‎‎Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin masif. Teknologi tersebut kini digunakan hampir di semua bidang dan oleh berbagai kalangan, termasuk wartawan.‎

‎Dalam dunia jurnalistik, kehadiran AI tentu membawa banyak kemudahan. Menyusun tulisan, merapikan kalimat, mencari referensi, hingga melengkapi data dan fakta dapat dilakukan lebih cepat. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu seharian kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

‎Namun, satu hal yang tidak boleh diupakan, AI adalah mesin dan ia tak punya hati.

‎Ia dapat mengolah data, menyusun kalimat, mengenali pola. Tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup, perasaan, intuisi, dan kepekaan manusia. Karena itu, sehebat apa pun perkembangannya, AI tidak bisa menggantikan peran wartawan secara utuh.

Sebaliknya, wartawan juga tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada AI. Jika hal tersebut terus terjadi, profesi wartawan tak akan lagi istimewa. Duplikasi profesi yang terus-menerus tanpa pemahaman terhadap kode etik jurnalistik akan membuat profesi wartawan tak lagi berharga dan dihormati.

Baca Juga:
KOWANI dan Dewan Pers RI Perkuat Kemitraan Strategis, Literasi Media hingga Kepemimpinan Perempuan Jadi Fokus Utama

‎Saat ini banyak teks berita beredar dibuat sepenuhnya oleh mesin. Tulisan terasa hambar, kehilangan makna dan membosankan untuk dibaca. Produk jurnalistik imitasi yang kehilangan  sentuhan manusia lambat laun akan ditinggalkan.

‎Berita yang dihasilkan AI memang  rapi secara struktur, benar secara tata bahasa. Namun tak melalui pemahaman dan penghayatan wartawan yang menulisnya. 

‎Ia  kehilangan karakter atau ciri khas penulis. Dan lebih parah lagi tulisan yang dihasilkan sama sekali tidak mencerminakn intelektualitas wartawan yang menulisnya. Tulisan kehilangan nyawa dan tak mencerminkan kejujuran.

‎Menjadi wartawan tak semudah membalik telapak tangan. Dan Jurnalisme bukan sekadar kegiatan merangkai kata.

Baca Juga:
Di Tengah Gelombang AI, Masih Relevankah Pendidikan Tinggi Perikanan dan Kelautan?

‎Di balik sebuah berita terdapat manusia, peristiwa, konflik, harapan, kesedihan, dan berbagai realitas kehidupan. 

‎Wartawan bukan hanya bertugas memindahkan fakta ke dalam paragraf. Wartawan juga harus mampu menangkap konteks, memahami situasi, membaca keadaan, dan menghadirkan realitas tersebut kepada pembaca dengan cara yang hidup.

‎Di sinilah letak perbedaan antara tulisan yang dibuat oleh AI dengan tulisan jurnalistik yang dibuat oleh manusia.

‎Penggunaan AI untuk membantu pekerjaan wartawan tentu bukan hal tabu. AI dapat digunakan untuk melengkapi data, mencari informasi pembanding, memeriksa ejaan, merapikan struktur kalimat, atau membantu pekerjaan teknis lainnya.

‎Tetapi ketika seluruh proses berpikir, menggali informasi, memahami peristiwa, hingga menulis berita diserahkan kepada AI, maka hancurlah identitas seorang wartawan.

‎Wartawan profesional harus hadir di dalam setiap berita yang ditulisnya.

‎Kehadiran tersebut bukan berarti wartawan harus memasukkan opini pribadi ke dalam berita.‎

‎Wartawan wajib memahami sepenuhnya fakta yang ditulis, mengetahui konteks peristiwa, dan memastikan setiap informasi yang disampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

‎Dengan kata lain, Wartawan harus memahami apa yang ia tulis sebelum meminta pembaca memahaminya.

‎Sebab, berita yang baik bukan hanya berita yang membuat pembaca tahu. Berita yang baik juga mampu membuat pembaca memahami mengapa sebuah peristiwa penting untuk diketahui.

‎Ada semacam sambung rasa antara yang terbangun anatara wartawan dan pembaca. Wartawan mengalami, melihat, mendengar, menggali, kemudian menerjemahkan realitas ke dalam tulisan. Pembaca lalu menangkap realitas tersebut melalui tulisan itu.

‎Sambung rasa semacam itu tidak dapat diciptakan oleh mesin.

‎AI mungkin mampu menulis berita dalam hitungan detik. Tetapi ia tak punya pengalaman. Ia tak pernah berdiri di tengah hujan ketika meliput berita. Ia tidak pernah mewawancarai narasumber. Ia tidak merasakan tekanan ketika harus memastikan sebuah informasi benar sebelum dipublikasikan.

‎Semua pengalaman itulah yang membentuk kepekaan seorang wartawan.

‎Karena itu, persoalan sebenarnya bukan apakah wartawan boleh menggunakan AI atau tidak. Persoalannya adalah bagaimana wartawan menggunakan AI tanpa kehilangan jati dirinya.

‎AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti wartawan.

‎Teknologi boleh semakin canggih. Mesin boleh semakin pintar. Tetapi, selama jurnalisme masih berbicara tentang manusia dan kehidupan manusia, wartawan akan tetap dibutuhkan. Tulisannya akan tetap dibaca. Dengan catatan, selama ia menggunakan sesuatu yang tidak dimiliki mesin dalam tulisannya, yaitu perasaan manusia. (*)

*) Wawan Saputra adalah Wartawan Ketik.com di Pasaman Barat.