KETIK, BLITAR – Ada momen ketika seorang pemimpin memilih tidak melangkah maju, justru demi memastikan perjalanan organisasi tetap panjang. Di titik itu, Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Blitar, Agus Zunaidi, mengambil sikap, tidak bersedia dicalonkan kembali.
Keputusan itu seperti saat disampaikan Agus dalam rangkaian Musyawarah Cabang (Muscab) X PPP Kota Blitar yang digelar Minggu 19 April 2026. Ia menegaskan, langkah tersebut bukan karena lelah, melainkan bagian dari kesadaran untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya.
“Saya tidak ingin dicalonkan lagi. Tiga periode sudah cukup. Sekarang waktunya kader lain, terutama yang lebih muda, mengambil peran,” ucapnya, Senin 20 April 2026.
Nada bicaranya tenang, tapi pesannya jelas, kepemimpinan bukan tentang bertahan, melainkan tahu kapan harus memberi ruang.
Baca Juga:
PPP Kota Blitar Gelar Muscab X, Regenerasi Didorong dan Target 6 Kursi 2029 DigaungkanAgus menyebut, regenerasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda jika PPP ingin tetap relevan di tengah dinamika politik yang terus berubah. Menurutnya, organisasi yang sehat adalah yang mampu melahirkan pemimpin baru tanpa harus kehilangan arah.
“Partai harus terus bergerak. Harus ada penyegaran, tapi nilai-nilai perjuangan tetap dijaga. Itu yang penting,” katanya.
Dalam Muscab X ini, PPP Kota Blitar memang belum menetapkan ketua definitif. Forum masih berada pada tahap pembentukan tim formatur yang nantinya akan menyusun struktur kepengurusan baru, termasuk menentukan figur ketua.
“Tahapannya masih formatur. Dari situ nanti akan mengerucut. Insya Allah arahnya ke Pak Nuhan,” ujar Agus.
Baca Juga:
Kopassus Rayakan HUT ke-74 di Blitar, Tegaskan Peran “Garda Senyap” Jaga NKRITiga nama yang masuk dalam tim formatur adalah Nuhan Eko Wahyudi dari unsur DPC, Buchori Muslim selaku Ketua PAC Sukorejo, serta Wawan dari Ketua PAC Sananwetan. Mereka diberi mandat untuk merumuskan komposisi kepengurusan baru secara kolektif.
Hasil kerja tim formatur tersebut selanjutnya akan diajukan ke DPW dan DPP PPP untuk mendapatkan pengesahan, sesuai mekanisme organisasi yang diatur dalam AD/ART partai.
Agus menegaskan, proses ini bukan sekadar prosedur formal, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan internal partai.
“Kita ingin semuanya berjalan melalui musyawarah. Tidak ada yang ditentukan secara sepihak. Ini soal kebersamaan,” tegasnya.
Di tengah keputusan untuk menepi, Agus tetap menyimpan harapan besar. Ia ingin PPP Kota Blitar tampil lebih solid, lebih dekat dengan masyarakat, dan lebih siap menghadapi kontestasi politik, terutama Pemilu 2029.
“Siapapun nanti yang memimpin, harapannya bisa membawa PPP lebih kuat. Karena pada akhirnya, partai ini harus hadir untuk umat dan masyarakat,” pungkasnya.
Di antara riuhnya dinamika politik, langkah mundur Agus Zunaidi terasa seperti jeda yang tenang bukan akhir, melainkan ruang agar estafet kepemimpinan terus berdenyut, pelan tapi pasti, menuju masa depan.