sekumpulan prajurit dan warga sambil menjajakan jualannya.
Di tangannya, tergenggam dagangan sederhana yang biasa ia jajakan dari dusun ke dusun, keluar masuk kampung. Setiap hari, nenek berusia 66 tahun itu harus melewati jalan kasar, licin saat hujan, dan penuh risiko bagi tubuh renta sepertinya.
Namun hari itu, Selasa, 5 Mei 2016, matanya tak lagi memandang jalan dengan keluhan. Ia justru terdiam, menyaksikan prajurit TNI dan warga bergotong royong memperbaiki harapan yang selama ini seakan terpendam.
Baca Juga:
Rayakan Kelulusan, Siswa SMK PGRI 1 Gresik Bagikan Sembako ke 200 Warga"Alhamdulillah… akhirnya jalan ini diperbaiki,” kata Supiah dengan suara bergetar menahan haru.
Ia mengaku tiap hari melalui jalan-jalan dusun dan desa. Jalan rusak selalu ia temui. Kini, ia sangat bangga sebagai warga Slempit karena akan merasakan jalan beraspal.
“Saya sudah lama lewat sini, sering jatuh, sering capek. Tapi sekarang dan akan datang rasanya tidak karena jalan sudah halus," ujar Supiah sembari menyeka keringatnya.
Baca Juga:
Tawa Bocah-Bocah Desa dan Hangatnya Kebersamaan Satgas TMMD 128 GresikSementara itu, kegiatan pengaspalan yang dilakukan pada program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 128 Gresik merupakan salah stau program fisik berupa pengaspalan jalan sepanjang kurang lebih 150 meter hingga 200 meter dengan lebar 6 meter.
Nenek Supiah mengusap matanya yang berkaca-kaca dengan ujung kerudungnya, lalu menatap para prajurit yang masih sibuk bekerja tanpa henti.
“Terima kasih Pak Tentara, terima kasih sudah peduli dengan kami orang kecil,” kata nenek itu.
Bagi sebagian orang, jalan mungkin hanya sekadar akses. Namun bagi Nenek Supiah, jalan adalah urat nadi kehidupan, tempat ia menggantungkan harapan, menyambung nafkah dan bertahan hidup di usia senjanya. (*)